Mohon tunggu...
Gentur Adiutama
Gentur Adiutama Mohon Tunggu... Administrasi - ASN di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Pecinta bulutangkis dan pengagum kebudayaan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Menyayangkan Masuknya Bulu Tangkis di Video Kampanye Ahok-Djarot

10 April 2017   20:34 Diperbarui: 11 April 2017   19:00 2018
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tidak pernah ada diskriminasi SARA pada pemain bulutangkis Indonesia. (sumber foto: PBSI)

Tim Bulutangkis Indonesia (sumber foto: PBSI)
Tim Bulutangkis Indonesia (sumber foto: PBSI)
Apabila hendak dikaitkan dengan pemain dan pelatih keturunan Tionghoa yang memiliki sumbangsih besar bagi bulutangkis Indonesia, maka memasukkan bulutangkis di video dengan konteks gerakan anti diskriminasi itu tidaklah tepat. Mereka tidak menerima perlakuan yang berbeda dibandingkan lainnya karena sistem berbasis merit diterapkan dengan baik oleh PBSI.

Ada banyak pemain bulutangkis Indonesia yang merupakan keturunan Tionghoa, baik di masa lalu maupun sekarang. Sebagian besar dari mereka memiliki prestasi yang sangat bagus dan menjadi tulang punggung Indonesia dalam mencapai kegemilangan di turnamen internasional. PBSI tidak pernah membeda-bedakan pemain berdasarkan SARA untuk dikirim ke turnamen internasional atau diberi kehormatan membela Tim Indonesia di kejuaraan beregu.

Siapapun yang punya kemampuan bagus akan dipilih sedangkan mereka yang performanya buruk pun akan tidak diprioritaskan, bahkan mungkin didegradasi di akhir tahun. Bakat-bakat muda yang bermunculan di berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke mendapat peluang yang sama untuk dapat difasilitasi dalam pelatihan dengan kurikulum dan infrastruktur berstandar internasional yang ada di Pelatnas Cipayung dan klub.

Tidak pernah ada diskriminasi SARA pada pemain bulutangkis Indonesia. (sumber foto: PBSI)
Tidak pernah ada diskriminasi SARA pada pemain bulutangkis Indonesia. (sumber foto: PBSI)
Merit juga diterapkan menjadi satu-satunya faktor pembeda pada pelatih. Mereka yang berhasil memenuhi target dan membawa anak didiknya meraih prestasi pasti diberikan perpanjangan kontrak dan dihadiahi bonus oleh PBSI dan klub. Pelatih-pelatih berpengalaman akan dipromosikan untuk bertanggung jawab sebagai pelatih kepala. Saat ini bahkan jabatan pelatih kepala di empat sektor yaitu tunggal putra, tunggal putri, ganda putra dan ganda putri dipegang oleh para pelatih hebat yang beretnis Tionghoa (Hendri Saputra Ho, Minarti Timur, Herry Iman Pierngadi dan Eng Hian).

Di struktur kepengurusan PBSI, tidak ada sekat-sekat antar individu yang dikarenakan oleh perbedaan SARA. Semua mantan pelatih/pebulutangkis, public figure, politisi atau pengusaha yang memiliki tekad dan semangat untuk mengabdi bagi dunia bulutangkis pun mendapat kesempatan yang sama untuk bisa duduk di kursi kepengurusan dan ikut menentukan kebijakan yang terbaik bagi kemajuan para pebulutangkis Indonesia.

Bagi masyarakat luas yang menjadi fans bulutangkis Indonesia, pandangan atau perlakuan yang berbeda karena landasan SARA tidak pernah diberikan. Semua pemain dengan tulisan nama Indonesia di bagian punggung jersey-nya akan selalu didukung dengan penuh. Lihatlah bagaimana kekompakan pecinta bulutangkis Indonesia ketika sedang menyokong Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, dkk. berlaga di Indonesia Open Superseries. Tak ada perbedaan antusiasme penonton ketika menyaksikan seorang pemain Indonesia yang bersuku Sunda seperti Ihsan Maulana Mustofa atau pemain Indonesia lainnya yang beretnis Tionghoa seperti Jonatan Christie.

Susi Susanti: pernah jadi pemain dan pelatih, kini jadi pengurus PBSI. (sumber foto: klikkabar.com)
Susi Susanti: pernah jadi pemain dan pelatih, kini jadi pengurus PBSI. (sumber foto: klikkabar.com)
Munculnya adegan bulutangkis di video kampanye Ahok-Djarot dalam skenario tentang upaya melawan diskriminasi berbasis SARA bisa dibilang seperti mengangkat cerita yang tidak perlu disampaikan karena tidak pernah ada. Cuplikan tentang bulutangkis di video itu justru malah menjadi awkward karena kita semua tidak pernah kepikiran dengan pengafiliasian para pemain bulutangkis kita dengan identitas SARA mereka.

Terlepas dari pesan yang positif bahwa bangsa Indonesia harus selalu mengingat takdirnya sebagai bangsa yang multikultur, penulis menyayangkan bila bulutangkis dibawa-bawa sebagai isu di video yang kental muatan politisnya itu. Biarlah percaturan politik yang sedang memanas berjalan dengan sendirinya dan di sisi lain olahraga bulutangkis di Indonesia mencetak prestasi tinggi tanpa mendapat kaitan dengan hal-hal politis.

Jayalah Bulutangkis Indonesia!

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun