Pada sebuah organisme yang menamakan dirinya manusia..
Dengan ikatan dan relevansi yang sama..
Yang mana mereka terpandang dan terpilih..
Yang mana mereka berkompetisi untuk menjadi lebih..
Otak menjadi diagram..
Tak lebih dari angka dan statistik..
Nurani terdekadensi pada sebuah dimensi yang tak lagi dapat mereka kenali..
Mereka tidak buta,tapi tak dapat melihat..
Mereka memiliki jam,tapi tak dapat mengenali waktu..
Mereka kuras habis energi untuk meneliti ujung galaksi..
Tapi melupakan beberapa jengkal kemanusiaan di bumi..
Pada sebuah organisme yang menamakan dirinya manusia..
Dengan melacur pada sebuah ironi tentang surga..
Yang mana surga mereka tak lebih dari pencapaian statistik..
Yang mana hegemoni menginginkannya tak lebih dari komoditas seremonial belaka..
Mereka tahu akan kembali kesana dan tinggal di taman abadi..
Mereka bosan terus merangkak sebagai ulat di dunia..
Mereka ingin beterbangan disana sebagai kupu-kupu..
Ya..
Sebuah kupu-kupu yang rapuh..
Begitu rapuh seperti kaca..
Kupu-kupu kaca dari surga..
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H