Zakir Naik mengkritik kekristenan berdasarkan pandangan kristis dari teolog kristen liberal. Dan dia memandang karya kritis itu secara final. Berdasarkan pandangan sianu bahwa Yesus Kristus itu tidak bangkit pada hari yang ketiga. Dengan demikian keyakinan kristen terhadap Yesus yang bangkit itu keliru.
Tapi Zakir Naik memandang Al Quran secara absolut. Bahwa Al Quran steril dari upaya untuk membedah dari sudut pandang ilmu sejarah obyektive. Disinilah letak kemenangan Zakir. Dia "memakai" argumentasi kritis dari pihak lain, tapi tidak mau memandang secara kritis dari pihaknya sendiri.
Jika dia memandang Alquran secara absolut, maka dia juga harus memandang alkitab secara absolut juga. Dan dalam hal absolutisme kebenaran agama, saya pikir dia tidak akan mampu melawan claim absolutisme kebenaran agama kristen puritan.
Maka itu Zakir Naik juga berseberangan dengan banyak teolog Muslim yang menggunakan ilmu pengetahuan obyektive dalam memandang kitab sucinya, sejarahnya, juga dalam memandang masyarakat, alam semesta yang terbuka dan dinamis.
Zakir Naik tidak suka akan dialog antar agama. Zakir seorang yang monolog. Orang harus mendengar kebenaran dari versinya, sementara dia tidak mau mendengar "kemungkinan" ada kebenaran dari pihak yang lain.
Menurut saya teologi Zakir Naik yang apolegetis dan triumvalism itu, tidak relevan dengan konteks masyarakat Indonesia yang plural. Retorikanya mengancam keragaman dan tenun kebangsaan kita.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI