Mohon tunggu...
Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi Mohon Tunggu... Lainnya - Free Writer, ASN

Bacalah!

Selanjutnya

Tutup

Ramadan

Ketika Agama Serupa Pil Ekstasi di Grup WhatsApp

20 Maret 2024   23:33 Diperbarui: 3 April 2024   15:57 1201
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Begitulah ceritanya banyak paham Islam? Di Muhammadiyah saja paling tidak ada Muhammadiyah Garis Lurus dan Muhammadiyah Garis Lucu? Ada yang konservatif ada yang moderat progresif bahkan ada yang Pos-Moderat Progresif.

Apa komentar Doktor Siswanto? "Sekarang pilihan kita 2 (dua): mendukung penghambat dakwah atau mendukung pendakwah yang dipersekusi?"

Saya dukung pendakwah yang dipersekusi, tetapi, ada tetapinya? Alasannya?

Berkali-kali pimpinan Muhammadiyah ngomong seputar model dakwah potongan persyarikatan. Yang mana itu? Yang jelas Muhammadiyah, Islam Wasathiyah, moderat, yang selalu didengung-dengungkan terutama lewat pengajian.

Sayangnya, saya sudah hapus link tulisan Prof. Haedar tentang Islam Washatiyah Moderat. Lumayan kurang dari 10 tulisan tentangnya. Termasuk buku: ”Manhaj Gerakan Muhammadiyah: Ideologi, Khittah, dan Langkah.” Tebal pula buku karya Profesor Haedar Nashir.

Nah, yang saya maksudkan bahwa setuju persekusi selama model dakwah dari siapa saja. Inilah modelnya.

"Model dakwah yang cenderung mengarah kepada da'wah at-ta'ashub (dakwah kepada fanatisme), takfir (suka mengkafirkan), rafdhul ghair (menolak eksistensi golongan lain), karohiyyatul ghair (membenci golongan lain), daulah islamiyyah (negara Islam), al-hijrah, al-qital (perang) dan al-'unf ai-irhabiyyah (ekstremisme/terorisme)." Inilah kutipan dari Profesor Amin Abdullah. Oke deh!

Saya juga punya penilaian tersendiri dengan serunya diskusi kita di grup WA. Malah diskursus agama lebih seru daripada "KUA Inksklusif?" 

Buktinya, link beritanya tidak digubris oleh warga grup WA. Jangankan disentil, beritanya saja tidak nongol di pelosok ruang WA. Sekarang pun kita bisa berbicara soal agama sebagai pil ekstasi di ruang WA. Diskusi atau diskursus agama yang lucu, yang tidak lucu, kembali lucu.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun