Mohon tunggu...
faith liberta
faith liberta Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Surat pada Ibu (Pertiwi)

27 November 2016   21:24 Diperbarui: 27 November 2016   21:29 61
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bu, Bukankah umurmu Hampir satu abad..
Sedulu kala Namamu terkisahkah abjad..
Di antara minyak dan kayu..
Diselip lautan dan batu..

Katanya, Engkau cantik dan kaya..
Bermacam rempah serta satwa tumbuh lebatnya..
Dari zigot Tiap bulir ..
Engkau kandung hingga terlahir...

Layarmu telah lama terkembang..
Sejak semula Melepas pelabuhan...
Jangkar terakhir kau tarik..
Hingga kini di lautan panasnya terik..

Bu, Perahu yang kami tempati..
Terombang ambing gelombang...
Dari utara selatan timur dan barat..
Terombak tergenang hebat..

bantulah kami mengetahui..
Ataulah anak-anakmu ini ajari...
Bagaimana benar menahkodai...
Sampai penghujung berpijak tujuan kaki..

Bu, Pada perahu yang seluruh anakmu disini..
Sungguh menyimpan ironi..
Kami tiada tahu arah..
Kemana harus dengan lautan berpisah..

anakmu kini saling berebut kuasa..
Untuk siapa menjadi nahkoda..
Siapa miliki uang..
ialah berhak menang...
Kelambu Layar merah darah..
Tiada kini terbang merpati putih..

Bu, Bukankah Dari satu rahimmu..
Lahirlah kami anakmu berbagai agama, ras dan suku..
Tetapi, Mengapa saat berebut jabatan...
Perbedaan ini malah berbuah perpecahan?
Mengapa engkau biarkan saja..
bibir anak-anakmu basah dengan kata..
kita beda?

Bu, Perahu ini engkau warnai puspa..
Beragam juga jenis rupa..
Tetapi anak-anakmu ini seakan lupa..
Saat rintik hujan, tiba di tengah lautan ..
Sesama saudara, kami saling rakus berebutan..

Ataukah ibu pun lupa..
Jika kami anak-anakmu pula...
Hingga Layar yang engkau namai pancasila..
Dibiarkan terbang terbawa angin ributnya?

Bu, berilah kami jawaban toh...
Mengapa perlu kami dilahirkan...
Lalu kami dibesarkan...
Pada satu perahu berjuta perbedaan?
Kami perlu tahu, bu..

Akankah kami perlu menggugat...
Semenjak kemudian Telinga dan mata kami..
Tak dapat mendengar serta melihat..
Akan berbeda itu anugerah...
Serta persatuan itu indah...

Bu, masa engkau akan biarkan perahu ini hancur..
Terbentur atau terkikis hingga lebur..
Apalagi jikalau sampai dibocorkan..
Oleh anak-anak yang dulu engkau besarkan, kini malah menghinakan...
Ibu sendiri serasa diperkosa kan..?
Oleh anak-anakmu yang Tidak tahu balas kasihan..

Bu, berilah kami tanggapan..
Akan Keadilan..
Supaya Tertuju pada segenap anak-anakmu..
Tiada hanya berdiam mayoritas..
Minoritas tertindas...
Kami sakau...

Ibu kan pernah berkisah..
Tentang langit ketika marah..
Pun kami, kini benar benar takut..
Jikalau perahu persada ini makinlah ciut...
Olehnya surat ini kutitipkan ketika mendung..
Supaya saatnya tiba..
Hanya ibulah yang kuasa air matanya menampung...
Dan disini kami setia menunggu kok..
Cerita-cerita akan cantik dan pamormu dulu...
Kisah Bahwa perahu Indonesia..
Pernah bernama nusantara jaya..
Damai karta raharja disana...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun