Dalam Buddhis dikenal sebagai Metta, Karuna, Mudita dan Upekha. Jika ingin menjadi orang yang berbahagia, maka jangan banyak mengambil, namun banyaklah memberi.Â
Tujuan mulia dari pemberian adalah mengurangi kemelekatan. Dalam persamaan sederhana, ada input pasti ada output.
Dalam contoh sederhana, apapun yang kita makan (input), pasti membutuhkan output. Jika tidak, menderita rasanya. Kalau sudah keluar, wah leganya bukan main. Pernah rasakan BAB bukan? Maknyus rasanya.
Begitu pula dalam kehidupan. Ada input, ada pula output. Sudah tertera pada hukum alam. Ini juga ada efek lanjutannya.
Output yang kita lepaskan, akan menjadi input bagi penerima. Perasaan Bahagia pada saat kita melepaskan, telah bertransformasi menjadi kebahagiaan bagi sang penerima.
Pembaca yang budiman, bahagia itu menular.
Awalnya mungkin susah. Tapi, bayangkanlah situasi saat perasaan lega, senang, terharu, bercampur aduk menjadi satu.
Tentunya harus didukung dengan kebiasaan dan persepsi. Oleh sebab itu merelakan itu perlu. Lakukanlah sesering mungkin. Kebiasaan yang tercipta, akan lebih sering menjadikanmu sebagai manusia yang berbahagia.
Jika tidak punya materi untuk berbagi, maka optimalkan saja sumber yang kita miliki. Bisa berbagi senyuman, tenaga, perhatian, permintaan maaf dan lainnya. Namun tidak di anjurkan berbagi pasangan ya teman teman.
Hal hal yang menentukan output yang baik adalah:
- Motif si pemberi (sebelum, pada saat dan setelah memberi. Perasaan Bahagia harus menyerta).
- Kemurnian spiritual si penerima (semakin memahami arti merelakan, maka akan semakin besar manfaat kebajikan yang diterima)
Pemberian / berdana adalah kebajikan awal yang bisa kita lakukan. Setelah itu tingkatkan dengan melaksanakan moralitas yang benar, pengembangan batin sehingga timbullah kebijaksanaan.