“Hati-hati, ya.“ Melepas sang bungsu dengan lambaian tangan dan jepretan kamera HP. Saya tancap gas, cabut dari balai.
Angin berhembus menusuk kulit. Serpihan salju beterbangan menampar muka. Hari memang sangat dingin. Salju berserakan di mana-mana. Pintu demi pintu dibuka pemiliknya, mempersilakan Sternsinger untuk bernyanyi dan salah satu memberi berkah pintu dengan menuliskan C+M+B+17 – Caspar, Melchior, Bhaltasar dan tahun 2017. Nama tiga raja yang diceritakan, menengok Yesus waktu lahir. Sternsinger mendoakan rumah dan pemiliknya dilindungi Allah.
Sternsinger baru saya kenal di Jerman. Sebelumnya, sewaktu di tanah air, itu tak pernah saya dengar atau lihat sendiri.
Saya memandangnya tidak semata kegiatan agama atau gereja yang tentu berbeda dengan agama yang saya anut atau masjid tempat saya biasa ibadah. Satu lagi, tradisi yang ditanamkan generasi tua kepada anak-anak sejak dini itu bagus! Ada pesan terselip “....bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.“ Sembari mengumpulkan uang sumbangan dari masyarakat di antara jarak jauh dan hawa dingin, banyak gula-gula dan coklat akan diberi. Akhirnya, tiap anak yang ikut akan dapat jatah banyak coklat. Coklat bikin Hormon happy.
Sungguh, sangat hormat dan kagum waktu asisten pastor melepas grup Sternsinger dengan pidato pendek dan menyebut tujuan Sternsinger itu adalah untuk membantu anak-anak di Kenya. Ribuan mulia. Contohnya tahun 2011, dana terkumpul 5.000 an euro. Lumayan banyak untuk membantu anak-anak kurang beruntung di belahan dunia yang lain, melalui kegiatan positif tadi. Bahkan ada anak-anak asal Turki yang ikut. Waktu saya tanya, tetap ada tanggapan positif dari orang tuanya.
Menurut saya, mayoritas anak-anak Jerman sangat berkecukupan. Entah dicukupi oleh negara dan atau orang tua. Bahkan kalau saya pikir lagi, berlebihan supportjasmani rohaninya dibandingkan dengan di tanah air. Ya, kegiatan ini memiliki hikmah yang baik untuk semua.
Sungguh beruntung punya kesempatan menikmati tradisi yang unik di Jerman bagian selatan itu tahun demi tahun. Menarik!
Sekarang, adakah tradisi yang mirip di tempat Kompasianer?
Selamat tahun baru, harapan dan lembaran baru.
Tetap semangat di Kompasiana, ya. Jangan pernah hilang. (G76)