Satya (Kebenaran) sebagai tesis yang disampaiakan oleh Gandhi yang dimana Setiap orang akan mendapatkan prema, apabila mereka mampu mendapatkan kebenaran melalui agama masing-masing. Rasa sadar diri sebagai kunci untuk mengamati dan mengapresiasi pemahaman lain sebagai satu kesatuan atas landasan kemanusian untuk hidup berdampingan.
Tidak sesimpel itu dalam menjabarkan pemahaman yang disampaikan oleh Gandhi. Dikarenakan ada beberapa faktor Chaos yang terus berkembang seperti salah satunya faktor politik. Politik dapat menjadi pengganti Agama secara sekunder sebagai bentuk keberpihakan ideologis yang mampu memangkas segala bentuk nurani positif dalam agama.Â
Ahimsa tanpa "A"
Dasar pemikiran dari Gandhi tentang kemanusian terletak pada prespektif Ahimsa yang diartikan sebagai tanpa atau anti kekerasan. Ahimsa timbul ketika puncak dari prema mampu terkonsolidasi dengan baik. Cinta yang telah tertanam dalam diri manusia apabila diaplikasikan kepada masyarakat unviersal akan berdampak kepada kestabilan yang diakibatkan oleh rasa toleransi tinggi.Â
Tidak ada lagi pembatas dalam pemahaman tertentu -pemahaman agama atau kasta. Yang ada hanya kepentingan kolektif bagi bersatunya umat yang damai dan terhindar dari segaala bentuk kekerasan.
Ahimsa akan berubah menjadi kekerasan (himsa), timbul karena masyarakat belum menemukan cinta dalam diri mereka sendiri secara universal. Mereka hanya mengamalakn prema pada ranah golongan mereka sendiri.Â
Tidak pelak akan mengakibatkan suatu perasaan etnosentrisme yang memancing kepada -merendahkan budaya orang lain. Â Apabila tidak dievaluasi dengan baik, akan berdampak secara laten dalam diri mereka dengan mempunyai ambisi kepada segmen penguasaan. Dan dampak yang lebih parah, hasil dari penguasaan ini hanya difokuskan kepada golongan sendiri dan menjauhkan dari kependtingan kolektif universal.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H