Ellsberg menyebut teori ini sebagai "The Strangelove Paradox" yang tidak lain diambil dari film "Dr. Strangelove" di mana memang pesawat B-52 Stratofortress yang diawaki oleh Mayor T.J. "King" Kong dan membawa senjata nuklir mengalami gangguan komunikasi akibat rusaknya radio komunikasi pesawat B-52 yang diawakinyaÂ
yang membuat Mayor Kong percaya jika perintah dari Jenderal Jack D. Ripper memang valid dan authentic sehingga menuntunnya untuk menjatuhkan Bom berhulu ledak nuklir di pangkalan ICBM Uni Soviet. Teori inilah mungkin yang menjadi penyebab Kapten Kapal Selam B-59 Angkatan Laut Uni Soviet, Valentin Savitsky meyakini jika Perang sudah dimulai pada saat krisis missile Kuba dan ketika Kapal SelamnyaÂ
dihujani oleh depth charge oleh awak Kapal Induk U.S.S. Randolph, sehingga membuat sang Kapten Kapal Valentin Savitsky dan perwira keduanya Ivan Semyonovich nyaris nekad, jika tidak dihentikan oleh Komandan Armada Vasili Arkhipov, untuk meluncurkan senjata nuklir mereka ke armada kapal Angkatan Laut Amerika Serikat tanpa adanya perintah yang valid dan authentic dari komando pusat akibat dari asumsi jika Perang sudah dimulai.
Tetapi menanggapi pertanyaan "Apakah Doomsday Machine Benar Ada?" memang hingga hari ini baik Amerika Serikat, Uni Soviet atau negara lainnya yang memiliki senjata nuklir belum pernah terbukti menciptakan Doomsday machine atau Senjata Hari Kiamat ini.Â
Tetapi satu hal yang pasti adalah, jika doktrin "Mutually Assured Destruction (MAD)" yang merupakan konsep dasar dari Strategi Nuklir Amerika Serikat dan Uni Soviet pada era perang dingin sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep dari Doomsday Machine ini.
Apakah Bencana Nuclear Holocaust Masih Mungkin Terjadi?
Seperti kita ketahui jika di akhir tahun 1991 kejayaan Uni Soviet pada akhirnya ambruk dan Perang Dingin pun berakhir. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia sudah tidak lagi sama dan tidak setegang ketika era Perang Dingin. Terutama setelah ditandatanganinya perjanjian pembatasan senjata nuklir pada perjanjian "Strategic Arms Limitation Talks" dan juga "Strategic Arms Reduction Treaty."
Namun hal tersebut bukan-lah jaminan mutlak jika bencana Nuclear Holocaust sudah tidak mungkin sama sekali untuk terjadi. Senjata Nuklir masih banyak dimiliki oleh beberapa negara di dunia ini, seperti contoh Korea Utara yang baru saja mengembangkan senjata nuklirnya dan masih terus giat melakukan uji coba missile-missile berhulu ledak nuklir.Â
Ketegangan yang terjadi akibat invasi Russia terhadap Ukraine pada akhir February tahun 2022 juga menimbulkan munculnya kembali bayangan akan terjadinya Perang Nuklir yang besar kemungkinan akan menuntun pada bencana Nuclear Holocaust.