Mohon tunggu...
Muiz Ghifari
Muiz Ghifari Mohon Tunggu... Guru - Guru

Konten favorite saya adalah filsafalat, pendidikan, teknologi, dan politik.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Setiap Pejabat Dilantik Semua Sosial Media Pemerintahan Mengucapkan Selamat, Kok Beda Sama Negara Lain?

8 Januari 2025   08:03 Diperbarui: 8 Januari 2025   08:03 47
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pelantikan Kepala BKN 2025. Sumber: BKD Cilacap

Berikut adalah kerangka kajian satire yang bisa dikembangkan menjadi tulisan sepanjang 7500 kata:

Judul: "Sebuah Perayaan di Balik Kamera: Antara Panggung Sosial Media dan Kursi Kosong di Ruang Pengambilan Keputusan"

Pendahuluan
Dalam era digital yang semakin mendominasi hampir setiap lini kehidupan, segala sesuatu seolah tidak lengkap tanpa kehadiran jejak di sosial media. Bahkan di ranah pemerintahan, digitalisasi telah merambah jauh melampaui layanan publik, menjangkau aspek-aspek yang sifatnya lebih simbolik daripada substansial. Salah satu fenomena yang semakin umum terjadi di beberapa negara, termasuk Indonesia, adalah tradisi merayakan pelantikan pejabat publik melalui unggahan sosial media yang penuh dengan seremonial. Foto-foto pejabat baru yang tersenyum di balik meja kerja, bunga segar yang menghiasi ruangan, serta sederet ucapan selamat yang mengalir dari berbagai kalangan, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pelantikan.

Namun, apakah esensi dari pelantikan seorang pejabat terletak pada fotonya yang tersebar di media sosial atau pada tanggung jawab yang kini diembannya? Di negara lain, seperti Finlandia, Norwegia, atau Jepang, pelantikan pejabat kerap berlangsung dengan cara yang jauh lebih sederhana, hampir tanpa eksposur publik yang berlebihan. Proses tersebut lebih berfokus pada bagaimana pejabat tersebut mempersiapkan diri untuk langsung bekerja, bukan pada bagaimana ruangan kerja mereka dihias untuk keperluan konten sosial media.

Fenomena Seremonial di Media Sosial
Di Indonesia, ketika seorang pejabat baru dilantik, tidak jarang media sosial dipenuhi dengan ucapan selamat yang mengalir deras. Instansi pemerintahan berbondong-bondong memasang foto pejabat yang baru saja dilantik, lengkap dengan kalimat puitis yang merangkai harapan besar bagi masa depan. Jika seseorang menjelajahi akun resmi dinas-dinas tertentu, terlihat jelas betapa acara pelantikan ini tidak sekadar formalitas, melainkan sebuah perayaan tersendiri.

Dinas tertentu bahkan menyediakan fotografer profesional untuk memastikan bahwa momen tersebut diabadikan dengan sempurna. Setelah itu, foto-foto dipoles, diberi filter, dan disebarkan melalui platform sosial media. Tak jarang, acara pelantikan ini juga disertai dengan serangkaian seremoni seperti pemotongan pita, penandatanganan prasasti, hingga jamuan makan bersama.

Antara Eksposur dan Tanggung Jawab
Pertanyaannya adalah, apakah semua eksposur ini benar-benar diperlukan? Di banyak negara Skandinavia, pelantikan pejabat justru seringkali hanya diumumkan melalui pernyataan pers singkat atau bahkan sekadar catatan di situs web resmi pemerintah. Tidak ada foto bunga, tidak ada ruang kerja yang dihias, dan tidak ada pidato panjang lebar yang dipublikasikan di berbagai platform.

Hal ini mencerminkan filosofi yang berbeda dalam memandang jabatan publik. Di negara-negara tersebut, menjadi pejabat publik adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan panggung untuk meningkatkan popularitas atau membangun citra pribadi.

