Vol. 1, No. 1 (2022): page-page
http://urj.uin-malang.ac.id/index.php/dsjpips
FENOMENA SOSIAL: Tindakan Bunuh Diri Pada Mahasiswa UI
Zahratul Hamidah
Pendidikan IPS, Fakultas Imu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia
zhrbintitaufik@email.com
ABSTRACT
Suicide requires that the death be accompanied by self-destructive expectations. By analyzing the degree of self-destructive thoughts in students' minds and their tendency to develop self-destructive thoughts, this thought exercise explores the mystery of studying suicide. The Self-destructive Behavior Questionnaire-Revised (SBQ-R) scale (α = 0.760) was used in this quantitative assessment. Graphic analysis and relapse inspection were used to analyze the data that had been collected. 36 out of 62 understudies had high rates of self- destructive thoughts and attempts, according to the study.It seems from this study that age affects suicidal thoughts and behaviors (p=0.018).
Keywords: Suicide Ideas ; Suicide Attempts ; Collecte data
ABSTRAK
Kematian harus disertai dengan niat untuk bunuh diri agar dianggap bunuh diri. Dengan melihat tingkat pemikiran bunuh diri di benak siswa dan kecenderungan mereka untuk melakukannya, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari fenomena bunuh diri. Skala Suicide Behavior Questionnaire-Revised (SBQ-R) (α = 0,760) digunakan dalam penelitian ini sebagai metode kuantitatif. Analisis regresi dan deskriptif digunakan untuk menganalisis data yang dikumpulkan. Dari 62 siswa yang terlibat dalam studi, 36 menunjukkan tingkat pemikiran dan upaya bunuh diri yang tinggi. Menurut penelitian ini, usia memengaruhi keinginan bunuh diri dan upaya bunuh diri (p=0,018).
Kata-Kata Kunci: Suicide Behavior; deskriptif; regre
PENDAHULUAN
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memilih “pencegahan bunuh diri” sebagai tema Hari Kesehatan Mental Sedunia, dan untuk alasan yang baik. Hampir 800.000 orang melakukan bunuh diri setiap hari.Artinya setiap 40 detik suatu organisme di bumi melakukan bunuh diri, dan untuk setiap organisme hidup yang melakukan bunuh diri, diperkirakan ada 25 individu lainnya yang mencoba bunuh diri bunuh diri (Nurchayanti, 2019).
Dalam bahasa Indonesia, "bunuh diri" adalah terjemahan dari kata "suicide." Sir Thomas Browne, seorang dokter dan filsuf Inggris, pertama kali menggunakan istilah ini dalam buku berjudul Medici Religion yang diterbitkan pada tahun 1643 (De Leo, Burgis, Bertolote, Kerkhof & Bille-Brahe, 2006). Bunuh diri berbeda dari membunuh orang lain (Minois, 1999).
American Psychiatric Association (APA) mendefinisikan perilaku bunuh diri dalam situs resminya sebagai pola perilaku individu yang melakukan bunuh diri, seringkali karena depresi atau penyakit mental lainnya (APA, 2018).
Pada tahun 2005 terjadi 30.000 kasus bunuh diri, dan 5.000 kasus lagi terjadi pada tahun 2010. Jumlah kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan karena berbagai alasan, seperti malu atau untuk melindungi reputasi pelaku, tidak tercakup dalam data ini. Menurut grafik data kasus bunuh diri di Indonesia, laki-laki empat kali lebih mungkin melakukan bunuh diri dibandingkan perempuan, dan perempuan empat kali lebih mungkin melakukan uji coba bunuh diri dibandingkan laki-laki.
Data dalam infografik juga menunjukkan beragam penyebab bunuh diri, antara lain kesedihan, frustrasi finansial, konflik keluarga, dan masalah pendidikan. Pada 4 Oktober 2018, masyarakat dihebohkan dengan tindakan seorang pemuda yang bunuh diri di depan kampus sekolah. Berdasarkan data yang dihimpun peneliti melalui situs berita online, serangkaian kasus bunuh diri ditemukan oleh pelajar sepanjang tahun 2018, terhitung sejak tahun 2018. Tercatat 11 kasus bunuh diri dan 2 percobaan bunuh diri dari laki-laki dan perempuan dari Januari hingga Oktober. 10 pria dan satu wanita telah bunuh diri. Ada enam orang yang berusia 20–22 tahun, empat orang berusia 23–26 tahun, dan dua orang tidak terdaftar.
KAJIAN LITERATUR
Sub Pembahasan
Dalam penelitian ini, kami menggunakan teori Emile Durkheim tentang bunuh diri dari bukunya yang diterbitkan pada tahun 1897, "Suicide: A Study in Sociology", yang setebal 374 halaman dan diterbitkan oleh The Free Press. Buku Perancisnya, "Le Suicide: Etude de Sociologie à Paris", diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Routledge dan Kegan Paul Ltd. pada tahun 1952. Durkheim berpendapat bahwa karya-karya ini dapat menunjukkan peran masyarakat belajar dalam ujian bunuh diri, yang sebagian besar dianggap sebagai tindakan individu. Dalam kapasitasnya sebagai sosiolog, Durkheim dengan bebas menyelidiki lebih lanjut tentang seseorang yang memutuskan untuk bunuh diri.
Durkheim menjelaskan perbedaan dalam tingkat bunuh diri dalam karyanya Suicide. Dia menjelaskan mengapa beberapa kelompok memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi daripada yang lain. Menurut Durkheim, hanya realitas sosial yang dapat menjelaskan mengapa suatu kelompok memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya, meskipun faktor psikologis mungkin dapat menjelaskan mengapa beberapa anggota masyarakat tertentu memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Durkheim menyarankan dua cara untuk mengukur tingkat bunuh diri. Yang pertama melibatkan membandingkan berbagai jenis komunitas atau masyarakat. Yang kedua melihat perubahan tingkat bunuh diri di komunitas yang sama dari waktu ke waktu. Durkheim menyadari bahwa orang dapat memiliki banyak alasan berbeda untuk bunuh diri. Namun, penyebab sebenarnya tidak ada di sini.
Alasan-alasan ini adalah kelemahan individu, yang paling mudah dipengaruhi oleh arus eksternal yang membawa kebutuhan kuat untuk menghancurkan diri sendiri. Namun, alasan-alasan ini tidak dapat dipahami karena tidak termasuk dalam alur. Menurut George Ritzer (2012), untuk memahami teori bunuh diri Durkheim, kita harus memahami bagaimana jenis bunuh diri berbeda-beda dengan dua fakta sosial utama: integrasi dan regulasi. Keterlibatan yang kuat yang kita miliki dalam kehidupan sosial dikenal sebagai inklusi. Tingkat paksaan dari sumber luar terhadap individu atau masyarakat disebut regulasi. Menurut Durkheim 5, kedua aliran sosial ini berkorelasi satu sama lain, dan jika salah satu aliran ini terlalu rendah atau terlalu tinggi, angka bunuh diri akan berubah. Durkheim mencapai kesimpulan bahwa komponen penting.
Dengan kata lain, perubahan dalam perasaan masyarakat akan mempengaruhi perubahan tren sosial, yang pada akhirnya akan menentukan tingkat bunuh diri di masyarakat. Durkheim mengatakan bahwa keteraturan, individualitas, dan kecenderungan bunuh diri adalah ciri-ciri masyarakat. Perbedaan keteraturan dapat muncul dari satu jenis masyarakat ke jenis masyarakat lainnya pada titik tertentu, yang secara ilmiah menunjukkan bahwa bunuh diri adalah fenomena autogenous. Bukan masalah individu, bunuh diri adalah fenomena sosial. Dalam masyarakat sederhana, ide dikomunikasikan secara spontan antara individu dan antara individu. Hal-hal ini secara alami tersinkronisasi satu sama lain. Berupa dukungan emosional satu sama lain, karena kita adalah manusia yang senantiasa saling membantu dan membangun satu sama lain. Durkheim berusaha untuk mengembalikan kesadaran kolektif dalam masyarakat modern yang individualistis. Dia menjelaskan kesadaran kolektif sebagai suatu keseluruhan yang kompleks dan bukan hanya solidaritas mekanis.
METODE
Penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan kuantitatif Metode sampel acak digunakan untuk mengumpulkan sampel. Sebanyak 62 orang dari mereka yang menjawab mendaftar di jurusan psikologi universitas. Kuesioner Perilaku Bunuh Diri yangdirevisi oleh Osman, Bagge, Gutierrez, dan Konick (α= 0,760) digunakan sebagai ukuran penelitian. Tembaga dan Barrios (2001). Skala SBQ-R dapat digunakan untuk mengukur pikiran dan upaya bunuh diri (pembentukan ide dan upaya) (perilaku bunuh diri di masa lalu) pada siswa digunakan dengan pertimbangan.
HASIL
Tabel analisis deskriptif menunjukkan bahwa nilai ide dan upaya bunuh diri rata-rata (median) 6.85, nilai rata-rata (median) 6.00, nilai modus 4.00, nilai minimum 3.00, dan nilai maksimum 16.00. Untuk mengklasifikasikan, dua kategori, "Tinggi" dan "Rendah", digunakan.
Tabel di atas menunjukkan bahwa siswa (58,1%) cenderung berpikir dan berusaha sendiri.
Hasil analisis menunjukkan bahwa usia mempunyai hubungan yang sama besarnya dengan keinginan bunuh diri dan upaya bunuh diri pada siswa (p=0,018).
Model regresi juga menunjukkan bahwa usia mempengaruhi keinginan dan upaya bunuh diri (β = -0.299, t = -2.426, p = 0.018 < 0.05, R2 = 0.089).
PEMBAHASAN
Menurut analisis tingkat pemikiran dan upaya bunuh diri yang dilakukan pada siswa sekolah menengah (tingkat tinggi dan rendah), 36 siswa (58,1%) memiliki kecenderungan untuk mengalami pemikiran dan upaya bunuh diri pada tingkat tertentu. perbedaan antara bunuh diri secara nyata dan konsep bunuh diri. Bunuh diri seringkali terjadi secara impulsif, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh beberapa orang. Meskipun demikian, gagasan bunuh diri seringkali telah dipertimbangkan beberapa hari, minggu, atau tahun sebelumnya (Woelandrie, 2017). Tetap saja, ada kemungkinan bunuh diri. Pikiran untuk bunuh diri pasti pernah terlintas di benak setiap orang. Pikiran ini dapat muncul kembali dalam beberapa situasi dan mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri.
Selain itu, pikiran dan upaya bunuh diri sering kali muncul secara naluriah. Tidak mengherankan jika ide tersebut juga dapat mendorong perilaku bunuh diri. Menurut Hadirami (2006), ide bunuh diri (suicide thought) selalu mengikuti tindakan bunuh diri.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengobatan yang serius sangat penting, seperti memberikan semangat dan edukasi secara aktif kepada siswa tentang bunuh diri dan dampak kesedihan terhadap keluarga, teman, dan kerabat di sekitarnya. Selain dukungan sosial, pengetahuan kesehatan mental pengetahuan juga menjadi tren wajib dan juga harus dilanjutkan masih ada pengetahuan kesehatan mental pada tingkat tertentu lemah (Idham, Rahayu, As-Sahih, Muhiddin dan Sumantri, 2019).
Selain itu, hasil analisis regresi menunjukkan bahwa usia dapat berdampak pada keinginan dan upaya siswa untuk bunuh diri. Studi ini menemukan bahwa usia rata-rata siswa adalah 22 tahun, yang sesuai dengan data dari Emory University pada tahun 2015 (Ermawati, Moediarso, & Soedarsono, 2018), yang menunjukkan bahwa ada kemungkinan tinggi bahwa siswa akan bunuh diri di sekolah. Keinginan untuk bunuh diri dalam kelompok usia 18-25 tahun 4.444 kali lebih tinggi daripada kelompok usia 18-24 tahun.
Hasil penelitian di wilayah tersebut menunjukkan bahwa angka bunuh diri tetap tinggi di beberapa negara, seperti Perancis, dan bahkan di negara dengan tingkat gangguan jiwa tertinggi, Norwegia. Tingkat bunuh diri yang tinggi. Jumlah kasus bunuh diri yang meningkat di Indonesia juga menunjukkan hal ini. Bukan karena penyakit jiwa, tetapi karena masalah sosial seperti cinta, persahabatan, keluarga, pekerjaan, dan masalah lainnya. Dari perspektif budaya, hal ini juga dapat menjadi penyebab bunuh diri, seperti yang dinyatakan oleh Suprato (Herlinda, 2017). Misalnya, keyakinan bahwa ada pulung yang digantung di wilayah Gunung Kidul. Keyakinan bahwa perkembangan yang kuat dalam kehidupan masyarakatdapat mengindikasikan bahwa orang yang mengalami masalah akan melakukan bunuh diri.
Durkheim (1987; Wirawan, 2012) mengklasifikasikan bunuh diri menjadi beberapa jenis, termasuk: (1) Bunuh diri egois, di mana seseorang melakukan bunuh diri karena percaya bahwa kepentingannya sendiri lebih penting daripada keuntungannya. Orang yang tidak dapat menjalankan perannya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari akan menderita depresi dan bunuh diri; (b) Bunuh diri yang tidak biasa. Ketika kekuatan regulasi masyarakat lemah dan standar yang mengatur cara bertindak, berpikir, dan merasa tidak jelas, bunuh diri terjadi. Durkheim berpendapat bahwa indikator ekonomi dan nasional dapat menunjukkan anomali. Krisis ekonomi telah menyesatkan masyarakat, menurut analisis statistik Durkheim. Misalnya, seseorang yang dipecat memutuskan untuk bunuh diri; bunuh diri altruistik, di mana seseorang merasa menjadi beban bagi masyarakat; atau bunuh diri fatalisme, di mana seseorang melakukan bunuh diri karena putus asa dan putus asa. Studi ini hanya melihat faktor demografi, tidak faktor psikologis.
SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4.444,36 siswa—atau 58,9% dari 62 peserta— memiliki tingkat pemikiran bunuh diri yang tinggi dan upaya bunuh diri. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa usia mempengaruhi keinginan dan upaya bunuh diri siswa (p = 0,018; R2 = 0,018). Peningkatan literasi kesehatan mental adalah cara untuk melindungi siswa dari keinginan bunuh diri dengan meningkatkan pengetahuan, kepercayaan, dan manajemen kesehatan mental mereka.Selain itu, sekolah harus memberikan fasilitas yang lengkap atau konseling sebaya untuk membantu siswa mengatasi dan mendeteksi gangguan jiwa yang dapat menyebabkan pikiran untuk bunuh diri sejak dini. Biarkan peneliti lain kemudian memasukkan variabel demografis yang lebih beragam, seperti perbedaan pengetahuan, etnis, status ekonomi, dan tingkat religiusitas. Variabel ini akan memberikan informasi tambahan dan dasar untuk menilai risiko konsep bunuh diri dan bunuh diri pada tingkat yang berbeda. Bunuh diri merupakan hal yang tidak baik untuk dilakukan, bunuh diri bukanlah jalan keluar, dan telah jelas didalam Alquran larangan Allah SWT mengenai Tindakan tersebut. Bunuh diri dapat dicegah dengan beberapa upaya, salah satunya dengan menanamkan keimanan yang kuat pada diri, sehingga tidak mudah goyah akan godaan syaitan. Bunuh diri adalah suatu sikap seseorang yang telah menyerah pada hidupnya, berbagai faktor yang seringkali ditemukan adalah depresi, stress, bullying, dll. Sejatinya, Allah menciptakan manusia dan mengaturnya sesuai kemampuan hamba-Nya, dengan ini pelaku bunuh diri telah menyalahi garis takdir yang semestinya sudah ditetapkan. Adakalanya manusia berada di fase terendah dan tertinggi, semua berdasarkan kemampuan yang dimiliki serta keimanan yang kuat. Ide bunuh diri pada siswa merupakan permasalahan penting yang perlu diatasi. Penelitian ini mengkaji masalah apa saja yang bisa memicu pikiran untuk bunuh diri. Permasalahan yang dihadapi peserta antara lain keuangan, akademik, pelecehan seksual, kenakalan remaja, permasalahan kesehatan, gangguan psikis, permasalahan keluarga dan kepribadian.
Masalah yang tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan pikiran untuk bunuh diri. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, strategi pengobatan dan hambatan dalam mencari bantuan memperbaiki masalah berkembangnya pikiran untuk bunuh diri. Strategi yang digunakan peserta sebagian besar tidak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi sehingga tidak dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Strateginya adalah mengelola reaksi emosional dengan menghindari masalah dan menyelesaikan masalah dengan berbagi cerita. Selain strategi penanggulangan, hambatan dalam mencari bantuan juga meningkatkan masalah berkembangnya pikiran untuk bunuh diri. Hambatan tersebut disebabkan oleh faktor pribadi dan finansial.
REFERENSI
“10410163%20Bab%202.Pdf,” n.d.
Arif, Arifuddin M. “PERSPEKTIF TEORI SOSIAL EMILE DURKHEIM DALAM
SOSIOLOGI PENDIDIKAN.” Moderasi: Jurnal Studi Ilmu Pengetahuan Sosial 1, no. 2 (December 25, 2020): 1–14. https://doi.org/10.24239/moderasi.Vol1.Iss2.28.
“Azhari.Pdf,” n.d.
Biroli, Alfan. “Bunuh Diri Dalam Perspektif Sosiologi.” SIMULACRA: JURNAL SOSIOLOGI
1, no. 2 (November 25, 2018). https://doi.org/10.21107/sml.v1i2.4996.
Hanur, Binti Su’aidah, Muhamad Arifudin Syah, and Febri Ardhi Ahmad Dzulfiqar. “Pendampingan Kesehatan Mental Keluarga dalam Upaya Pencegahan Depresi dan Bunuh Diri Pada Ibu Muda di Wilayah Kecamatan Papar:” Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat 1, no. 3 (August 17, 2023). https://doi.org/10.61231/jp2m.v1i3.123.
Hendrikus. “FENOMENA BUNUH DIRI TINJAUAN FILSAFAT MANUSIA (Studi Kasus
Terhadap Fenomena Bunuh Diri Ibu dan Anak).” Preprint. INA-Rxiv, July 4, 2019. https://doi.org/10.31227/osf.io/cfkgp.
Mukaromah, Illiyyin Tri. “Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi,” n.d.
Muslim, Mysha Alesha, Nisa Auliya Rahmawati, and Zahara Mu’tasimah Billah. “FAKTOR PENYEBAB BUNUH DIRI PADA MAHASISWA” 1, no. 2 (2024).
Syahputra, Muhammad Rizal. “KONSTRUKSI DIRI PELAKU BUNUH DIRI YANG GAGAL, DALAM MEMAKNAI KEHIDUPAN DAN KEMATIAN (Studi Kasus
Kota Surabaya, Indonesia),” n.d. https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/INTUISI/article/download/20705/pdf
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI