Tim Grew Up IPB University dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM RSH) yang diwakili oleh dua anggotanya yaitu Fenty dan Anggi mengadakan turun lapang langsung bersama Bapak Barino ke pabrik bekas pengolahan biji nyamplung pada program Desa Mandiri Energi (DME) nyamplung 2009 silam di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Purworejo, Jawa Tengah pada hari Minggu (10/09/23).
Program DME berbasis nyamplung di Patutrejo ini mulanya merupakan realisasi dari gagasan yang dimiliki Prof. Sudrajat (Litbang Kementerian Kehutanan) dan bekerja sama dengan Kementerian ESDM. Program ini telah diresmikan pada 6 Desember 2009 di Desa Patutrejo dan dihadiri langsung oleh Prof. Sudrajat, Bapak Zulkifli Hasan (Menteri Kehutanan), Prof. Budi Laksono (peneliti KLHK), Bibit Waluyo (Gubernur Jawa Tengah), perwakilan Pemda, Pemdes, LMDH Wana Lestari, hingga masyarakat setempat. Tujuan program untuk menciptakan masyarakat yang mandiri energi melalui pengolahan nyamplung menjadi biofuel (bahan bakar minyak).
Â
Pabrik ini sudah lama tidak beroperasi setelah DME mangkrak pada awal tahun 2010. Namun yang mengejutkan seluruh alat dan mesin pengoperasi biji nyamplung masih tersusun lengkap meskipun sudah tertutupi korosi dan debu. Pak Barino selaku eks-penanggung jawab produksi minyak nyamplung, mengatakan bahwa salah satu penyebab mangkraknya DME di Patutrejo karena mesin yang rusak dan tidak mampu mengolah biji nyamplung lagi.
Â
Selain itu, fakta bahwa mesin untuk mengekstrak minyak biji nyamplung ternyata bukanlah mesin yang cocok untuk biji nyamplung menjadi alasan lain DME di Patutrejo berhenti. Mesin Screw Press yang mengpres biji nyamplung pada kenyataannya merupakan mesin untuk biji jarak pagar. Hal itulah yang menyebabkan masyarakat bingung biji nyamplung tidak mengeluarkan minyak dari proses tersebut. Kesalahan ini disebabkan karena kelalaian dari kontraktor penyedia mesin yang ditunjuk pemerintah pada 2009 silam.
Keberlangsungan Desa Mandiri Energi diharapkan dapat memberikan kemudahan masyarakat dalam memproduksi secara mandiri minyak nyamplung untuk bahan bakar minyak (biofuel), meningkatkan pendapatan dan memperluas lapangan pekerjaan, serta dapat menciptakan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan. Walaupun pada nyatanya banyak kegagalan dan berakhir pada mangkraknya program tersebut, apabila dimungkinkan ke depannya DME hadir kembali, evaluasi dan perbaikan harus dilakukan secara masif dan intensif untuk menciptakan DME yang siap beroperasi.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H