Silvio Berlusconi boleh berbangga menutup sebuah era dengan satu trofi penting: Piala Super Italia, dengan catatan tim sedang dalam keadaan finansial yang jauh dari kata ideal. Tiga dekade lebih sudah dilewati mantan perdana Menteri Italia itu bersama Milan, pelbagai gelar pun menghiasi lemari trofi di Casa Milan.
Namun, perpisahan manis ditengah keterpurukan tim jauh lebih berharga, bos Milan itu menyerahkan tim kepada pemilik baru (yang tengah bernegosiasi) dengan status tim terbaik nan menjanjikan di Italia. Berlusconi meninggalkan klub dengan satu kesan; cemerlang. Keterpurukan finansial pun bisa disembunyikan dengan hadirnya gelar ini dan sedikit banyak telah menutupi kebobrokan Milan selama lima musim terakhir.
Mengukur siapa tim terbaik idealnya memang dengan capaian trofi dan Milan sudah membuktikannya di Doha, Qatar, dengan mengandaskan perlawanan tim raksasa macam Juve di Piala Super lewat adu ketangkasan tendangan penalti. Perlu dicatat, Piala Super Italia bukan sebuah ajang yang bisa dianggap remeh, karena tim yang berhasil memenangi pertandingan ini akan menjadi tolak ukur siapa tim terbaik di Italia.
Sebetulnya tanpa harus bertanding melawan Milan pun Juve bisa menasbihkan diri sebagai tim terbaik Italia mengingat di musim lalu pasukan Allegri ini berhasil mengawinkan gelar Serie A dengan Coppa Italia. Namun regulasi menarasikan bahwa Piala Super Italia harus tetap dilangsungkan dengan opsi runner-up Coppa yang berhak menjadi lawan sang jawara Liga Serie A.
Meskipun tim asuhan Vicenzo Montella datang sebagai delegasi Coppa Italia dan berstatus bukan sebagai juara (runner-up coppa), mereka tetap tampil sepadan melawan Juve. Milan Montella berhasil menyulitkan pemain bertabur bintang milik Bepe Marotta, singkat kata AC Milan mengandaskan tim yang mengakusisi kekuatan kompetisi Italia selama seperempat dekade terakhir ini.
Di tahun 2016, Milan versi Montella dua kali mengandaskan Juventus, pertama di San Siro dengan sebiji gol Manuel Locatelli dan berhasil mengkudeta posisi zona play off Liga Champions untuk sementara waktu. Walau begitu, secara teknis Milan masih dalam proses pengembangan karena inkonsistensi bertahun-tahun menjadi pembeda kualitas Juve-Milan dewasa ini.
Berbicara terbaik bisa dilihat dari berbagai sisi, idealnya memang ‘menjadi juara’, namun ada sisi lain yang bisa kita analisa dari kekuatan Milan. Asumsi saya Milan hari ini tengah menuju ke tim terbaik dengan menginvestasikan para anak muda di skuadnya. Gianluigi Donnarumma, Manuel Locatelli, Davide Calabria adalah bakat besar  yang lahir di Primavera Milan, belum lagi nama Alesio Romagnoli, Andrea Bertolacci, Gianluca Lapadula, Suso, Mbaye Niang yang ditemukan Adriano Galliani di akademi lain.
Bukan saja menguntungkan bagi internal atau tim Milan itu sendiri, melainkan juga faktor eksternal pun cukup diuntungkan dengan kelahiran bakat spesial di klub Milan. Timnas Italia akan merasakan dampaknya dikemudian hari. Sederhananya Gianluigi Buffon, trio BBC (Bonnucci-Barzagli-Chielini), dan Daniele de Rossi saat ini tengah menjalani masa senjakalanya dan tim yang dipenuhi talenta muda macam Milan ini menjadi penting nilainya.
Maka tak heran jika Centro Milano (tempat latihan Milan) selalu dikunjungi pemandu bakat terbaik di dunia. Barca, Juve, Madrid, Chelsea, Duo Manchester, Bayern Munchen, PSG, dan klub kaya raya lainnya membuat sebuah kompetisi lain diluar pertandingan sepakbola dengan membujuk para pemuda berbakat yang tersedia di Milan untuk bergabung dengan mereka.
Kini, tinggal bagaimana proyek peremajaan tim ini dilanjutkan atau tidak oleh calon investor baru yang kabarnya berasal dari Tiongkok. Saya lebih setuju kalau uang yang mereka gelontorkan digunakan untuk memagari investasi ini, jika pun nantinya diperlukan suntikan pemain matang untuk melengkapi kekurangan tim, agaknya masih dalam batas wajar 1-4 pemain bergabung dengan tim ini.
Juventus yang selalu kepayahan meladeni ‘Milan muda’ adalah bukti shahih bahwa Milan akan terbangun dari tidur panjangnya bersama pemain-pemain potensial yang menjanjikan itu. ‘Milan baru’ telah lahir, tak ubahnya seorang bayi yang baru lahir, kedepannya tergantung kepada orang tua mereka sendiri atau yang memiliki klub ini. Apakah mereka akan memelihara bayi emas ini dengan baik atau malah sebaliknya.
Dengan suntikan kekuatan Mattia De Sciglio yang beranjak dewasa, Ignazio Abate yang semakin matang, Jack Bonaventura yang semakin memotivasi, Riccardo Montolivo yang bisa dijadikan mentor, dan pemain senior lain yang bisa membimbing anak-anak muda itu, Milan sekali lagi begitu menjanjikan untuk menjadi tim terbaik dimasa mendatang.
Setidaknya Allenatore Montella sudah meyakinkan tifosi bahwa gambaran proyek yang menasbihkan mereka sebagai tim terbaik dari tanah Italia adalah sangat spesial. Ya, karena sudah terlalu mainstream menyaksikan tim bertabur bintang di Italia macam Juventus mengangkat trofi. Kali ini kita perlu merayakan juara atau ‘tim terbaik baru’ yang bukan tidak mungkin akan menjadi titik tolak kebangkitan Milan bahkan Italia di kancah Internasional.
Roda bisnis memang menggelinding cepat di industri sepakbola hari ini dan uang bisa membuat semua yang tidak mungkin menjadi mungkin terjadi. Namun di tahun 2016 asumsi kita mengenai hal itu perlu direvisi ulang, bersama cerita termahsyur Leicester di Inggris dan Milan di Italia semua bisa meraih gelar walaupun tanpa uang yang banyak.
Masih ada batasan tengah antara yang berjuang dan yang beruang, pada akhirnya yang menentukan adalah semangat juang. Ya, hal itulah yang diperagakan para pemuda terbaik di Milan untuk meproklamirkan ‘uang bukan segalanya’. Pun dengan Leicester City di Inggris.

Namun, jika mereka tidak bisa membuktikan diri menjadi yang terbaik dimusim esok jangan sekali-kali menyalahkan tulisan ini. Karena yang bertanggung jawab atas segala yang terjadi di klub AC Milan adalah mereka yang memiliki jabatan khusus di tim ini, karena mereka-lah yang sudah membuat ‘mubazir’ bakat anak muda dari Milan itu hilang. Bukan tulisan saya ini.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI