Genap dua tahun sudah aku bertahan di tanah rantau ini. Â Rindu yang kian menyesakkan batin harus aku tahan sekuat mungkin. Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin pulang. Berkumpul dengan keluarga di desa, namun apa daya tiket untuk pulang belum bisa aku beli.
Aku berusaha mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhanku disini. Aku tak mau merepotkan Bapak dan Ibu di desa karena aku tahu hidup mereka pun sudah susah.
Aku selalu menolak uang pemberian mereka. Ada rasa bersalah karena aku tak mampu memberi mereka uang lagi. Dulu aku sudah bekerja di sebuah pabrik. Namun aku memutuskan resign dan melanjutkan sekolah. Ibu sempat menghentikanku, karena keadaan keluarga kami yang memang serba kekurangan dan akulah yang menjadi harapan mereka. Namun akhirnya beliau mengijinkan aku sekolah lagi.
Beberapa waktu lalu, aku mencoba usaha. Menjual aksesoris dan hiasan ruangan. Alhamdulillah awal yang bagus karena banyak yang tertarik. Aku sampaikan kabar itu kepada keluarga dan bapak akhirnya ikut menyuplai barang. Namun usaha itu tak bertahan lama. Pasar mulai sepi. Sampai saat ini pun aku masih mencari cara untuk menjual barang-barang yang mulai tertutup debu. Bapak, maaf.
Mentari akhirnya mau menunjukkan wajahnya pagi ini. Sudah tiga hari ini dia dihalangi mendung.
Mungkin pertanda baik juga.
Tak lama kemudian bapak pos berbaju orangye terlihat sibuk membagikan surat di ujung gang. Beliau menghampiriku dan menyodorkan surat. Dari Ibu.
Salam rindu untuk Andini tersayang.
Assalamu’alaikum,Dek.
Alhamdulillah kabar keluarga di rumah sehat wal afiat. Ibu senang kalo kamu juga sehat disana.
Dek, kamu jangan merasa bersalah karena belum bisa mengirim uang ke rumah atau karena barang-barang bapak yang belum laku. Nggak apa-apa dek. Yang terpenting kamu belajar baik-baik disana. Jaga kondisinya. Jaga sholatnya juga!