Namanya Desa Kuluan. Dahulu, orang susah mencari dimana lokasi desa ini. Maklumlah, di pelosok. Namun berkat satelit dan aplikasi teknologi informasi, orang bisa dengan mudah menemukan dimana Desa Kuluan itu.
Desa Kuluan dengan ibukota Non ini memiliki 3 dusun, yaitu Dusun Fatunapi, Dusun Oemanu, dan Dusun Oetfoh. Masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Biboki Feotleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi NTT.
Kuluan adalah desa paling pelosok dari 4 desa lain yang ada di Biboki Feotleu. Memerlukan perjuangan untuk mencapai lokasinya, apalagi si musim hujan seperti ini.
Saat ini, Desa Kuluan dipimpin oleh seorang kades muda jebolan Universitas Timor (Unimor) Kefamenanu, Yosef Dupe, S.Pd. Ia didukung pula oleh aparatnya yang muda, dengan jenjang pendidikan antara SMA dan sarjana Strata satu (S1).
Untuk mencapai lokasi ini, bisa melewati dua jalan. Jalur Bes'asu Desa Makun yang merupakan ibukota kecamatan, dan jalur Manenu Biboki Selatan.Â
Akses Jalan Rusak Parah
Kedua jalur tersebut sama sulit. Jalannya becek, berlubang dan terlihat genangan yang bisa menjebak para pengendara sepeda motor.Â
Parahnya lagi, di musim hujan seperti ini jalan raya terkikis habis oleh air hujan. Pengendara sepeda motor harus berhati-hati. Salah gerakan, masuk dalam parit di kiri dan kanan jalan raya.
Hanya pengendara kendaraan yang sudah terbiasa yang mampu dan berani mengendarai motor atau kendaraan roda 4 ke Kuluan. Kalau baru, lebih baik tidak usah.
Bisa merental sepeda motor atau pick ul asli dari Kuluan. Tetapi bersiaplah, sewaktu-waktu harus turun dan jalan kaki. Bahkan ikut mendorong kendaraan agar bisa keluar dari jebakan.
Kampung Pencetak Pemikir dan Pejuang
Sekalipun berada di pelosok, Â warga Desa Luluan berlomba-lomba untuk mengirim anak-anak mereka bersekolah di luar. Ya, sampai jenjang dimana orang tua sanggup.Â
Bahkan saat ini, sudah ada dua doktor  asli Desa Kuluan yang masih berprofesi sebagai dosen di Pulau Jawa (Dr. Dominikus Tulasi dan Dr. Daniel Tulasi). Selain itu, ada beberapa dosen yang mengajar di NTT yang adalah asli orang Kuluan seperti alm. Sirilius Nafanu.
Hanya ada 1 SD di Kuluan, namanya SDK Yaperna Non. Selepas SD ini, anak-anak sudah harus dikirim bersekolah di luar desa.Â
Sekolah SMP terdekat adanya di ibukota kecamatan. Dulunya minimsl ke SMP yang ada di Lurasik, ibukota Kecamatan Biboki Utara.
Jadi anak-anak seusia SMP susah harus hidup mandiri. Tinggal di asrama yang memprihantinkan atau bersama sanak family.
Semangat untuk bersekolah dengan dukungan ekonomi orang tua yang serba kekurangan, ternyata membentuk mental juang anak-anak.
Anak-anak kini telah banyak mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Tersebar di Unimor Kefamenanu, Undana dan Unwira Kupang, dan kampus lain. Bahkan ada yang menempuh pendidikan di luar NTT.
Anak-anak Kuluan yang hidup dari tempaan alam Kuluan yang keras, ternyata berkembang menjadi petarung yang pantang menyerah. Mereka tetap berjuang, sekalipun harus merantau dari usia belasan tahun.Â
Hingga saat ini, mereka tersebar dalam dunia kerja sebagai pendidik (dosen dan guru PNS atau swasta), birokrasi, TNI, INGO dan pekerja swata profesional, baik di NTT maupun  luar daerahnya.
Di dunia politik, Desa Kuluan juga mencetak beberapa kader terbaiknya menjadi pejuang di gedung DPRD Kabupaten TTU. Mereka cukup 'berbunyi' di dalam gedung DPRD.Â
Sebut saja, Bapak alm. Yosef Tulasi, Agustinus Tulasi, SE dan Yohanes Malada, SE.
Potensi Desa KuluanÂ
Desa Kuluan termasuk penghasil ternak sapi Bali yang telah lama dikirim ke luar daerah. Bahkan anak-anak bersekolah karena orang tua menjual sapi untuk biaya sekolah.
Ternak lainnya yang sering dijual untuk kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan keperluan adalah babi dan kambing.
Kuluan juga penghasil tanaman perkebunan dan kehutanan. Di musim panen, ekonomi keluarga meningkat. Mereka mampu menjual mente, kemiri, dan asam.Â
Selain itu, pohon jati menjadi investasi jangka panjang keluarga yang bisa diandalkan. Dengan pohon jati kelas 1, petani bisa menyekolahkan anak-anak mereka.
Sumber pendapatan lainnya adalah kerajinan tenun ikat. Para wanita mampu membuat tenun ikat dengan berbagai motif.Â
Motif Bokof misalnya, adalah motif yang kembangkan oleh suku Tulasi yang kemudian diperkenalkan dan tersebar ke seluruh daerah Biboki.
Potensi wisata alam sebenarnya menianjikan. Ada danau di atas bukit semacam kaldera bernama Neoftasi. Kawasan ini bisa dikembangkan dan dibuat 1 paket kunjungan bersama dengan wisata budaya Tamkesi.
Berharap Lebih Serius Tangani Fasilitas
Sekalipun terlihat ada perkembangan, hingga saat ini masih ada dua kendala utama di Kuluan. Kendala ini masih sangat membatasi geliat ekonomi dan akses pengetahuan di sana.
Kendala pertama, jalan. Infrastruktur yang satu ini hingga kini masih parah kondisinya. Apalagi di musim hujan.
Padahal, jalan yang baik akan memperlanjar arus barang ke luar dan masuk ke desa. Termasuk memperlancar mobilitas warganya.
Kendala kedua, sarana komunikasi. Di sana, sudah ada tower. Sayangnya, hanya bisa digunakan untuk mengirim dan menerima WA
Pemerintah memang memperhatikan warga dalam kaitannya dengan membuka isolasi komunikasi hingga ke pelosok, termasuk ke Kuluan.
Sayangnya, tidak maksimal. Kadang-kadang merasa miris juga. Para aparat desa harus naik ke bukit, biasanya ke lokasi bernama Oefeun untuk mengisi dan mengirim data.Â
Salah satu staf Desa Kuluan yang biasa naik ke Oefeun kadang menyayangkan saja, fasilitas yang tersedia di dekat, malah tidak bisa digunakan.Â
Ke depannya, semoga diperhatikan juga sejauh mana kehadiran tower ini dapat dioptimalkan pemanfaatannya. Semoga Pemerintah Daerah lebih peduli pada daerah yang  infrasktrukturnya masih bermasalah.
Jangan sampai maksudnya membantu, tetapi malahan menjadi mubazir karena kapasitasnya yang sangat rendah.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI