Mohon tunggu...
Gitakara Ardhytama
Gitakara Ardhytama Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Sedikit bicara, banyak menulis.

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Pemilu 2024 (katanya) Pemilunya Anak Muda

25 Oktober 2023   21:23 Diperbarui: 25 Oktober 2023   21:27 167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Anak-Anak Muda. Foto oleh Leah Kelley: https://www.pexels.com/

Konon katanya, pemilu 2024 adalah pemilu-nya anak muda. Tentu argumen itu bukan hanya sekedar katanya saja, tetapi memang dibuktikan oleh hasil rekap data oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Nasional untuk pemilu 2024 adalah sebanyak 204.807.222 jiwa. 56,45 persen diantaranya atau sebanyak kurang lebih 113 juta jiwa adalah merupakan pemilih muda yang terdiri dari para milenial dan Gen Z. Sedangkan sisanya merupakan pemilih dari generasi X dan pre-boomer. 

Sebagai acuan, definisi masyarakat yang dikategorikan generasi minenial adalah kelompok masyarakat yang lahir pada tahun 1980 sampai 1994. 

Gen Z adalah kelompok pemilih dari orang-orang kelahiran tahun 1995 sampai 2000an. Sementara generasi X adalah orang dengan kelahiran antara tahun 1965 sampai 1979. Pre-boomer adalah sebutan untuk kelompok tahun kelahiran sebelum 1944.

Data diambil dari databoks.katadata.co.id
Data diambil dari databoks.katadata.co.id

Lantas, bagaimana pandangan mereka para calon pemilih muda ini mengenai politik dan/atau pemilu 2024 di Indonesia saat ini? Sebagai pengingat, pemilu 2024 nanti kita tidak hanya memilih Presiden dan Wakil Presiden saja, tetapi juga memilih anggota legislatifnya sesuai dengan daerah pemilihannya masing-masing. 

Sayangnya menurut sejumlah hasil riset dan survei menunjukkan bahwa saat ini pemilih-pemilih muda ini cenderung terperangkap dalam 2 pusaran besar kelompok suara. 

Ada yang menyambut pemilu 2024 dengan antusiasme yang tinggi karena beberapa alasan, terutama para first voter yang mana mereka tidak sabar ingin menyuarakan pilihan mereka di bilik suara pada tahun 2024 nanti. 

Tetapi ada juga di sisi lain kelompok-kelompok yang apatis terhadap pemilu 2024 kali ini. Mereka yang apatis umumnya adalah generasi muda yang sudah pernah memilih sebelumnya dan saat ini mulai mengerti dan melek politik.

Mereka beberapa diantaranya ada yang rutin memperhatikan dinamika politik di Indonesia saat ini dan mereka merasa politik hari-hari ini seperti terlalu 'kotor' dan terkesan terlalu 'kasar' di mata mereka. 

Yaa, kita tahu sendiri lah bagaimana keadaan politik sekitar 2 tahun belakangan ini. Mulai dari awal tahun lalu jika kita ingat di saat itu kita selalu ditakut-takuti dengan kalimat '2023 akan gelap', wacana-wacana penundaan pemilu, presiden 3 periode, korupsi menteri-menteri, saling ejek dan bully di ruang publik dan intern partai, hingga puncaknya putusan-putusan MK yang rasa-rasanya makin membuat pemilih muda yang sedang kritis-kritisnya ini jengah untuk ambil bagian dari politik atau pemilu tahun ini.

Sebagai catatan, jumlah masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya dari pemilu tahun 2019 lalu ada sekitar 34,7 juta suara, atau sekitar 18 persen dari total DPT saat itu yang mencapai jumlah 192,77 juta orang. 

Pada tahun 2019 sudah banyak pemilih-pemilih muda yang menjadi pemilih pada saat itu dan diperkirakan dari 34 juta orang yang golput tersebut jumlah pemilih muda yang golput cukup signifikan saat itu. 

Apa penyebabnya? Ya apatisme mereka terhadap politik yang kebanyakan dikuasai oleh politisi-politisi 'berumur' yang menurut mereka tidak bisa atau belum bisa mewakilkan harapan-harapan dan ekspektasi mereka selama ini. Hingga akhirnya beberapa yang ekstrim menunjukkan kekecewaannya dengan golput. Lantas apa KPU selaku perwakilan pemerintah dan  penyelenggara pemilu diam-diam saja melihat kenyataan ini?

