Mohon tunggu...
De Kils Difa
De Kils Difa Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penikmat

Berkarya Tiada BAtaS

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Cinta Mati?

4 Desember 2015   13:19 Diperbarui: 4 Desember 2015   13:41 184
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Aku pernah sesumbar, “Kalau hidup harus tetap dijalankan, walau banyak rintangan”. Tapi aku tak habis pikir, kenapa banyak orang gampang untuk menyerah pada keadaan. Kemarin Anton baru saja ditinggal oleh adiknya. Reaksinya terlalu berlebihan. Ia menangis sejadi-jadinya. Teriak kencang mirip orang sedang kesurupan. Sumpah serapah keluar begitu saja.

Tak pandang bulu, siapapun yang ada di depannya akan disemprotnya habis-habisan. Kedua tangannya dipukulkan ke tembok. Segala macam barang yang berada di dekatnya, dilempar jauh-jauh. Entahlah. Terdengar kabar ia melakukan seperti ini, karena adanya penyesalan yang mendalam. Menyesal karena tak mampu menyelamatkan adiknya. Ia terlalu asyik dengan bermain gaplek bersama kawan-kawannya dari pada membawa adiknya ke rumah sakit sebagaimana yang diperintahkan oleh emaknya.

Tak jauh beda, dua hari yang lalu. Di kampung sebelah, tersiar kabar ada seorang istri yang nekat ingin bunuh diri karena ditinggal mati oleh suaminya. Untung ada seorang warga yang menyelamatkan dirinya ketika ingin terjun bebas ke dasar sumur tua di kebun pak Somad. Lebih tragis lagi, anak satu-satunya berumur 8 tahun dibawa ikut serta untuk bunuh diri. Sungguh senewen. Ada apa gerangan dengan warga masyarakat. Apakah hatinya sudah tak punya perasaan? Sehingga mudah melakukan tindakan yang tidak masuk akal.

Sekarang di tanganku tergambar jelas foto di surat kabar, wanita yang sudah menjadi mayat karena tak mau di tinggal mati oleh pacarnya yang meninggal di tabrak motor saat melintasi kampung sawah tengah malam oleh segerombolan pemuda yang sedang melakukan balapan liar. Kejadianya memang terlalu cepat. Sang wanita yang diboncengi oleh pacarnya kaget setelah melihat banyak darah keluar dari kepala kekasihnya.

Ia menggerakkan tubuhnya untuk membangunkan pacarnya, tapi tak mampu. Hingga ia melihat kekasihnya menghembuskan nafas. Ia berteriak kencang. Beberapa orang yang kebetulan lewat tak lama setelah kejadian, segera menghampirinya, namun sayang, kedatangan mereka terlambat sepersekian detik. Karena tak lama setelah berteriak, ia pun membunuh dirinya dengan menyilet aliran darah menggunakan pecahan kaca sepeda motornya. Aneh…

##

Aku terbangun dari tidur saat mendengar batuk keras dari kamar emak. Segera kuberanjak ke dapur dan membawakan air putih hangat untuknya. Ia tergeletak lemah. Kuperhatikan wajahnya yang semakin keriput karena penyakit. Tubuh kurusnya berselimutkan dua jaket tebal peninggalan almarhum bapak. Tapi ia menggigil. Ku letakkan telapak tangan di atas dahinya. Panas. Bahkan sangat panas. Ia tersenyum saat kusodorkan air putih hangat untuk sekedar melegakan tenggorakannya.

“Emak harus kuat ya …..!!!”

Ia diam.

“Emak ngga boleh patah semangat. Kemarin bu Juned sembuh dari penyakit jantungnya. Padahal ia tidak dirawat di rumah sakit”

Lagi ia diam. Aku memijit-mijit tubuh kurusnya yang terasa seperti bara api. Ia menggumam. Tapi aku tak faham. Mungkin ia merintih menahan sakit. Aku kembali ke dapur mengambil air untuk mengompres suhu badan emak. Kali aja, tinggi panasnya bisa berkurang. Sekembalinya, aku melihat emak sudah tertidur lagi. Aku jadi tenang. Urung aku lakukan mengompres kepala emak. Aku takut mengganggunya. Aku kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur.

##

Emak memang sudah tua. Umurnya kini kurang lebih 65 tahun. Sudah cukup melampaui batas umur yang diberikan Allah pada kekasihnya, Muhammad. Ia menjadi orang tua tunggal bagiku sejak bapak meninggalkan aku di umur 12 tahun. Aku tak tahu penyebab kematian bapak. Sebab, aku tak pernah melihat mayatnya. Yang kutahu hanya kuburannya saja. Itupun menurut pak RT. Bukan dari emakku. Emak merahasiakan sebab-sebab kematiannya. Beredar kabar, bapak meninggal karena dibunuh orang. Ada lagi yang bilang, bapak meninggal karena tertabrak kereta. Tapi ada yang bilang, bapak meninggal karena diguna-guna. Entahlah mana yang benar, yang terpenting Aku cukup bahagia hidup dengan emak. Terserah dengan bapakku.

Menjalani hidup dengan emak banyak sukanya dari pada dukanya. Padahal hidup kami tidak bisa dibilang cukup. Kami bertahan hidup hanya mengandalkan hasil dari jualan sayur mayur emak ke desa-desa. Tak lebih. Emak sangat sayang aku. Walau tak menyekolahkan aku setelah lulus MI (Madrasah Ibtidaiyah), aku tetap diperhatikan dan dimanja terus menerus

. Kalau aku boleh bilang, emak menganggapku seperti putera mahkota. Segala kebutuhan, selalu diupayakan untuk bisa terpenuhi. Ia melarangku untuk bekerja, selain membantunya berjualan sayur keliling. Aku senang menjalaninya. Tak pernah terpikir olehku rasa minder sebagaimana seorang anak yang merasa malu dan sangat minder pada teman-temannya karena memilliki bapak sebagai tukang kebun di rumah milik seorang pejabat sebagaimana kulihat dari sinetron. Dasar dunia, ada saja orang seperti itu. Padahal kalau dipikir, kalau tidak ada bapaknya, bagaimana ia akan bisa melanjutkan sekolah dan jajan sehari-hari. Sungguh manusia tak mau diuntung.

##

Ini adalah bulan ketiga emak tergeletak di tempat tidur usangnya. Berbagai kebutuhan sehari-hari telah aku penuhi dengan sepenuh hati. Sebetulnya, aku sudah lelah. Tapi harus mau bagaimana. Aku tak memiliki apa-apa untuk dipergunakan sebagai biaya membawa emak ke rumah sakit. Pernah aku mencoba meminta tolong kepada ketua RT tempat aku tinggal. Tapi apa daya, kami tak memiliki kekuasaan. Mengetahui kami adalah seorang fakir miskin di daerah “kekuasaanya” ia mencoba menolak memberi bantuan dengan cara halus.

Dan aku sebagai orang yang tak berdaya, menyerah begitu saja. Terpaksa selama ini aku menjaga dan merawat emak dengan hanya mengandalkan cara tradisional. Memijit dan mengerokinya. Terkadang beli obat di warung, itupun kalau ada untung lebih dari aku menjual sayur keliling sendiri mengganti emak.

Aku perih menghadapi ini. Dulu, kalau ada masalah menimpa kami, aku merasa sanggup menjalaninya karena masih ada emak. Kami saling menutupi dan memperbaiki satu sama lain. Kini, aku merasa kesepian. Semua beban terasa benar di pundakku. Penghasilanku yang hanya Rp. 100.000 setiap harinya, tak begitu mencukupi karena itu harus dipotong sebagai modal untuk jualan esok hari. Paling sisa 10.000, paling banyak ya 15.000. Aku harus berputar otak. Ingin setelah berjualan pagi hari aku mencari sampingan kerja, tapi tak tega kutinggalkan emak seorang diri di gubuk renyot dengan kondisi sakit . Kepalaku pusing memikirkan ini. Aku tak tega melihat kondisi emak yang hanya bisa berbaring. Hari-hariku terus dirudung sedih.

Pernah suatu hari saat aku berjualan, seorang ibu pembeli menghampiriku. Mungkin ia heran dengan sikapku yang kali ini tampak murung dan sedih. Padahal sehari-harinya, aku selalu berjualan dengan ceria. Tak heran, ibu-ibu komplek disini menyukai dagangan dan sikapku.

“Ada apa bang?” tanyanya setelah para pembeli pergi dan tinggal kami berdua.

“Oh… ngga bu. Maaf ada yang kurang ya…” aku gugup setelah ia mengagetkanku ditengah lamunan.

“Tidak, ibu lihat dua hari ini Abang kayanya sedih mulu. Ada apa bang?”

“Ah.. ngga bu. Biasalah… problem pedagang”

“Oh…modal maksud Abang?”

Aku tersenyum menyikapi jawabannya.

“Ngomong-ngomong Emak kemana ya? Sudah lama saya tidak melihat abang berjualan dengan emak. Maklum kemarin-kemarin, belanjaan yang beli si Ijah terus”

“Ehhh… emak lagi kurang sehat”

“Ya ampun… pantes tak pernah terlihat. Sakit apa bang”

“Biasa bu, sakitnya orang tua”

“Ohhh… kirain sakitnya apa? Ya udah, nanti titip salam ya. Semoga lekas sembuh”

“Insya Allah bu”

“Kalau begitu saya balik bang”

“Mari bu, terima kasih”
Aku pergi dengan sejuta harapan, semoga emak baik-baik saja di sana.

“Sayur…. Sayur…. Sayur….!!!!”

##

Aku tak sanggup lagi menahan tangis ketika kulihat emak merintih menahan sakit yang dirasa. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Semuanya kurasa sudah. Kubelikan obat di warung dan emak meminumnya, sudah. Ku olesi perut emak dengan minyak angin kegemarannya, juga sudah. Kuberi minuman jahe hangat juga sudah. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia terus merintih.

Kupanggil emak Jinah tetangga paling dekat dari rumahku. Ia menghampiri. Membantu sebisa yang ia lakukan. Kuperhatikan tingkah lakunya. Ia terlihat agak panik. Keringatnya mengucur deras seperti yang aku rasakan. Rupanya, ia juga bingung harus melakukan apa setelah tadi memijit-mijit tubuh emak. Emak masih merintih. Air matanya terlihat keluar. Mungkin amat sangat sakit. Bu Jinah segera menyarankanku memanggil becak untuk membawa emak kerumah sakit terdekat di wilayahku. Aku segera menyetujui usulnya.

Aku berlari sekencang-kencangnya menuju pangkalan becak. Tak kuperdulikan orang-orang yang berpas-pasan denganku melihat dengan heran. Aku terus memacu kecepatan. Tepat di prapatan, aku menemukan mang Ujang sedang mangkal sendirian. Mang Ujang asli orang Sunda, tapi walau sudah berumur 50 tahun ke atas, ia tetap di panggil Mang oleh para warga. Aku berteriak memanggil namanya. Segera ku ceritakan maksudku. Tanpa tawar-tawar lagi, aku menyetujui harga yang disodorkan kepadaku. Sebab, dikepalaku hanya ada membawa emak cepat ke rumah sakit.

Kuperintahkan mang Ujang mengayuh becaknya dengan cepat. Tapi apa daya, umur telah menggerogoti fisik dan kekuatannya. Aku hanya bisa protes kecil di dalam hati atas kelambatannya ini. Tak lama, kurang lebih 5 meter dari rumahku. Aku melihat sudah banyak orang di rumahku. Aku tak memiliki firasat apa-apa.

Sesampainya di rumah, Aku menunduk lesu. Kulihat ada Pak RT yang kemarin menolak membantu aku dan seorang ustadh muda yang belum aku kenal  tentang dirinya. Aku masuk rumah. Tangisku meledak, ketika kulihat ada sekujur tubuh tua yang terbaring lemah dengan wajah ditutupi kain. Ada dua orang sedang asyik membaca al-quran. Tubuhku langsung dipegang erat oleh ibu-ibu yang berada di ruang tengah. Aku tak tahan, aku meronta. Kupeluk tubuh tua yang ternyata sudah terbujur kaku. Kupanggil namanya berulang-ulang. Tapi ia tak menyahut. Kupanggil lagi berulang-ulang. Lagi ia tak menyahut. Aku kaget. Tak lama mataku berkunang-kunang. Pandanganku jadi tak jelas dan tiba-tiba…..

##

Pagi ini, Aku membaca Koran bekas sebagaimana yang kulakukan pada hari-hari sebelumnya. Kucari kolom favoritku. Di sudut atas kiri terdapat kolom berita mengabarkan “Seorang anak menjadi strees setelah ditinggal mati emaknya. Ia mengamuk sejadi-jadinya kepada para pelayat yang bertakziah kepadanya. Amukannya memuncak ketika melihat seorang lelaki agak tua, dengan memakai kopyah hitam mendekatinya dan memberinya ucapan turut berduka cita. Ia mencengkram leher lelaki itu dan mencekiknya hingga meninggal. Tak digubrisnya teriakan-teriakan para pelayat untuk menghentikan tindakannya. Setelah itu, diketahui lelaki itu adalah seorang pejabat RT di wilayah tersebut. Kini sang anak di penjara karena perbuatanya.”

Aku tersenyum membacanya. Kepuasan menyelimuti alam pikiran. Tapi sejenak terlintas pertanyaan. Ada apa gerangan dengan diri..? aneh….!??! Tak lama kemudian, Aku tertawa keras dalam ruang beruji besi seorang diri.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun