Satu lagi benang merah di dapat. Kader PKS mengagung-agungkan pemimpin organisasi teroris Al Qaeda. Erdogan beserta partainya AKP dituding menyokong ISIS. Dan ISIS merupakan anak kandung Al Qaeda. AKP dan PKS sama-sama berhaluan Ikhwanul Muslimin (IM). Di Mesir, negara asalnya, IM dinyatakan sebagai kelompok teroris.
Selain di Suriah, kader IM pun terlibat dalam penggulingan Presiden Libya Moamar Khadafi. Di Libya kader IM aktif dalam propaganda anti Khadafi. Sama dengan yang terjadi pada Assad, kepada Khadafi pun kader IM mempropagandakanya sebagai pemimpin thagut, Dajjal, Firaun, gembong kekafiran, murtad, sekuleris, sosialis,dll. Ini mirip dengan yang dilakukan kader IM di Indonesia yang secara konsisten melakukan serangan dan mengumbar dan menularkan kebencian terhadap pemerintah. Jika diperhatikan serangan terhadap Jokowi mirip dengan yang dialami Khadafi dan Assad.
Dari kesamaan pola propaganda yang terjadi di di Libya, Suriah dengan di Indonesia, sudah seharusnya kewaspadaan bangsa ini terhadap penganut IM ditingkatkan. Aparat keamanan wajib mengingatkan rakyat Indonesia tentang bahaya kelompok berpikiran teroris ini.
Informasi yang disampaikan Luhut sendiri kemungkinan besar terkait dengan rencana kedatangan Syeikh Muhammad al-Arifi. 17 Januaro 2016 nanti akan hadir Syeikh Muhammad al-Arifi di Masjid Istiqlal Jakarta dalam acara tabligh akbar. Dan, Arifi dikenal sebagai ulama anti Syiah sekaligus sebagai penggobar semangat jihad di Suriah. Sedang salah seorang pembicara dalam forum tersebut adalah Arifin Ilham yang pernah diberitakan mendapat serangan dari penganut Syiah. Karenanya, kedatangan Arifi dan kolaborasinya dengan Arifin ini patut mendapat pengawasan lebih dari aparat keamanan, termasuk intelijen.
Tidak mengherankan jika kebencian terhadap Syiah meningkat jelang kedatangan Arifin. Karenanya, kedatangan Arifi dan kolaborasinya dengan Arifin Ilham dan ulama yang dikenal sebagai anti-Syiah lainnya patut mendapat pengawasan lebih dari aparat keamanan, termasuk intelijen.
ilustrasi
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H