Sebagai salah satu pemilih yang masih masuk kategori milenial, sikap-sikap apatisme seperti itu rasa-rasanya dapat saya pahami darimana asal mulanya. 

Tentu sebagai anak muda yang melek teknologi, saya selalu menggunakan sosial media sebagai sumber informasi alternatif (setelah TV yang juga semakin jarang saya tonton karena kurang berimbang menurut saya) dalam mencari tahu info dan perkembangan mengenai perpolitikan di Indonesia saat ini. 

Di sosial media, saya melihat politisi-politisi sekarang ini, terutama yang sudah tidak lagi bisa dikatakan muda, masih mencoba untuk relevan dengan zaman. Mungkin itu salah satu usaha mereka untuk mendekatkan diri kepada anak-anak muda juga. 

Seringkali mereka meluapkan emosinya, gagasannya, pendapatnya ke sosial media. Ini saya apresiasi. Usaha mereka untuk tetap relevan sangat saya hargai. 

Tetapi yang mungkin lupa mereka pelajari adalah kenyataan bahwa dunia sosial media itu sangat kejam. Tak ubahnya sebuah hutan belantara yang di dalamnya ada banyak hewan buasa yang siap menerkam jika kita lengah. 

Statement-statement inkonsistensi yang sering mereka tunjukkan, rasisme terselubung lewat permainan kata-kata, bahkan hate speech pun mereka lempar semuanya di sana, seolah mereka lupa kalau anak-anak muda ini sedang memantau pergerakan Anda sekalian dari sosial media. 

Belum lagi soal perkara-perkara yang berujung penjara hanya karena aktivitas di sosial media dengan penggunaan pasal-pasal karetnya. Sekalinya mereka mengerakanmassa di sosial media, yang dikerahkan malah buzzer-buzzer yang seringkali terkesan berani dan dengan kasar menyerang personal dan doxing sana sini. 

Memang, di samping itu ada indikasi banyaknya hoax  dan disinformasi, tetapi bukankah itu juga adalah ulah-ulah buzzer yang mereka ciptakan sendiri?

Belum lagi penyalahgunaan wewenang dengan pengerahan aparat untuk melakukan tindak kekerasan pada mahasiswa yang berunjuk rasa, korupsi dan bancakan proyek yang makin ketara. Konflik kepentingan yang makin jelas terasa, tetapi tetap dipaksakan. 

Sekalinya ada berita baik malah nampak sekali settingannya. Pencitraan sana sini. Berlagak menjadi orang paling mulia, paling sopan, dan paling merakyat. 

Bapak-bapak dan ibu-ibu politisi sekalian, mohon maaf, pemilu itu adalah arena untuk adu gagaran, visi dan misi, bukan berlomba-lomba jadi orang baik, jadi orang sopan. 

Biarkan kami menjadi pemilih-pemilih yang cerdas yang memilihmu dari hasil kerja nyatamu, bukan dari seberapa banyak sembako dan pelukan serta cium tangan yang kalian akan berikan.

Sialnya, masih banyak sekali pemilih-pemilih yang mabuk sopan santu, mabuk agama, dan kurang teredukasi secara politik sehingga termakan dengan politik-politik sopan santun macam itu. 

Dan sialnya lagi, justru mereka-mereka yang 'dangkal' ini yang sangat berisik, sehingga yang mengerti dan memiliki pandangan dan gagasan lebih baik kalah nyaring suaranya dengan mereka. 

Mau sampai kapan kita dengar partai politik menyuapi kita dengan caleg-caleg yang asal terkenal, asal dikenal, tidak peduli track record. Yang penting masyarakat suka, maju. Mau sampai kapan kita memilih seseorang karena terkenal dan bukan berdasarkan meritokrasi?

Ayolah, pak, bu. Jujurlah pada kami, pemilih-pemilih muda ini, apa sebenarnya arti kami ini di matamu? Apakah kami ini hanya sekedar angka yang akan kalian otak atik sedemikian rupa hingga memenangkan ego kalian untuk berkuasa, atau kami ini juga bagian dari rakyat yang patut didengar suaranya setelah di luar bilik suara?

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun