Nisa pergi, bukan menghindari sebuah luka, apalagi lari meninggalkannya. Ia hanya berusaha menemukan jawaban atas apa yang terjadi padanya. Kabarnya lenyap di telan bumi, bahkan orang tuanya seperti bisu setiap kali ada orang bertanya mengenai anak sulungnya.
Tepat satu bulan setelah kepergian Nisa Rangga gagal menikah, tunangannya pergi entah kemana, mungkin menghilanng seperti Nisa. Orang tuanya mengatakan Laura meneruskan S2 nya di Amerika, negeri paman Sam nan jauh disana. Orang tua Laura tanpa beban mengatakannya pada tunangan anaknya. Mereka bahkan seperti lupa bagaimana nasib pertunangan anaknya. Mungkin S2 hanyalah alasan untuk melarikan diri dari Rangga. Rangga tak butuh cinta, Rangga dan orangtuanya butuh yang seagama, dan itu bukan Nisa yang tak mau dipisahkan dengan kepercayaannya.
"Tuan Rangga ada yang mencari."
Sapaan simbok mengagetkan Rangga yang masih tertunduk menatap foto Anissa Rahma Wijaya yang telah lama coba ia lupakan dari hatinya, lembaran cerita masa lalunya.
"Siapa mbok?"
"Katanya temen tuan"
Rangga berjalan menuju pintu ruang tamunya. Sesosok wanita matang nan cantik dengan jilbab merah hati nampak tersenyum padanya.
"Aku cuma mau silaturahmi, aku berjanji disaat hatiku benar-benar ikhlas memaafkanmu aku kan mengujinya dengan menenuimu. Dan sungguh aku telah ikhlas memaafkanmu Rangga, aku akan segera pulang, salam untuk Laura."
Gadis berkerudung itu nampak membalik, dan meneruskan langkahnya, sepertinya ia tidak ingin membebani Rangga untuk menyusun kata-kata permintaan maaf.
Rangga kembali sesak dengan apa yang bergejolak di hatinya....
Air mata laki-laki sejati kini mengalir di wajahnya, tak ingin ia mengusapnya, tak ingin ia menutpi lagi hatinya...
And when someday you're back again, I want you