Mohon tunggu...
Firly Nafila
Firly Nafila Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi

Mahasiswi aktif dan sering mengikuti acara internal atau eksternal kampus

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Tantangan dan Solusi dalam Menangani Konflik Keluarga

7 Agustus 2024   02:22 Diperbarui: 7 Agustus 2024   02:29 54
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sedangkan definisi keluarga menurut BKKBN, "keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya." Berdasarkan penjelasan di atas, keluarga dapat didefinisikan sebagai hubungan kekerabatan seseorang dengan orang lain yang didasarkan atas pertalian darah, perkawinan, atau pendekatan emosional yang bertujuan untuk membentuk sebuah interaksi, peran dan tanggung jawab pada masing-masing anggota yang di dalamnya.

Konflik Keluarga

Konflik yang terjadi antara orangtua-anak seringkali terjadi saat anak tumbuh pada masa remaja. Hal itu dikarenakan individu pada masa remaja mengalami masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, dimana remaja merasakan gejolak dan melakukan perlawanan. Konflik orangtua-remaja yang terjadi pada masa ini meliputi konflik yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti isu interpersonal, pelanggaran peraturan rumah dan penegakan hukum yang diterapkan orangtua terhadap anak. Orangtua dan remaja seringkali tidak membahas perbedaan pendapat yang terjadi diantara mereka, tetapi hanya mengabaikan dan menghindari perbedaan tersebut yang kemudian membuat konflik tidak terselesaikan.

Masalah ekonomi yang terjadi pada suatu keluarga bisa menimbulkan masalah atau konflik yang sangat hebat. Masalah ekonomi dalam keluarga terbagi menjadi dua, yaitu kemiskinan dan pola gaya hidup. Kemiskinan dapat menyebabkan krisis keluarga karena sulit memenuhi kebutuhan hidup, bahkan jika pendapatan terbatas, meskipun standar hidup layak relatif. Pertengkaran dalam keluarga sering kali timbul akibat ketidakmatangan emosional dalam menghadapi masalah ekonomi. Upaya pemerintah seperti program BLT bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan tetapi seringkali tidak efektif. Pola gaya hidup yang berlebihan juga dapat menyebabkan masalah ekonomi, karena mengikuti gaya hidup yang melebihi kemampuan finansial. Hal ini seringkali disebabkan oleh mindset hedonis yang mengutamakan kesenangan materi dan kebutuhan jangka pendek, serta tekanan sosial untuk mengikuti tren gaya hidup yang mahal.

Steinberg menekankan, konflik orangtua dan anak yang konsisten dan intens adalah abnormal dan orang tua lah yang mengalami lebih banyak stres dari konflik ini, 40% orangtua ternyata mengalami efek negatif seperti menurunnya harga diri, meningkatnya kecemasan, dan lain-lain. Sedangkan Santrock mengatakan konflik orangtua dan anak juga dapat membuat anak remaja lari dari rumah, hal ini terjadi karena remaja merasa tidak bahagia di rumah.

Edelbrock mengatakan, dalam sebuah studi, depresi, membolos, dan penyalahgunaan obat lebih umum dijumpai pada remaja yang lebih besar, sementara berdebat, berkelahi, dan berbicara terlalu keras lebih banyak dijumpai pada remaja yang lebih kecil. Loukas dan Prelow melakukan studi yang menunjukkan bahwa remaja lakilaki yang memiliki relasi lebih baik dengan ibu. Penjelasan-penjelasan tersebut menunjukkan bahwa remaja yang mengalami konflik dengan orangtua

Cara Mengatasi Konflik Kelurga 

Kurdek (1994) mengidentifikasi empat gaya penyelesaian konflik dalam keluarga, yaitu penyelesaian masalah positif, pertikaian, penarikan diri, dan tunduk. Konflik yang tidak ditangani secara konstruktif dapat memiliki dampak negatif seperti perilaku delinuen remaja, penyesuaian yang buruk, dan penggunaan zat terlarang. Konflik yang ditangani dengan agresi dapat menyebabkan perilaku eksternal yang agresif, sementara penghindaran konflik dapat menghasilkan perilaku internal seperti depresi. Konflik nilai antara orang tua dan anak juga dapat terjadi, dimana Natrajan (2005) mengajukan empat tahapan penyelesaian. Orang tua juga berperan sebagai mediator bagi anak dalam menghadapi dunia sosial yang lebih luas, dengan menggunakan berbagai strategi seperti coconing, pre-arming, compromise, dan deference. Konflik orang tua-anak pada dasarnya dapat berfungsi sebagai media dalam menanamkan nilai jika dikelola secara konstruktif.

Komunikasi adalah proses pertukaran makna guna melahirkan sebuah pengertian bersama dalam suatu keluarga. Sebuah komunikasi dapat dikatakan terjadi bila dua belah pihak atau lebih yang terlibat dalam komunikasi mencapai pemahaman bersama. Komunikasi dapat dikatakan sukses bila masing-masing pihak membagi makna yang sama. Dengan komunikasi akan melahirkan pertautan perasaan atau emosi yang kuat diantara mereka yang terlibat, karena itu guna meraih kebahagiaan keluarga, sebaiknya komunikasikan berbagai peristiwa penting yang dialami dalam keseharian agar masing-masing pihak semakin mengenal dunia masing-masing dan merasa dilibatkan dalam dunia satu dengan dunia yang lain. Diskusikan tentang hal-hal yang sedang dikerjakan atau yang sudah dikerjakan. Keluarga tanpa komunikasi bukan saja dapat menyebabkan kesalah pahaman, namun juga saling menjauhkan dunia masing-masing, sehingga akan nampak jarak yang semakin lebar diantara satu anggota dalam suatu keluarga.

Komunikasi merupakan kunci utama dalam membangun pemahaman bersama untuk menjaga kedekatan emosional antar anggota keluarga. Komunikasi yang baik melibatkan pertukaran makna yang jelas dan saling memahami. Keluarga dengan komunikasi yang buruk dapat mengalami kesalahpahaman dan menimbulkan konflik dalam keluarga. Oleh karena itu, sangat penting sekali untuk mempertahankan komunikasi yang terbuka agar hubungan antar anggota keluarga tetap harmonis dan saling mendukung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun