Mohon tunggu...
ERRY YULIA SIAHAAN
ERRY YULIA SIAHAAN Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis, guru, penikmat musik dan sastra

Menyukai musik dan sastra.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Cara Mudah Melakukan yang Susah, Menulislah!

20 Juni 2023   20:08 Diperbarui: 20 Juni 2023   23:18 127
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Setidaknya, saran Om Jay, mulailah menulis tiga alinea, yaitu pembukaan, isi, dan penutup. Ketiga paragraf itu bisa dikembangkan menjadi beberapa alinea. “Itulah yang Om Jay lakukan setiap hari.”

Om Jay kemudian merintis pelatihan menulis bagi guru-guru, antara lain melalui program KBMN. Kini, pengajar matapelajaran TIK di SMP Labschool Jakarta itu menjadi penasihat pada Melintas.id - media online yang baru terbit.

Seperti halnya makan dan minum, jelas Om Jay, menulis dan membaca juga merupakan kebutuhan. Konsisten menulis dan membaca sebagai kebutuhan dapat memotivasi diri untuk tekun melakukannya setiap hari. Lama-lama, menjadi sebuah kebiasaan. Ketika tidak dilakukan, seperti ada yang kurang.

“Jadi kalau sehari tak menulis, rasanya ada yang hilang dalam diriku ini,” kata Om Jay.

Om Jay masih berada di ruang komputer di sekolahnya pada saat menjadi narasumber. Di tengah kesibukannya mengisi rapor, Om Jay tetap menyempatkan diri untuk menulis. Bahkan, ketika sedang tidak punya ide, Om Jay tetap menulis.

“Menulislah tanpa ide. Tanpa disadari ide itu muncul dengan sendirinya. Kalau engkau melihat apa saja barang atau benda di depanmu. Cobalah engkau praktikkan apa yang kusampaikan ini,” kata sosok yang dikukuhkan sebagai doktor dengan disertasi berjudul "Pengelolaan Blog Kolaboratif Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa".

Ditambahkan, sebagai langkah awal, menulis bisa dimulai dengan yang sederhana. Tidak perlu terlalu banyak kata apabila kehilangan ide. Memperhatikan apa yang ada di depan kita, lalu menuliskannya dengan senang hati. Misalnya mengenai mouse bila sedang di depan komputer.

Pertemuan KBMN itu sarat tips. Om Jay menyebutkan hal-hal penting lain yang cukup inspiratif dan memotivasi untuk menulis. Antara lain:

Menulis adalah kemahiran berbahasa yang keempat. Hal pertama adalah mendengar, kedua adalah berbicara, ketiga adalah membaca, dan keempat adalah menulis.

Keterampilan berbahasa adalah kekuatan nalar atau logika yang sangat sejajar. Biasanya orang-orang yang logikanya baik dapat diduga bahwa kemampuan berbahasanya baik. Tetapi, orang yang berbahasa verbal (lisan) baik, belum tentu berbahasa grafisnya juga baik.

Menulis perlu kekuatan-kekuatan lain. Umpamanya, penguasaan simbol-simbol grafis seperti tanda titik, koma, tanda tanya, tanda seru, tanda kutip, dan lain-lain.

Menulis membutuhkan suasana sepi. Seperti Blok M yang kini sepi. Dulu berjaya, kini sepi. Ide menulis bisa terlahir dari kesepian hati.

Jika belum bisa mendapatkan uang dari hasil menulis di internet setiap hari, gunakan blog gratisan dulu. Punya blog pribadi bisa menjadi identitas sendiri dan ini bisa memberikan kepuasan.

Dengan menulis setiap hari, kita bersedekah ilmu lewat tulisan. Kita menyampaikan pesan kepada pembaca tentang informasi yang diperlukan saat ini. Semoga sedekah itu bermanfaat dan diterima oleh para pembaca yang haus akan ilmu.

Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya kembali. (Om Jay mendapatkan pesan ini dari sahabatnya, Ali)

Mendapatkan pembekalan awal yang begitu berisi, peserta KBMN 29 antusias bertanya. Ada 25 penanya dari berbagai daerah, termasuk dari Tangerang (Banten), Bandung, Bekasi, dan Karawang (Jawa Barat), Tapin (Kalimantan Selatan), Jambi, Kediri (Jawa Timur), Pangkalpinang (Bangka Belitung), Jakarta, dan Alor (NTT). Merespon peserta, Om Jay menyampaikan sejumlah pesan, antara lain:

Kita harus pandai mengelola waktu. Menulis bisa di mana saja dan kapan saja.

Kita harus yakin bahwa setiap tulisan akan menemukan takdirnya.

Paksakan menulis setiap hari, mulai dengan sedikit demi sedikit.

Memaksakan diri menulis setiap hari akan menumbuhkan rasa percaya diri. Kalau malas kita tidak akan naik kelas.

Banyak bergaul dengan kawan-kawan penulis. Banyak membaca karya tulis orang lain, misalnya dengan blog walking. Banyak aktif di media sosial dan WhatsApp grup. Cari tim yang sehati, seperti tim solid Om Jay dalam KBMN.

Jika sedang jenuh, pergilah ke toko buku dan membeli buku best seller. Jika sedang tidak ada ide, bisa nonton berita atau film. Kalau sedang buntu, membaca bisa menjadi obatnya.

Sebelum menutup sesi yang padat dan bermanfaat itu, penulis puluhan tulisan ilmiah dan buku itu mengatakan, "Siapa sangka, seorang guru yang dulunya tak bisa 'menuli' kini sudah mampu menulis ilmiah karena melakukan proses menulis setiap hari."

"Dengan menulis setiap hari ada pesan yang disampaikan kepada khalayak ramai, setidaknya orang tahu bahwa hari ini saya masih diberi napas oleh Tuhan Pemilik langit dan bumi," tambah Om Jay. ***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun