Budaya dalam definisi diatas berarti mencakup hampir keseluruhan dimensi kehidupan manusia. Asalkan sesuatu yang dilakukan manusia memerlukan belajar maka hal itu bisa dikategorikan sebagai budaya. Hanya sebagian kecil dimensi manusia yang tidak dicakup dalam konsep budaya, yakni yang terkait dengan insting serta naluri. Hal serupa dikemukakan oleh Van Peursen (1988) yang menyatakan kebudayaan sebagai proses belajar yang besar.
Sedemikian luasnya konsep budaya, maka untuk memahaminya konsep tersebut kemudian dipecah-pecah ke dalam unsur-unsurnya. Koentjaraningrat (2002) memecahnya ke dalam 7 unsur, yakni sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan. Ketujuh unsur itulah yang membentuk budaya secara keseluruhan.
Keberuntungan(Penjaringan BAKAT Nasional + Re-edukasi Budaya + Reformasi Ekonomi)=Kemajuan Bangsa. Jadi, mungkin rasanya perlu membentuk Komis-komisi lain selain komisi yang ngurusi korupsi saja.
Ini lagi-lagi soal pemerataan kesejahteraan skala nasional. Dimana Reformasi Ekonomi yang sustainable sebagai suatu modalitas dan fondasi berjalannya suatu aktifitas dan Revisi budaya yang signifikan serta positif akan mampu mengubah paradigma Indonesia untuk bangkit menjadi suatu bangsa yang bisa memberikan suatu kontribusi positif baik secara nasional maupun internasional. Maka itu alangkah bijaksananya jika negeri ini mulai menggali dan menyaring bakat-bakat yang ada pada anak negeri yang terorientasi kepada tantangan ekonomi dan budaya yang perlu di reformasi dan revisi dengan efisien, progresif dan independen.
So, ready for awaken the giant within?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H