Mohon tunggu...
ghaitsa rizky
ghaitsa rizky Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Sosiologi FIS UNJ

Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pilates dalam Perspektif Marxisme: Kelas Sosial, Legitimasi Standar Kecantikan, dan Kesadaran Palsu pada Masyarakat

10 Juni 2024   08:47 Diperbarui: 10 Juni 2024   08:52 65
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Gaya hidup sehat telah menjadi pilihan utama bagi banyak individu di era ini. Hal ini diperkuat oleh adanya kesadaran akan pentingnya kesehatan bagi keberlangsungan hidup individu. Gaya hidup ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, tidur dengan waktu yang cukup, dan berolahraga. 

Di antara beragamnya pilihan gaya hidup sehat yang sedang tren, pilates telah menjadi salah satu pilihan yang diminati oleh banyak anak muda pada era ini. 

Pilates merupakan olahraga latihan fisik yang memiliki fokus pada rehabilitasi dan penguatan tubuh. Pilates ditemukan oleh Joseph Pilates sebagai hasil dari keinginannya untuk mengatasi penyakit yang dialaminya. 

Pilates berkembang mulai dari pengalaman pribadi Joseph Pilates hingga menjadi olahraga dan gaya hidup yang populer di seluruh dunia. Setelah bertemu dengan istrinya, mereka telah mendirikan studio pilates pertama di New York pada tahun 1926 dan telah berhasil menarik beberapa kalangan masyarakat seperti sosialita, atlet, pesenam, dan pemain sirkus (Isacowitz, 1995). 

Meskipun begitu, pilates tidak hanya dapat dikaji dari sudut pandang olahraga dan gaya hidup, namun juga dapat dikaji dari sudut pandang sosiologi kebudayaan. Dalam sosiologi kebudayaan, pilates merupakan salah satu produk kebudayaan yang di dalamnya terdapat kompleksitas dinamika hubungan pada masyarakat. 

Kompleksitas hubungan masyarakat di dalam pilates dapat dianalisis menggunakan salah satu perspektif sosiologi kebudayaan. Maka dari itu, penulisan artikel ini berusaha untuk mengkaji dan menganalisis lebih dalam mengenai hubungan antara individu, kelompok, masyarakat, dan unsur di dalam pilates menggunakan perspektif kebudayaan dari Karl Marx.

Kelas Sosial dan Ideologi Implisit dalam Pilates

Salah satu kompleksitas dinamika hubungan masyarakat di dalam pilates yaitu dengan terciptanya pembagian kelas sosial di dalam masyarakat. Dinamika ini tercermin dari hubungan antara owner studio pilates dan instruktur pilates, Marx menyebutnya sebagai hubungan produksi. 

Hubungan produksi merupakan pembagian kelas berdasarkan materialisme, yaitu ada kelas borjuis yang memiliki alat produksi dan ada kelas proletar yang merupakan kelas yang bekerja pada pemilik alat produksi dan modal (Abidin, 2003). 

Owner studio pilates dalam konteks ini merupakan pemilik modal atau kelas borjuis yang memiliki alat serta fasilitas pilates. Sedangkan instruktur pilates merupakan kelas proletar karena mereka berperan sebagai penyedia tenaga kerja yang bekerja tepat di bawah kelas borjuis atau dalam konteks ini owner pilates. 

Mengacu pada pandangan Marx, pilates merupakan sebuah produk kebudayaan yang dapat digunakan sebagai sarana penyebaran dan penanaman ideologi. Ideologi dapat diartikan sebagai teori yang tidak berorientasi pada kebenaran, melainkan pada kepentingan pihak yang mempropagandakannya (Tyas, 2020). 

Ideologi juga dapat dikatakan sebagai sarana kelas tertentu untuk berkuasa mempertahankan kekuasaannya sehingga dapat memunculkan kesadaran palsu pada masyarakat. Dalam praktik pilates sebenarnya terdapat ideologi yang ditanamkan, yaitu mengenai standar kecantikan dan tubuh ideal. Meskipun pilates tidak secara eksplisit mempromosikan standar kecantikan dan tubuh ideal namun nilai ini tetap tertanam dalam praktiknya. 

Sebagai contoh, dalam promosi pilates sering menghadirkan model yang memiliki citra tubuh ideal, ditambah peran media dan tokoh publik ternama dalam mempromosikan pilates hingga menjadi tren di kalangan anak muda. 

Promosi yang telah dilakukan jika dianalisis, dapat menciptakan konstruksi makna masyarakat mengenai standar kecantikan dan citra tubuh ideal sehingga masyarakat merasa harus mengakses pilates untuk mencapai standar kecantikan dan citra tubuh ideal sesuai yang telah dijanjikan secara tersirat. Ideologi yang tertanam secara tersirat ini nantinya akan menimbulkan kesadaran palsu bagi pihak-pihak di dalamnya.

Kesadaran Palsu pada Instruktur dan Peserta Pilates

Di dalam tulisan Marx terdapat dua aspek yang dapat dijadikan dasar untuk mengidentifikasi kesadaran palsu. Pertama, Marx berpendapat bahwa ide dominan di dalam masyarakat semuanya berasal dari kelas dominan atau penguasa. 

Kedua, Marx menunjukkan bahwa apa yang masyarakat, khususnya kelas bawah, anggap sebagai "kebaikan hati" dari suatu relasi sosial ternyata dalam konteks kapitalisme sebenarnya merupakan mistifikasi pasar. 

Artinya masyarakat luas sudah mewajarkan ide dan inovasi produk yang berasal oleh kelas penguasa. Adapun respon yang diberikan dari masyarakat, khususnya kelas bawah yaitu dengan menjual tenaga kerjanya dan mendapatkan harga yang pantas untuk itu (Barker & Jane, 2016).

Pada bagian ini akan dianalisis kesadaran palsu dari sudut pandang instruktur pilates dan peserta pilates. Pertama, dari instruktur pilates, sebagai pekerja di bawah kepemilikan studio pilates, maka mereka secara tidak langsung juga ikut mempromosikan standar tubuh ideal kepada peserta. 

Hal ini dilakukan secara tidak sadar oleh pihak instruktur demi keberlangsungan pekerjaannya. Kesadaran palsu lainnya ditemukan pada hubungannya dengan pemilik studio pilates, meskipun banyak instruktur yang berasal dari latar belakang ekonomi berkecukupan namun mereka tetaplah berposisi sebagai kelas pekerja yang sebenarnya dieksploitasi oleh kelas atas. 

Namun demi keberlangsungan pekerjaannya mereka cenderung mewajarkan hal tersebut dan menyesuaikan tenaganya dengan harga yang akan dibayar oleh owner studio pilates.

Kedua, kesadaran palsu pada peserta pilates. Meskipun peserta pilates mayoritas berasal dari kelas atas dan memiliki tujuan serta motivasi yang cukup beragam dalam mengikuti pilates, namun mereka cenderung tidak menyadari bahwa posisi sosial mereka jika dipandang dari perspektif ini merupakan bagian dari kelas bawah yang telah dieksploitasi. 

Studio pilates dan unsur-unsur pilates lainnya merupakan produk yang dihasilkan dari ide dan gagasan yang berasal dari kelas dominan atau kelas kapitalis atas. Beberapa studio pilates juga menghadirkan membership pilates yang biasanya memberikan diskon atau promo kepada peserta dengan syarat pendaftaran yang mudah dan gratis. Kebanyakan dari peserta menganggap ini sebagai "kebaikan hati" dari owner studio pilates meskipun kenyataannya di dalam pandangan Marx ini merupakan sebuah mistifikasi pasar.

Hal yang telah dijelaskan sebelumnya relevan dengan pemikiran Marx mengenai kesadaran palsu. Meningkatnya popularitas dan penyebaran tren pilates di kalangan masyarakat membuat banyak di antara mereka yang telah mewajarkan ide tersebut. Bahkan mereka saling berlomba-lomba untuk mendapatkan akses pelaksanaan pilates walaupun biaya yang dikeluarkan cukup tinggi. 

Meskipun para peserta dan instruktur banyak yang berasal dari latar belakang ekonomi berkecukupan, namun kenyataannya mereka telah menjadi objek eksploitasi dan target mistifikasi pasar bagi kelas atas. Hal ini membuat masyarakat mementingkan tujuan pribadi dan tanpa sadar sebenarnya ini telah mempengaruhi posisi sosial mereka di masyarakat.

Dapat disimpulkan bahwa pilates bukan hanya sekedar olahraga latihan fisik dan berfokus pada rehabilitasi yang dijadikan gaya hidup sehat, melainkan pilates memiliki dinamika hubungan antar masyarakat didalamnya. Jika dipandang melalui perspektif Marxisme, pilates dapat menciptakan kelas sosial di dalamnya yaitu kelas sosial borjuis dan proletar. 

Kelas borjuis merupakan pemilik studio pilates dan kelas borjuis merupakan instruktur pilates. Pilates juga dapat dijadikan sebagai alat untuk menanamkan ideologi untuk melanggengkan kekuasaan kelas dominan. Ideologi yang ditanamkan telah diwajarkan oleh banyak pihak di dalam industri pilates ini sehingga terciptalah kesadaran palsu pada pihak yang terlibat dalam industri pilates.

Daftar Pustaka

Barker, C., & Jane, E.A. (2016). Cultural Studies: Theory and Practice (Fifth Edition). London: Sage Publications.

Hendriwani, S. (2022). Teori Kelas Sosial dan Marxisme Karl Marx. Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 2 No. 1, Juni 2022.

Isacowitz, R. (2022). Pilates: Third Edition. United States: Human Kinetics.

Tyas, D. C. (2020). Mengenal Ideologi Negara. Alprin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun