Di warung-warung makan pinggiran saja, dengan harga segitu, mungkin kita hanya bisa makan sepiring nasi dengan lauk sepotong tahu atau tempe, paling banter kalau pemilik warungnya baik hati, kita akan mendapatkan "sebentuk" telur ceplok, tanpa tambahan sayur apalagi buah.
Ya, memang bergizi juga sih, tapi apakah "bergizi" seperti itu yang diharapkan dari program makan bergizi gratis yang diglorifikasi sedemikian rupa tersebut?
Saya kira, kalau hanya seperti itu lupakan saja lah program makan bergizi gratis ini, anggarannya mungkin lebih baik dialihkan untuk yang lebih bermanfaat.
Ke depan bagi para politisi yang berambisi menjadi pemimpin negara atau daerah, mungkin ada baiknya kalau membuat program kerja itu sudah jelas  dan detil peta jalannya dan paham bagaimanan cara mengimplementasikannya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI