Proyek ini dikembangkan dalam skema yang memiliki nama RADAR. Singkatran tersebut memiliki kepanjangan Reporter, Data, dan Robot.
Robot yang digunakan masih diawasi dan dioperasikan oleh lima orang wartawan senior. Proyek ini direncanakan akan diluncurkan pada tahun ini.
Menurut salah satu profesor komunikasi University Of London, Neil Thurman, keberadaan jurnalisme robot merupakan langkah yang menarik. Tetapi di sisi lain juga mematikan jurnalisme manusia.
Dibalik Alibi "Hemat Biaya"
Wartawan adalah orang yang bertugas untuk menghimpun fakta yang kemudian akan diolah secara kritis menjadi berita. Namun saat ini mempekerjakan banyak wartawan dinilai tidak lagi efisien.
Selain itu alasan biaya operasional juga dinilai mengganggu bagi beberapa perusahaan berita. Dengan adanya robot yang melakukan kerja jurnalistik tentu produksi berita dapat dilakukan kapan saja.
Robot tentu relatif hampir tidak membutuhkan waktu istirahat. Beda halnya dengan wartawan yang membutuhkan waktu untuk beristirahat dan melakukan berbagai kegiatan lain di luar memproduksi berita.
Fakta ini otomatis membuat robot lebih unggul dalam hal kuantitas produksi berita dibanding wartawan. Inilah kemudian yang menjadi dasar perusahaan berita mengatakan bahwa jika kerja jurnalistik dikerjakan oleh robot maka akan menghemat biaya.
Dibalik "hemat biaya" tersebut ada banyak spekulasi yang bermunculan. Salah satunya, penggantian wartawan dengan robot ini dinilai dapat mempermudah sebuah perusahaan berita untuk menghasilkan berita yang berlatar belakang tendensi tertentu.
Tentunya sangat disayangkan apabila kualitas dari suatu informasi digadaikan hanya demi "hemat biaya". Hal ini kiranya menjadi perhatian kita bersama, bagaimana masa depan para wartawan yang menaruh dedikasi tinggi pada dunia berita?
Implementasi Jurnalisme Robot