Jinsu meneruskan acara main di taman bola, di bawah prosotan. Saya mengambil minum. Kalau mengurus anak-anak kadang suka lupa minum. Bisa bahaya kalau dehidrasi, makanya segera begitu ingat saya ambil minum di kelas.
Saat kembali, Jinsu terjatuh saat naik dinding taman bola itu. Guru lain yang ada di taman tidak ada yang melihatnya. Segera saya ambil plastik berisi gel biru untuk mengompres pendarahan. Tak banyak darah yang keluar tapi kebiasaan anak-anak TK situ memang begitu. Efek Placebo itu membuat mereka merasa tak sakit lagi kalau jatuh atau berdarah. Sama dengan si Jinsu.
Ia memang tidak menangis, karena tadi sudah saya pesan bahwa tak perlu menangis. Lukanya tidak parah. Hanya ada setitik darah dari gusi karena ada benturan antara gigi dengan papan.
"Tidak apa-apa. Semua sudah lewat. Lain kali hati-hati kalau naik. Kalau tidak bisa naik, mending tidak usah naik nanti bisa celaka." Nasehat saya.
Pelukan hangat saya hadiahkan padanya supaya ia tahu ada seseorang di sisinya Ketika ia dalam keadaan tidak menyenangkan. Dan ternyata pelukan itu meninggalkan noda flek merah di baju warna kuning.
"OMG, kamu berdarah Gana." Teriak Jan.
"Bukan, tadi Jinsu jatuh dan aku memeluknya supaya ia tidak menangis." Sembari berlalu menuju washtafel untuk mengelapnya dengan kain basah.
Jinsu sayang baby
Ai-ai. Polah Jinsu selalu menarik perhatian saya. Enggak tahu, ya, mengapa bagi saya, ia istimewa. Ia tipikal anak laki-laki betul tapi ternyata hatinya princess. Saya suka itu.
Suatu hari, senang rasanya begitu tahu bahwa Jinsu anak semata wayang itu juga sayang banget sama anak bayi.
Awalnya, di kelas kami ada 5 anak baru. Artinya ada ekstra waktu dan energi bagi kami, supaya anak-anak baru itu mau masuk TK dan tidak ingin pulang untuk tinggal di rumah saja bersama mamanya. Namanya Eingewoehnung. Saya akan cerita kapan-kapan tentang tradisi yang sudah trend di TK Jerman sejak 1980 an itu.