Selepas berdialog dengan teman-teman baru dari Asia Tenggara, saya kembali mencoba peruntungan baru untuk duduk satu meja dengan warga belahan dunia lainnya. Kesempatan berikutnya datang dari World Craft Council Asia-Pacific. Bersama dengan Sangam (platform pelestarian seni dunia khususnya tekstil), mereka menyelenggarakan diskusi seputar batik di Indonesia. Saya bersyukur karena bisa memenuhi undangan tersebut. Dalam kesempatan itu, saya berjumpa dengan designer asal Australia yang wara-wiri di Paris Fashion Week, Carla van Lunn dan Sara Thorn. Plus,Direktur World Craft Council Asia Pacific saat itu, Kevin Murray.Â
Dari pertemuan ini, yang membuat saya terkesan adalah, bagaimana mungkin warga negara asing amat mencintai batik dan bersemangat menginovasi batik melalui ragam produk yang tak monoton. Dari Lunn, saya banyak memperoleh masukan bermanfaat untuk mensosialisasikan produk-produk lokal Indonesia ke mancanegara melalui website atau blog. Apa yang disampaikan bukan sekadar keindahannya, namun juga cerita di baliknya serta proses pembuatannya. Sebab, produk budaya di Tanah Air selalu memiliki nilai filosofi yang tinggi. Tentu kita tak ingin nilai-nilai yang baik ini hilang tanpa bekas.
![Bersama Carla van Lunn (tengah) dan Sara Thorn. (Dokumentasi Pribadi)](https://assets.kompasiana.com/items/album/2017/08/19/work-5997ea21a53b3b284e2facd2.jpg?t=o&v=555)
Di malam-malam yang semestinya memasuki jam tidur orang Indonesia, kami beberapa kali menanyakan "sejauh mana perkembangan tulisan terbarumu?". Perbedaan waktu yang cukup tajam antara Indonesia dengan negara-negara lain cukup membuat saya ekstra kuat menahan kantuk!
Selain Kevin Burke, saya mencoba menuangkan ide saya melalui blog asal Perancis. Di Atelier des Medias RFI, saya bergabung. Saya pernah mengulas album baru Anggun, serta mengabarkan situasi Indonesia pascaledakan bom Sarinah. Uniknya, kawan saya yang berasal dari Italia, Paoloi Marongiu, ternyata sangat updatedengan kabar-kabar terbaru dari mancanegara termasuk Indonesia. Alhasil, saya sempat dibuat malu gara-gara ulah oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang menyebabkan kebakaran hutan. Dia menanyakan soal kabut asap kepada saya!
Selain Kevin dan Paolo, saya bersyukur, bangsa kita tidak dipandang sebelah mata oleh teman-teman warga negara lainnya. Sebagaimana termahsyurnya Indonesia dengan sopan santun dan keramahtamahannya, itu pula yang saya lakukan manakala bergaul dengan mereka. Ada cultural shock, namun guncangan itu tak berlangsung lama. Sebab bangsa kita sudah lama terkenal sebagai bangsa yang akomodatif dan mau menerima perbedaan tanpa riak-riak yang berarti.Â
Saya masih ingin mengenalkan keindahan bumi pertiwi kepada lebih banyak negara. Saat ini saya bergabung dengan Inkitt, sebuah platform asal Berlin, Jerman, yang mengakomodasi tulisan-tulisan seperti cerita pendek dan penerbitan novel. Bersamanya, saya ingin membawa keindahan kultur negeri ini dalam bingkai sebuah cerita. Barangkali ini cita-cita besar saya di usia Indonesia yang ke-72. Selain Inkitt, tercatat Almond Press asal Skotlandia yang masuk dalam daftar penerbit impian saya. Mimpi-mimpi saya itu semoga tidak sekadar menjadi mimpi, mengingat canggihnya era teknologi di masa kini.
Saya punya misi yang sepertinya agak aneh bagi orang kebanyakan. Saya tidak ingin pergi ke luar negeri tanpa membawa karya. Karya yang menunjukkan indahnya Indonesia. Karya yang mampu memahat senyum bagi mereka yang membacanya. Dari sini, akan kusuarakan megahmu, Indonesiaku!
- Hey, orang Perancis pun penasaran saat saya pameri nasi Padang plus rendang. Itu makanan kegemaran kami, bung. Hahaha!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI