Mohon tunggu...
Firda Puri Agustine
Firda Puri Agustine Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Write, Enjoy, and Smile ;)

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi...

23 Oktober 2014   16:45 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:00 3476
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_349355" align="aligncenter" width="300" caption="Jokowi saat blusukan/dok.isitimewa"][/caption]

Sudah dengar lagunya Cita Citata, Sakitnya Tuh di Sini, kan? Lagu ini belakangan populer dimana-mana, baik dijadikan meme, parodi, dan lain-lain. Memang enak didengar sih.

Pas banget juga menggambarkan perasaan teman-teman yang kecewa di-PHP (Pemberi Harapan Palsu)-in Pak Presiden, setelah tadi malam batal mengumumkan nama-nama menteri. Kenapa jadi dramatis? Ya, karena mereka sudah standby jauh-jauh ke Tanjung Priuk, tempat yang dipilih Jokowi melakukan konpres (konferensi pers).

Saya iseng coret-coret setelah membaca keluhan Sita, kawan The Jakarta Post di Path. "Dua tahun enggak pernah ngeluh, Pak. Cuma yang ini agak keterlaluan aja sik. Please, Pak. Focus. And deliver. Thats all I ask". Kalau dengar langsung ceritanya, memang betul, menurut saya Jokowi agak keterlaluan.

"Lo bayangin aja, Fir. Gue bela-belain ke Priuk naik ojek dari Sarinah cuma buat nguber ini doang. Nyampe sini nunggu hampir tiga jam, eh malah batal," kata Siwi, kawan saya dari salah satu media online yang tak mau disebutkan namanya. Keluhan lain, "Gue sebel banget sama Jokowi. Yang jelas dong agendanya,".

Meski tidak se-lama Sita nge-pos di Balai Kota, saya sering juga kena PHP. Bahkan, sejak hari pertama bertugas di sana. Sudah capek lari-lari, duit terkuras karena mesti bolak balik naik ojek, eh, enggak dapat beritanya. Entah Jokowi yang hilang mendadak, atau di detik terakhir, dia mengubah agenda.

Awalnya, saya merasa, ini orang kok enggak menghargai banget wartawan ya, yang sudah rela menunggu, hanya untuk dengerin pernyataannya aja, walau cuma satu kata. Enggak menghargai juga ajudan, sopir, dan orang-orang yang sudah menyiapkan agenda. Tapi, ya memang begitulah Jokowi.

Orang ini unik, aneh, atau apalah namanya. Dia bisa membuat keputusan yang sangat cepat, yang kadang bikin mata melotot. Saya ingat kata salah satu sopir pribadi Jokowi, "Sudah biasa Mbak, Bapak kayak begitu. Jantung saya pernah mau copot karena pas lagi jalan di jalur cepat, Bapak minta tiba-tiba belok kiri, belok kanan,".

Atau, bentuk PHP lain, terjadi saat peresmian pasar di Cibubur yang dihadiri Mendag Gita Wirjawan, dan sejumlah pejabat lain waktu itu. Teman-teman wartawan banyak yang standby di Cibubur, ternyata Jokowi enggak jadi datang. Dia malah 'cuek' aja ke Bintaro, lalu Tanjung Priuk. Beruntung, saya dan sedikit kawan mengikuti dia dari rumah dinasnya di Taman Surapati.

Nah, sekarang, setelah jadi Presiden, apa wartawan juga harus mengikuti benar-benar dari tempat dia berada juga? Saya pikir, soal agenda-agendaan, Jokowi berubah. Mau menaati protokoler. Ternyata, tetap sama.

Saya paham sih, tidak mudah menunjuk orang menjadi menteri yang nanti membantunya. Tapi, ya, kalau belum pasti, jangan dululah berjanji, 'Nanti malam diumumkan'. Kan kasihan sama wartawan, paspampres, dan semua yang terlibat. Mereka rela lho nungguin berjam-jam hanya untuk ini.

[caption id="attachment_349356" align="aligncenter" width="300" caption="Wartawan yang menunggu Jokowi saat masih berkantor di Balai Kota, Jakarta. /dok. istimewa"]

14140321751288148426
14140321751288148426
[/caption]

Cuma saya masih coba berpikir sedikit positif. Kejadian semalam, bisa jadi ada kesalahpahaman, atau miskomunikasi antara Jokowi, staf ahli, stah humas, dan paspampres. Bisa aja kan, Jokowi-nya sendiri memang belum fixed memutuskan agenda itu karena ada kata 'mungkin'. Tapi, kemudian ditafsirkan berbeda oleh orang-orang di sekelilingnya?.

Apapun, Jokowi yah begitu adanya. Bagi wartawan yang sudah 'biasa' dengan sikapnya saja, kejadian semalam mengecewakan. Apalagi, bagi wartawan yang baru mengenal dia lebih dekat. Kecewa-nya itu ditambah oleh lokasi yang jauh, kondisi tubuh yang sudah lelah, dan otak yang sudah kepengen istirahat. Saya paham betul rasanya.

Malah, katanya Syailendra, kawan Tempo, "Jokowi agak mengidap narsisme introvert, diam-diam narsis yang membahayakan,". Bisa jadi juga. Lho, buat apa mengumumkan nama menteri saja harus di Tanjung Priuk? Biar klop sama visi kemaritiman dia? Menurut saya, kok enggak pada tempatnya.

Saya jadi penasaran, siapa sih yang mengatur strategi pencitraan dia? Jangan-jangan Jokowi-nya sendiri memang mau mengumumkan di Istana Merdeka saja. Atau, memang dia sekarang dihinggapi sindrom seorang bintang? Kalaupun iya, semoga hanya sesaat.

Di sisi lain, sebagai seorang wartawan di era sekarang, rasanya belum lengkap kalau belum ikut berinteraksi dengan Jokowi. Kenapa? Karena dengan ikut meliput dia, jadi ujian tersendiri. Ya, uji ketahanan fisik, uji mental, uji hati pula. Mesti lari-lari, berdesak-desakan, rela kepala kena mikrofon, rela kesenggol tripod, ikhlas hape dicopet, sabar di PHP-in, dan segudang tantangan lain.

Justru, ketidaknyamanan itu akan memberi pelajaran, bahwa menjadi seorang wartawan tidak mudah. Wartawan yang bener-bener wartawan loh ya, bukan yang abal-abal. Enggak boleh cengeng, dan jangan berlarut-larut mengeluh. Wah, kalau enggak ada passion, bisa stres pasti.

Eh, mungkin juga Jokowi ingin 'mengospek' wartawan dengan sikap-sikap dia yang unpredictable. Cuma ya, jangan sadis-sadis banget-lah, Pak. Kalau mau anti mainstream, ngumumin kabinetnya kan bisa sambil lesehan di Istana Merdeka, atau di rumah makan favorit Bapak. Setidaknya, kalaupun keputusan harus diubah, mereka enggak sengsara-sengsara banget.

Kalau soal pengumuman menteri yang terkesan lambat, ya wajarlah. Jokowi enggak mau salah pilih orang. Cuma caranya aja yang menurut saya terlalu berlebihan. Nah, buat kawan-kawan yang masih bertugas 'mengawal Jokowi' dari dekat, saya kirim sepuluh jempol. Kalian luar biasa.. Saya tunggu video klip Sakitnya Tuh di Sini versi wartawan peliput Presiden..He-he.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun