Pada hari Minggu, 28 Maret 2021. Seluruh berita nasional dan swasta digemparkan dan dibuat shock dengan kejadian pengeboman sebuah Gereja, yaitu Gereja  Katedral, yang berada di daerah Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata hal ini merupakan tindakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh dua orang, yang saat itu mengendarai sebuah motor matic.Â
Sebelumnya kedua pelaku tersebut di hadang oleh seorang satpam Gereja, karena gerak gerik mereka yang mencurigakan. Namun, tak lama kemudian bom tersebut, yang ditelusuri lagi merupakan bom panic tersebut meledak, dan mengakibatkan korban luka mencapai 20 orang, termasuk satpam Gereja yang menghalangi kedua pelaku masuk kedalam Gereja, dan juga para jemaat Gereja.
Kejadian bom bunuh diri di Gereja Katerdal ini menjadi sorotan pihak Kedutaan Besar AS, yang merasa sangat miris akan kejadian yang telah terjadi tersebut. Segala doa ia curahkan, dan ucapan bela sungkawa kepada keluarga serta kerabat dari korban pengeboman bunuh diri itu. Pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini, dan mencari indentitas dari potongan tubuh kedua pelaku bom bunuh diri ini.
Kedua pelaku bom bunuh diri ini terugkap berasal jadi jaringan Jamaah Ansharut Daulat (JAD), yang dikait-kaitkan dengan peristiwa bom yang terjadi di sebuah Gereja di Filiphina. Presiden Joko Widodo meminta kepada kepolisian, agar kasus ini diusut lebih dalam lagi, agar tuntas dan tidak ada lagi kejadian yang serupa.
Dari rekaman CCTV yang terpasang dari rumah warga sekitar Gereja, bom tersebut dapat terlihat jelas bahwa saat itu banyak jemaat Gereja yang hendak melakukan sembayang. Seorang satpam berusaha untuk menghadang kedua pelaku yang saat itu menerobos masuk dengan asal kedalam Gereja. Satpam yang berjaga merasa curiga dengan kedua pelaku pengeboman tersebut, dan terjadilah bom bunuh diri didepan mata satpam Gereja.
Peristiwa pengeboman bunuh diri ini disangkut pautkan dengan kejadian bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral yang berada di Filipina. Pelaku yang saat itu merupakan seorang pasangan suami istri yang diketahui sempat berjualan nasi kuning dan menjadi sales mobil, di Makassar. Saat itu diketahui pelaku awalnya merupakan orang yang biasa-biasa saja, seperti bergaul kepada tetangga. Namun, beberapa saat kemudian pasangan suami istri ini masuk ke Filipina secara illegal, yang dibantu oleh terduga teroris yang berasal dari Makassar.
Berikut fakta-fakta dari kasus bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral, Makssar, Sulawesi Selatan.
- Kedua pelaku bom bunuh diri merupakan anggota jaringan JAD, yang terjait bom bunuh diri Gereja Katedral Filipina pada 2018. Setelah kejadian bom bunuh diri, polisi mengidentifikasi dan menemukan identitas kedua pelaku pengeboman, yaitu seorang laki-laki dan perempaun. Polisi mengungkapkan bahwa pelaku merupakan teroris jaringan JAD, yang sama dilakukan dengan bom bunuh diri di Filipina.
- Menggunakan bom panci. Polisi mengidentifikasi, bahwa pelaku menggunakan bom berjenis bom panci dalam aksinya.
- Kendaraan bermotor yang digunakan pelaku adalah kendaraan yang sudah habis masa pajaknya,Berdasarkan informasi dari kepolisian, pelaku menggunakan kendaraan yaitu sepeda motor matic tahun buatan 2014. Pajak motor yang dikendarai ternyata sudah habis masa berlaku pajaknya. Tidak jelas model motor apa yang digunakan dalam aksi bom tersebut.Seorang warga mendengar dua kali suara ledakan bom yang berada di Gereja Katedral, Makassar ini. Awalnya ia mengira bahwa sumber ledakan yang ia dengar itu dari sebuah tower yang ada disekitar lokasi kejadian, dan betapa terkejutnya ia melihat potongan daging di sekitaran Gereja, dan ternyata potongan daging itu merupakan potongan daging tubuh manusia yaitu kedua pelaku bom bunuh diri.
-
tribunnews.com
Presiden Indonesia Joko Widodo meminta agar kasus ini diusut tuntas. Joko Widodo turut angkat bicara mengenai kejadian pengeboman bunuh diri, yang terjadi di Gereja Katedral, Makassar, yang terjadi pada hari Minggu, 28 Maret 2021 itu. Beliau mengatakan bahwa dirinya mengutuk keras atas kejadian pengeboman ini. Beliau meimta agar pihak kepolisian agar cepat mengusut tuntas hingga ke akarnya, agar kejadian pengeboman bunuh diri ini tidak terjadi lagi dikemudian hari.
Jika kejadian pengeboman bunuh diri, dan terorisme ini masih terjadi, berati para teroris itu masih eksis dan berkeliaran di Indonesia. Kegiatan teroris ini memerlukan perencanaan, dan persiapan.
Serangan terorisme ini bisa terjadi kapan saja, dan dimana saja, dan menjadi hal yang menurut beberapa orang merupakan kejadian yang mengerikan. Berbagai cara pencegahan terjadinya terorisme dilakukan oleh pemerintah Indonesia, sesuai dengan porsinya masing-masing. Kominfo memonitoring akun radikal terorisme yang mungkin masih tersebar di internet, sehingga kominfo bekerja sama dengan beberapa pihak untuk menghapus akun terorisme tersebut. Berikut tips agar generasi Indonesia terhindar dari jaringan terorisme dan radikalisme.
Yang pertama, yaitu menanmkan rasa cinta kepada NKRI. Generasi muda saat ini harus ditanamkan rasa cintanya kepada NKRI dan diminta menanamkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ketika bermedia sosial, diharapkan agar tidak mudah terpengaruh, dan belajar lebih kritis lagi dengan apa yang terjadi. Harus dicari kebenarannya terlebih dahulu, untuk menghindari terjadinya perpecahan Indonesia.
Yang kedua, yaitu memperkarya wawasan keagamaan. Agama adalah pondasi kehidupan manusia sehari-hari. Memperbanyak ilmu agama dapat menghindarkan diri dari paham terorisme dan radikal, yang dimana agama itu tidak membenarkan perilaku tersebut.
Yang ketiga, yaitu waspadai pola pererutan terorisme. Faktor agama sering diungkit-ungkit dan menjadi latar belakang perekrutan anggota terorisme. Sebaiknya, kita jangan mudah terjebak dengan hal tersebut.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI