TikTok sering kali mendorong gaya hidup hedonis. Banyak konten-konten yang menunjukkan kemewahan, perjalanan mewah, maupun barang-barang bermerek yang sering kali menimbulkan rasa minder atau tekanan sosial pada mereka yang merasa tidak mampu mengikuti tren tersebut. Akibatnya, banyak orang mulai merasa bahwa kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan memenuhi standar-standar materialistik yang terlihat pada aplikasi TikTok tersebut.
3. Melemahnya Mental Anak
TikTok memiliki algoritma yang sangat menarik bagi anak-anak, tetapi paparan terhadap konten yang tidak sesuai usia seringkali seperti konten dewasa, pornografi hingga judi online. Pastinya dengan adanya faktor-faktor tersebut akan berdampak buruk pada perkembangan mental korban. Anak-anak yang terus-menerus mengakses TikTok bisa mengalami penurunan rasa percaya diri karena membandingkan diri mereka serta berusaha mengikuti dengan standar tidak realistis yang ada di aplikasi ini. Selain itu, mereka bisa kehilangan fokus pada hal-hal yang lebih penting seperti pendidikan, interaksi sosial yang sehat, dan norma-norma.
4. Adanya FOMOÂ
Melihat berbagai dampak buruknya, pelarangan penggunaan aplikasi TikTok untuk anak di bawah 16 tahun perlu dipertimbangkan. Banyak negara, telah berdiskusi tentang pembatasan akses TikTok untuk usia tertentu. Hal ini bertujuan untuk melindungi anak-anak dari konten negatif, cyber-bullying, dan ketergantungan pada media sosial yang berlebihan, yang bisa merusak perkembangan emosional dan psikologis mereka.
5. Pelarangan TikTok untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Melihat berbagai dampak buruknya, pelarangan penggunaan aplikasi TikTok untuk anak di bawah 16 tahun perlu dipertimbangkan. Banyak negara, telah berdiskusi tentang pembatasan akses TikTok untuk usia tertentu. Hal ini bertujuan untuk melindungi anak-anak dari konten negatif, cyber-bullying, dan ketergantungan pada media sosial yang berlebihan, yang bisa merusak perkembangan emosional dan psikologis mereka.
Bijak Menggunakan Media Sosial
Masyarakat perlu menyadari bahwa media sosial, termasuk TikTok, hanyalah sebatas alat bantu manusia dalam berkomunikasi. Alat ini dapat memberikan manfaat besar jika kita sebagai pengguna dapat menggunakan alat tersebut dengan bijak, tetapi dapat juga menjadi pedang bermata dua jika kita tidak pandai memilah dan memilih. itulah sebabnya memahami pentingnya untuk menjaga batasan-batasan menggunakan sosial media sesuai dengan norma-norma yang ada dan berpikir kritis dalam mengkonsumsi maupun memilih konten yang kita nikmati.
Ingatlah bahwa hidup kita bukanlah sekadar "like", "view", atau "trending".Tetapi hidup adalah tentang bagaimana kita menjalani nilai-nilai yang benar, bukan hanya mengikuti apa yang populer di dunia maya.
Kesimpulan yang kita bisa tarik adalah TikTok dengan segala daya tarik dan pengaruhnya, memang telah menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat modern. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa standar hidup yang sebenarnya harus ditentukan oleh kita sendiri, bukan oleh apa yang viral di TikTok. Hidup kok diatur standar TikTok? Mari jadi netizen yang bijak dan tetap memegang kendali atas hidup kita sendiri.