Respon siswa dan sekolah terkait kebijakan tersebut hanya sebatas untuk mengimplementasikan regulasi tersebut, karena telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam pembuatan kebijakan tersebut, pemerintah seharusnya melakukan sosialisasi secara menyeleuruh dan melibatkan peran aktif dari siswa sebagai aktor utama dan terdampak secara langsung dalam regulasi tersebut.Â
Apakah dengan bangun jam 4 pagi, siswa akan masuk perguruan tinggi ternama? Apakah siswa akan semakin produktif dalam belajar kedepannya? Kualitas, sistem dan teknis pendidkan yang ada di NTT seharusnya diperhatikan dan diperbaiki dahulu. Selain itu, karena pendidkan di NTT yang cenderung masih melihat atau menekankan angka sebagai titik keberhasilan siswa yang membuat serta membentuk pola kebiasaan maupun perspektif siswa yang belajar hanya sekedar untuk mengejar angka atau nilai yang tinggi. Padahal penekanan dalam pendidikan yang harus diutamakan adalah terkait pemahaman dan mental siswa dalam mengembangkan diri dan potensi yang dimiliki.Â
Oleh karena itu, sebelum membuat regulasi baru terkait pendidikan seperti ini, pemerintah NTT seharusnya memperbaiki berbagai permasalahan pendidkan yang ada serta meningkatkan pemerataan infrastruktur dan kualitas sekolah sebagai wadah untuk pengembangan siswa agar layak pakai dan mampu untuk meningkatkan potensi siswa.Â
Meningkatkan etos kerja dan kedisiplinan siswa merupakan hal yang sangat penting. Namun, cara yang diterapkan oleh pemerintah dengan menetapkan regulasi tersebut sangat tidak relevan dan efisien. Kebijakan tersebut harus dikaji dan dtinjau kembali dengan melibatkan berbagai pihak, sehingga aspirasi dan perspektif dari berbagai sudut pandang dapat dikaji sebagai tolak ukur dalam membuat kebijakan yang lebih bermanfaat kedepannya.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H