Di sebuah ruang kosong, sebuah cahaya jatuh membentuk garis tipis yang tak tersentuh. Puisi Imajis adalah tentang cahaya itu. Tentang bagaimana sesuatu yang nyaris tak terlihat, yang sekilas berlalu seperti embusan angin di pagi hari, dapat dibekukan dalam sebentuk kata.
Imajisme adalah seni memotret sekejap, fragmen hidup yang rapuh dan memadatkannya dalam bahasa yang sepadat kristal, setajam jarum. Tidak ada ornamen. Tidak ada retorika yang membengkak. Hanya gambar yang dingin dan bersih, seperti lantai marmer dalam museum yang sunyi.
Puisi Imajis lahir dari tangan-tangan penyair yang lelah oleh kesesakan Romantisisme, oleh kerumunan kata-kata yang tak pernah kehabisan metafora untuk memuja sesuatu yang samar. Mereka haus akan presisi, akan bahasa yang lebih dekat ke dunia nyata, lebih jujur, dan lebih mendekati bagaimana sebuah momen benar-benar hidup di depan mata.
Ezra Pound, bapak dari gerakan ini, menyebut Imajisme sebagai cara untuk menciptakan 'gumpalan-pikiran yang langsung membentuk dirinya': seperti batu yang dilemparkan ke air tenang, menciptakan lingkaran-lingkaran yang menyebar dengan cepat tapi selalu berpusat pada satu titik.
Dan di sinilah letak simbolisme Imajis: diam yang bergerak. Puisi ini tidak mengejar makna yang berlarian ke sana kemari, ia hanya menampilkan sesuatu yang ada. Ia adalah sehelai daun yang gugur dalam kehampaan; warna merah pada apel di meja kayu tua; bayangan jendela yang dipantulkan air di tengah hujan.
Dalam The Red Wheelbarrow, William Carlos Williams menulis:
"so much depends upon a red wheelbarrow glazed with rain water beside the white chickens"
Di permukaan, ini adalah puisi yang tidak lebih dari sekumpulan gambar. Sebuah gerobak merah, air hujan yang berkilauan, ayam putih. Tapi seperti kaca yang ditempati cahaya, gambar ini memantulkan dunia yang lebih besar. Ada sesuatu yang tak terucapkan di balik bahasa yang sederhana ini: sebuah penekanan bahwa benda-benda kecil, benda-benda sehari-hari, adalah sesuatu yang penting.
Seolah Williams berbisik kepada kita bahwa kehidupan, dalam bentuk paling puranya, justru ditemukan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Imajisme tidak menambahkan; ia malah mengupas hingga tinggal inti dari momen itu sendiri.
Penyair Imajis adalah para pencatat. Mereka mengamati dunia dengan mata yang hampir kejam. Tidak ada perasaan yang dipaksakan, tidak ada kesimpulan moral. Mereka hanya mencatat apa yang terlihat, tapi melihat dengan kedalaman yang tidak bisa dijangkau oleh mata biasa.