Mohon tunggu...
Faiza Naufalia Azzahra
Faiza Naufalia Azzahra Mohon Tunggu... Lainnya - sejatinya kita hidup tidak untuk menyenangkan orang lain

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga (21107030055)

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Sejarah pada Tanggal 30 Maret yang Ditetapkan sebagai Hari Film Nasional

30 Maret 2022   14:52 Diperbarui: 30 Maret 2022   16:13 191
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tanggal 30 Maret selalu diperingati sebagai hari film nasional karena pada tanggal tersebut  berkaitan dengan peristiwa bersejarah perfilman di Indonesia.

Adapun sejarah mengapa pada setiap tanggal 30 Maret ini dirayakan sebagai hari musik Nasional.

Dimulai pada tanggal 5 Desember 1900. Film di Indonesia pertama kalinya dikenalkan di daerah Jakarta atau yang pada saat itu disebut dengan Batavia. Pada era tersebut film masih disebut dengan sebutan "Gambar Idoep" hasil dari produksi film tersebut merupakan dokumentasi dari Hindia Belanda. Dalam penayangan film tersebut memiliki sebuah tujuan yaitu agar Belanda dan negara jajahannya memiliki hubungan keakraban yang lebih erat. Film tersebut ditayangkan tepatnya di daerah tanah Abang, kebon sirih. 

Lalu selanjutnya pada tahun 1926 terdapat sebuah film dengan judul "Loetoeng Kasaroeng" produksi di Indonesia yang pertama kalinya dan disutradarai oleh L. Heuveldorp dari NV Java Film Company Yang dipimpin oleh orang Belanda yaitu 

G. Kruger. Film tanpa suara atau yang biasa disebut film bisu tersebut menjadi film pertama yang di tayangkan di Indonesia.

Semua film pada tahun 1920-an merupakan film yang berjenis film bisu. Lalu terjadi perubahan pada tahun 1931, pada tahun tersebut film bersuara sudah mulai diproduksi. Oleh karena itu Tan film company memproduksi sebuah film bersuara di Bandung yang diberi judul "Atma de Vischer".

Perfini yaitu kepanjangan dari perusahaan film nasional Indonesia merupakan sebuah rumah produksi yang diciptakan oleh usmar Ismail yang biasa dikenal sebagai bapak perfilman Indonesia. Pada tanggal 30 Maret 1950 telah dilakukan pengambilan gambar pertama kali yang di sutradarai oleh Usmar ismail dalam film yang berjudul "Darah dan Doa" film tersebut merupakan film Indonesia pertama yang dinilai sebagai film lokal pertama yang di sutradarai oleh orang Indonesia, dan juga di produksi oleh perusahaan asli Indonesia yaitu perusahaan film nasional Indonesia. Film tersebut perdana ditayangkan di istana negara Indonesia.

Dewan film nasional mengadakan konferensi dengan sebuah organisasi perfilman pada tanggal 11 Oktober 1962. Dari konferensi tersebut lah hari film Nasional ditetapkan pada 30 maret keputusan ini juga diperkuat dengan diterbitkannya keputusan presiden Republik Indonesia atau Keppres RI nomor 25 tahun 1999 tentang hari film Nasional.

Film "Darah dan Doa" memicu perkembangan film di Indonesia pada periode 1990-1992. Film tersebut juga disebut sebagai awal kelahiran film nasional. Film yang disutradarai oleh usmar Ismail tersebut. Menceritakan tentang perjalanan panjang atau yang biasa disebut Long Marc para Prajurit Indonesia dan keluarga mereka dari daerah Yogyakarta menuju pangkalan utama mereka yang terletak di Jawa barat. Perjalanan panjang itu dipimpin oleh kapten Sudarto yang merupakan tokoh utama dalam film ini. Kapten Sudarto tidak hanya diceritakan sebagai kapten saja tetapi juga sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan. 

Dalam perjalanan tersebut kapten Sudarto dipertemukan dengan seorang pengungsi perempuan yang memiliki darah indonesia belanda, dan sang kapten pun memiliki perasaan terhadap perempuan tersebut meskipun kapten sudah memiliki seorang istri. 

Meskipun film ini dibumbui oleh kisah romansa, hal tersebut tidak melunturkan pesan yang ingin disampaikan dari film ini. Usmar Ismail ingin menunjukkan ideologi orang - orang Indonesia ketika sedang berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. 

Penetapan hari film Nasional ini tidak berjalan dengan lancar begitu saja, Keputusan hari nasional pada tanggal 30 Maret mendapatkan beberapa tentangan oleh beberapa pihak terutama pada golongan kiri. Karena kecamannya tersebut golongan kiri pun membentuk "PAPFIAS" atau panitia aksi pemboikotan film imperialis Amerika serikat bersama dengan PKI yaitu partai komunis Indonesia.

Tepatnya pada tahun 1964 dua organisasi tersebut menyerang film yang disutradarai oleh Usman Ismail dengan alasan bahwa film tersebut tidak bersifat nasionalis. PAPFIAS sebelumnya juga menginginkan hari film Nasional ditetapkan pada tanggal 30 April 1964, namun ternyata gerakan tersebut tidak sempat terjadi seiring dengan munculnya sebuah peristiwa pada tahun 1965 yang membuat golongan komunis haram tumbuh dan berkembang di Indonesia. 

Kemudian seiring berjalannya waktu film Indonesia pun mulai menempuh kesuksesan pada tahun 1980-an. Film nasional pada saat itu menghasilkan artis - artis berbakat seperti Lidya Kandouw, Meriam Bellina, Ongky Alexander dan masih banyak lagi.

Seperti itulah perjalanan sejarah perfilman di Indonesia.

Untuk saat ini pada tanggal 30 Maret 2022 Presiden Jokowi Dodo pun mengucapkan hari film nasional di akun media sosial Instagram nya dengan caption " Dampak pandemi dalam 2 tahun ini sungguh tak terbayangkan oleh para insan film nasional. Terhentinya produksi film yang melibatkan banyak pekerja seni, penutupan bioskop, kehilangan sejumlah tokoh oleh serangan Covid-19 menjadi ujian yang berat nyata Alang kepalang. Kendati begitu, harapan untuk bertahan dan bangkitnya dunia perfilm-an kita tetap terjaga. Kreativitas dan inovasi oleh masyarakat film nasional yang memanfaatkan peluang-peluang baru dalam platform digital, video on demand, dan lain-lain telah menjadi penyemangat untuk bertahan. Dan kini, disaat pandemic kian melandai, kehidupan perekonomian kian menggeliat, kita melihat asap kebangkitan film nasional Indonesia terbuka lebar. Tetap semangat." 

Pada captionnya tersebut Presiden Jokowi mengakui bahwa Karena adanya pandemi covid-19 ini mengakibatkan perfilman di Indonesia tidak berjalan dengan semestinya tetapi beliau juga selalu memberikan semangat kepada para tokoh-tokoh perfilman di Indonesia agar film di Indonesia bisa bangkit lagi seperti semula.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun