Mohon tunggu...
Esti Maryanti Ipaenim
Esti Maryanti Ipaenim Mohon Tunggu... Jurnalis - Broadcaster, seorang ibu bekerja yang suka baca, nulis dan ngonten

Menulis gaya hidup dan humaniora dengan topik favorit; buku, literasi, seputar neurosains dan pelatihan kognitif, serta parenting.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Kaum Muda dan Radikalisme, Topik Lama Rasa Sama

21 Agustus 2017   17:22 Diperbarui: 21 Agustus 2017   20:24 1440
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tujuh tahun yang lalu saya memposting tulisan di wordpress yang saya rasa masih sangat relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini. Masih dalam semangat peringatan kemerdekaan,  Saya tergelitik untuk mempostingnya lagi karena semakin hari, ternyata isyu lama ini masih kita rasakan dampaknya hingga saat ini. Saya kembali memposting sebagai penanda momentum saya kembali menulis di Kompasiana. Selamat membaca.

Mengakses media cetak, elektronik maupun media ciber internet belakangan ini menjadi hal yang sangat mengiris hati saya. Karena kebrutalan dan kekerasan menjadi headline utama di hampir semua channel.

Berbagai demonstrasi, baik yang bermuatan politik, sosial, ekonomi dan budaya selalu rentan akan tindak anarkis. Ada yang dipicu oleh persoalan religio-politik, seperti pilkada, pelaksanaan syariah di dalam bernegara, ada yang difasilitasi oleh persoalan religio-social yakni interaksi antar umat beragama itu sendiri serta pluralisme dan hubungan lintas agama. Ada yang disebabkan oleh persoalan religio-ekonomi seperti kapitalisme yang semakin perkasa, perdagangan perempuan, pengiriman tenaga kerja perempuan, eksploitasi perempuan di media massa, dan persoalan religio-budaya seperti penerapan Islam secara kaffah, merebaknya bidh'ahdalam berbagai variasinya dan tradisi kemaksiatan yang semakin cenderung menguat.

Masalah-masalah ini cenderung direspon dengan tindakan kekerasan, yang dalam banyak hal justru kontra-produktif. Salah satu implikasinya adalah kekerasan di kalangan muda yang dikonstruk sebagai radikalisme atau fundamentalisme hingga kemudian menjadi variabel dominan dalam berbagai tindakan kekerasan saat ini.

Tidak terlepas dari itu, agama yang seharusnya bermisi damai turut harus dibawa-bawa dan tereduksi dengan tindakan-tindakan yang bertentangan dengannya. Relasi ini terjadi langsung atau tidak langsung, bahwa radikalisme atau fundamentalisme selalu berurusan dengan kekerasan agama-agama. Fenomena yang dapat diamati ternyata radikalisme atau fundamentalisme berhubungan secara asimetris dengan dinamika kekerasan di dalam berbagai variasinya. Ada di antaranya dalam coraknya yang simbolik dan ada yang bercorak aktual.

Secara teoretik, kekerasan simbolik terjadi manakala di dalam suatu masyarakat terdapat kelompok yang langsung maupun tidak langsung menggunakan simbol-simbol bahasa atau wacana yang menyebabkan ketidak-nyamanan dalam kehidupan bersama. Di sisi lain, kekerasan aktual terjadi manakala sekelompok penganut agama menggunakan kekuasaan untuk memaksa kelompok lainnya melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Kekerasan dapat dilakukan oleh kelompok mayoritas maupun minoritas, tergantung pada faktor-faktor yang memicu dan menyebabkannya.

Sayang seribu sayang, kaum muda sebagai generasi pembaharu dalam mengisi perjuangan justru terseret dalam fenomena ini. Padahal semakin majunya peradaban seharusnya pemuda tidak lagi terdikotomi oleh persoalan--persoalan yang sangat mendasar atau fundamental dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Ataupun persoalan - persoalan ideologi mainstream generasi muda. Karena dikhawatirkan akan berpengaruh pada keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam pandangan saya, lembaga keagamaan dan pendidikan seharusnya berperan lebih proaktif untuk membangun mental pemuda yang beradab di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang multikultural. Saya ingin menyebutnya sebagai membangun mentalisasi generasi yang tidak hanya demokratis tetapi juga moderat. Istilah moderat itu sangat relatif, mungkin saja kita bisa mengatakan moderat di tengah-tengah ekstrim kanan dan ekstrim kiri. Ekstrim kanan itu sangat konservatif, fundamentalistik dan ingin kembali ke belakang sementara ekstrim kiri ingin pembebasan yang tanpa batas sehingga kita ingin mengambil jalan yang moderat.

Kehidupan demokrasi dalam masyarakat plural adalah merupakan satu-satunya cara untuk membangun bersama, karena di dalam masyarakat plural itu tentu banyak sekali kepentingan yang berbeda dalam banyak hal termasuk pemikiran dan kehendak pilihan atas kehidupan dan berkeyakinan. Masyarakat plural seperti itu tentu saja tidak ada satu otoritas lebih unggul satu atas yang lain. Karena itu dalam masyarakat demokrasi yang plural tidak boleh ada yang merasa paling benar dengan segala latar belakangnya, apakah latar belakang agama, kebudayaan, etnis, karena itu mereka memiliki hak yang sama dalam mengelola kehidupan bangsa ini.

Radikalisme dan fundamentalisme agama yang mengancam keutuhan NKRI harus dilawan secara bersama oleh negara dan Masyarakat. Dan kaum muda sebagai tunas baru masyarakat punya peran penting dalam menjaga keutuhan NKRI melalui penanaman nilai-nilai kebangsaan sejak dini. Sehingga di masa depan tidak lagi persoalan kekerasan mewarnai kehidupan masyarakat melainkan persoalan kompetensi yang harus diunggulkan agar bangsa ini lebih bersaing dalam membangun peradaban di tengah multikulturalitas dunia.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun