Program Pelatihan Coerver
Setelah melalui kerjasama dengan Nestle, Byer "hanya" melakukan pengembangan sepak bola remaja dengan tujuan hiburan. Dia lantas membuka sekolah sepak bola bersama dengan mantan pelatih Toronto FC, Paul Mariner. Keduanya sepakat untuk membentuk Program Pelatihan Coerver pada tahun 1993.
Program Pelatihan Coerver terinspirasi dari metode yang diciptakan oleh pelatih Belanda, Wiel Coerver. Metode tersebut disajikan dalam sebuah piramida dengan langkah-langkah yang dibangun dari dasar di bagian bawah, menuju simulasi permainan nyata di bagian atas.
Pemain akan memulai pelatihan dasar secara individual. Mereka akan diperlihatkan cara yang berbeda dalam mengontrol dan memainkan bola. Dalam hal ini, mereka akan berlatih tanpa lawan, meskipun pelatihan dasar tersebut digunakan ketika berada dalam situasi berhadapan dengan lawan. Tujuannya adalah agar pemain menguasai dasar permainan tersebut. Pelatihan itu pun akan terus diulang sampai pemain benar-benar lihai dalam melakukannya.
Setelah pelatihan itu tercapai, fokus bergeser ke fase menerima dan mengirimkan bola. Pemain diharapkan menguasai akurasi, sentuhan pertama yang baik dengan kedua kaki, dan didorong untuk berkreasi dengan passing sebagai kelanjutan.
Setelah segala dasar permainan dalam sepak bola telah berhasil dikuasai, pemain-pemain tersebut akan dikumpulkan dan diminta untuk melakukan uji coba satu lawan satu, di mana mereka harus menggunakan keterampilan yang telah dikembangkan untuk mengalahkan satu atau beberapa pemain bertahan.
Sekali lagi, proses pengulangan keterampilan yang diperoleh akan terus dilakukan, dengan tujuan membantu para pemain menjadi pemikir kritis dan pemecah masalah ketika berada di bawah tekanan tertentu.
Ketika tahapan dari bagian bawah piramida telah dilewati satu demi satu, fokus kemudian berlanjut ke dalam proses latihan kecepatan dan urgensi. Dalam hal ini, pemain akan diberikan latihan dengan dan tanpa bola untuk meningkatkan kecepatan, kelincahan, dan mempertajam pengambilan keputusan.
Ketika paket ball mastery, receiving and passing, 1v1 attack plus defense, hingga speed ability telah dikuasai, maka sampailah pemain pada proses pelatihan finishing guna mengasah insting mereka di sekitar gawang.
Pelatihan itu kemudian berlanjut ke pengumpulan kelompok besar, untuk menjalani simulasi permainan.
Melalui program pelatihan Coerver yang kemudian menjadi terkenal dan sangat populer, Tom Byer bisa dengan mudah menggaet banyak siswa. Sampai setidaknya awal 2022 kemarin, pria asal Amerika itu sudah memiliki sebanyak 100 camp latihan yang tersebar di seluruh Jepang.