konflik tentu akan langsung tergambar di benak kita suatu keadaan yang sangat tidak nyaman bagi sebuah hubungan atau keadaan.
Mendengar kataBagi beberapa tipe kepribadian tertentu bahkan sebisa mungkin menghindarinya karena tidak mau repot memikirkan masalah yang akan ditimbulkannya, belum lagi segala drama yang mengikutinya.
Namun sebenarnya, kita tidak bisa menghindari adanya konflik yang mau tidak mau pasti dan akan terjadi, terus menerus.
Mengapa?
Karena kita semua, sesama manusia di planet ini, memiliki nilai, pola pikir, gaya hidup dan karakter yang berbeda-beda.
Sedapat-dapatnya kita menghindari konflik, kita akan sampai di suatu titik dimana terdapat pertemuan dari setiap perbedaan yang ada tersebut dan akhirnya berpotensi menimbulkan konflik.
Titik pertemuan tersebut biasanya terjadi ketika kita telah menjadi dekat dengan seseorang, bisa dalam keluarga atau lingkaran pertemanan.
Kedekatan itu secara tanpa disadari akan membuka karakter kita yang sebenarnya. Apalagi jika ditambah dengan tingkat intensitas bertemu yang semakin sering. Sifat asli kita biasanya akan muncul.
Dan biasanya, ketika sifat asli setiap orang muncul, pintu ke arah konflik semakin terbuka lebar.
Kalau kita mencoba menghindarinya, konflik akan muncul dalam diri sendiri. Perasaan marah, kecewa, sebal, benci yang ditahan akan membawa kita menghindari komunitas sosial yang biasanya kita ikuti.
Jikalau kita terus membiasakan hal ini terjadi dalam kehidupan kita maka kita akan terus berputar-putar dalam hal yang sama dan cenderung mencari komunitas yang sempurna sesuai keinginan dan kemauan kita, yang biasanya jarang diketemukan.