Berbicara tentang gamelan adalah tentang manusia di Nusantara. Secara historis, gamelan 'dilahirkan' di Nusantara.
Gambaran konstruksi historis gamelan sebagai bentuk kesenian pun tak lepas dari ritual kesusastraan pustaka dan pusaka. Bahkan, gaya berpakaian penabuh gamelan pun menjadi simbol identitas kebudayaan. Sehingga secara arkeologis, historis, dan performatif gamelan tak lepas dari unsur manusia dengan ketidaksempurnaannya.
Dan di gelaran International Gamelan Festival (IGF) 2018 di Solo, para pakar dan praktisi gamelan menjabarkan hal diatas. Sebuah kesempatan mengenal lebih akrab gamelan yang kita tahu kadang sekadar namanya.
Prof. Timbul Haryono dari UGM menyajikan kajian arkeologis gamelan dari masa lalu. Prasasti Gandasuli dari tahun 840 M yang menginskripsi gamelan, berupa alat musik curing. Prasasti Waharu I (873 M) menggambarkan padahi atau kendang. Sampai pada awal abad 13 M, kendang memiliki beragam bentuk sampai yang kini kita temui.
Kitab Ramayana mencantumkan banyak instrumen gamelan, beberapa seperti padahi (kendang), kinnara (kecapi?), dan suling. Kitab Wirataparwa, menuliskan bangsi (suling), mrdangga (kendang), dan tala (simbal).
Relief candi Borobudur dan Prambanan pun banyak menunjukkan gamelan. Seperti relief Karmawibangangga, Lalitawistara, Jataka Awadana, dsb.

Dalam perkembangannya, gamelan menjadi pengiring 'mantra' para dalang. Karya tulis jaman dulu tidak sekadar entitas pustaka. Tetapi juga pusaka. Karena merapalkan sebuah narasi menjadi ritual tersendiri untuk dalang. Yang terkenal dalah bait kidung Bima Swarga. Bait ini tidak hanya dirapalkan banyak dalang di Jawa. Bahkan di beberapa tempat di Bali sampai saat ini.
Dr. Jennifer Lindsay seorang peneliti dari Australia mengungkap hal menarik dari dress-up (busana) para penabuh gamelan. Bagaimana perubahan zaman berpengaruh pada tata busana penabuh. Para penabuh gamelan Kraton Solo dulu berasal dari orang biasa. Bertelanjang dada dan hanya mengenakan jarit menjadi ciri para penabuh ini.
Para penabuh gamelan di negara asing pun menunjukkan hal yang lebih menarik. Mereka menyesuaikan busana mereka selayaknya orang asing berbusana.
Seperti para penabuh yang didelegasikan dalam Misi Kebudayaan Soekarno ke Pakistan Timur (Bangladesh) tahun 1954. Sedang sebelum era Kemerdekaan, penabuh gamelan bule malah berbusana yang berkesan Jawa, blangkon/beskap/keris.

Gamelan secara ekologis, spasial, dan seni pertunjukkan merefleksikan manusia dengan keragamannya. Membatasi gamelan dengan pakem adalah gaya kuno yang coba Sutanto dobrak.
Prof. Sardono W. Kusumo memandang gamelan saat ini malah bukan gamelan. Pengalamannya waktu kecil melihat tari Bedhaya Ketawang yang sakral di Kraton jauh berbeda dengan masa kini. Dulu para penari membawa 'aslinya' manusia yang langsing/gendut, pendek/tinggi. Sehingga dalam kekurangan ini muncul refleksi diri para penonton. Mereka merasa sama dan serupa dengan para penari.
Begitupun dengan gamelan. Gamelan yang out-of-tune atau mblero sejatinya gamelan yang asli. Kabarnya satu set gamelan mblero seperti ini ada di luar negri. Dengan suara fals dari tiap instrumen dalam gamelan, malah menciptakan kesempurnaan. Persis seperti tari Bedhaya Ketawang yang pernah beliau tonton saat masih kecil.
Sehingga, membahas gamelan adalah membahas manusia Nusantara, yaitu kita. Bagaimana sejatinya kita harus bangga akan gamelan. Dan di gelaran IGF 2018, gamelan menjadi milik kita kembali, alias homecoming.
Artikel tentang IGF2018 lain:
Lima Alasan Kamu Harus Nonton IGF2018
Salam,
Solo, 10 Agustus 2018
09:54 pm
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI