"Pasar Baru sekarang tidak ada apa-apa."
Tetiba istri saya menggumam ketika sedang mengenang masa kuliah. Sayapun larut dalam kenangan. Menyetujui apa yang ada dalam ungkapan.
Saat itu sekitar pertengahan tahun delapan puluhan. Setiap kali ingin beli pakaian, Pasar Baru Jakarta adalah tempatnya. Maklum, belum ada mal, pasar Baru selalu ramai. Apalagi menjelang lebaran, tak terbayangkan penuhnya.
Waktu itu, saya hanya dapat beli sehelai baju atau celana. Setiap toko dimasuki, dicari yang bagus, model yang paling cocok dan tentu saja yang termurah.
Jika belum ada yang ditemukan, balik lagi. Mulai dari toko yang pertama, hingga mata berjodoh dengan hati. Biasanya akan ketemu dengan sendirinya.
Setelah 10 tahun berlalu, kami sempat ke Pasar Baru lagi. Tapi, semuanya sudah berubah. Pakaian yang dicari tidak ada yang cocok. Model juga tidak sesuai umur. Tidak pas untuk kami yang sudah bekerja.
"Pasar Baru sekarang tidak ada apa-apa."
Tetiba istri saya membantah. Pasar Baru ternyata masih ada. Menurutnya Pasar Baru sekarang telah berubah. Bukan lagi pakaian jadi, tapi bahannya.
Penjual pakaian telah berubah menjadi tempat menjual bahan pakaian. Saya pun larut dalam kenangan. Berselisih pendapat terhadap apa yang ada dalam ungkapan.
"Pasar Baru sekarang tidak ada apa-apa, Kosong."