Kembali ke Esensi Kepemimpinan
Dalam perspektif satire, eksposur yang berlebihan ini dapat dianalogikan seperti seorang pemain bola yang baru saja dikontrak oleh klub besar, namun lebih sibuk berpose dengan jersey barunya di depan kamera ketimbang berlatih di lapangan. Seremonial ini seolah memberikan ilusi bahwa kerja keras telah selesai, padahal sesungguhnya, inilah saat di mana tugas dan tanggung jawab baru saja dimulai.

Di balik tirai eksposur sosial media, yang seharusnya menjadi fokus adalah seberapa jauh pejabat tersebut mampu menjawab ekspektasi publik. Apakah dengan mengunggah foto pelantikan, masalah infrastruktur bisa selesai lebih cepat? Apakah dengan mempublikasikan foto ruang kerja baru, angka kemiskinan bisa menurun?

Kontras dengan Negara Tanpa Eksposur Berlebihan
Mari kita bandingkan dengan Jepang, misalnya. Ketika seorang pejabat baru diangkat, sering kali tidak ada satu pun foto mereka yang tersebar luas di sosial media. Pelantikan dilakukan dengan sederhana, hanya dihadiri oleh segelintir orang yang memang berkepentingan. Dalam banyak kasus, pejabat bahkan langsung memulai pekerjaannya tanpa perayaan apa pun.

Fenomena ini menciptakan kesan bahwa jabatan tersebut adalah bagian dari rutinitas pemerintahan yang harus berjalan efisien. Pejabat yang dilantik dianggap tidak memerlukan validasi sosial dalam bentuk eksposur besar-besaran. Fokus mereka adalah bagaimana menciptakan kebijakan yang berdampak nyata, bukan bagaimana cara membangun citra di mata publik melalui sosial media.

Mengapa Tradisi Ini Bertahan?
Meskipun eksposur ini kerap dikritik sebagai tidak esensial, tradisi ini tetap bertahan. Salah satu alasannya adalah adanya kebutuhan untuk memperlihatkan transparansi dan akuntabilitas. Dengan menunjukkan proses pelantikan di depan publik, diharapkan masyarakat bisa merasa lebih dekat dengan pemerintah.

Namun, di sisi lain, tradisi ini juga dipelihara oleh budaya birokrasi yang masih sarat dengan simbolisme. Dalam budaya ini, jabatan publik sering kali dianggap sebagai sebuah pencapaian pribadi yang layak dirayakan, bukan sebagai tanggung jawab yang penuh risiko dan tantangan.

Satire sebagai Kritik Konstruktif
Kajian ini bukan bertujuan untuk meremehkan makna dari sebuah pelantikan, melainkan untuk mengajak kita semua merefleksikan apa yang sebenarnya kita rayakan. Jika pelantikan pejabat lebih banyak dihabiskan untuk sesi foto, mungkin sudah saatnya kita bertanya apakah orientasi kita sudah berada di jalur yang benar.

Sebagai bentuk satire, fenomena ini dapat dianalogikan dengan perayaan ulang tahun tanpa kue, di mana lilin ditiup tanpa adanya substansi di balik perayaan tersebut. Seorang pejabat yang baru dilantik, idealnya, adalah individu yang memahami bahwa pelantikan hanyalah sebuah gerbang menuju tanggung jawab yang lebih besar, bukan panggung untuk berfoto.

Penutup: Mengembalikan Fokus pada Tugas dan Tanggung Jawab
Pada akhirnya, pejabat publik adalah representasi dari harapan masyarakat. Mereka diangkat bukan untuk menghiasi feed sosial media kita, melainkan untuk menghadirkan perubahan nyata. Di tengah eksposur yang kian masif, mungkin sudah saatnya kita mulai merayakan hal-hal yang lebih substansial---seperti keberhasilan sebuah proyek atau kebijakan yang berdampak positif---alih-alih berlama-lama dalam seremonial yang hanya berlangsung sesaat.

Sebagaimana halnya kursi kerja yang nyaman bukan indikator keberhasilan seorang pejabat, foto pelantikan yang estetik bukanlah cermin dari efektivitas kerja mereka.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun