Lebaran kali ini adalah lebaran yang sangat special buatku.
Ini pertama kalinya saya coba menikmati lebaran tanpa keluar kota dan tanpa asisten rumah tangga.
Setelah ikut bermeditasi sekian lama, ada sesuatu yang berubah di dalam batin ini. Ingin rasanya mencoba sesuatu yang berbeda.
Teman teman saya mungkin berpikiran ada yang aneh dengan diriku. Dan orang yang paling mencurigaiku adalah mamaku.
Mamaku mengetahui banget betapa tidak mandiri anaknya. Dari jauh hari sebelum lebaran, mamaku sudah mempertanyakan "bagaimana anda bisa melewati lebaran tanpa infal?"
Jelas mamaku salah besar.
Sesuatu yang dijalanin dengan bahagia dan dinikmati prosesnya, rasanya akan berbeda.
Ada rasa puas dan bahagia di sana.
Kuputuskan beli sapu baru, dan peralatan baru untuk bersih bersih.
Tanpa kusadari, jiwa babuku keluar. Setiap sudut rumah saya perhatiin, padahal selama ada pembantu, saya cuek saja.
Anak saya sampe terheran-heran "mami lagi ngapain? "Kujawab sambil bercanda, "lagi mencoba mainan baru."
Entah sejak kapan, saya mulai menikmati proses seperti ini. Semua kujalani dengan mindfull.
Sambil bekerja sambil kuingat terus ajaran ven Ajahn chah
"Janganlah membersihkan piring-piring seperti seorang ibu rumah tangga yang terlalu serius. Hanya berfokus pada kotoran yang melekat di luar, sehingga tidak menyadari jika pikiran sendiri penuh dengan kotoran."
Kutipan diatas menyadarkan saya, untuk tidak membersihkan piring dan lantai kotor hanya sekedar membersihkan, tapi haruslah sambil membersihkan batin saya.
Semua kulakukan dengan mindfull.
Kotoran di luar memang sangat mengganggu. Tapi, sesungguhnya yang benar-benar mengganggu adalah kekotoran pikiran kita sendiri. Untuk itulah, mari kita membersihkan kotoran yang kasat mata, sembari mencuci kekotoran batin kita yang tidak kelihatan.
Terima kasih buat semua guru meditasi yang telah mengajariku buat mindfull. Saya terasa seperti terlahir kembali. Meski fisik lelah tapi batin bahagia.
Di hari yang fitri ini, saya mendapatkan sebuah pelajaran baru. Bahwa memaafkan seyogyanya dimulai dari diri kita sendiri. Memohon maaf bukan hanya sekadar ketikan pada medsos saja. Ia harus tulus berasal dari hati terdalam.
Selamat Idul Fitri, seluruh sahabatku
Minal Aidiin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin saya ucapkan dengan segenap perhatian penuh.
**
Jakarta 02 Mei 2022
Penulis: Lisa Tunas untuk Grup Penulis Mettasik
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI