Mohon tunggu...
Erick Tan
Erick Tan Mohon Tunggu... Teknisi - Pengamat Penelusur Pelurus Sejarah

PRIBADI BIASA MENOLAK SEGALA SISTEM PENINDASAN SEGALA BIDANG DAN ASPEK KEHIDUPAN DALAM SEGALA EKSPRESI HIDUP MAKHLUK BERTUHAN.NASIONALIS DAN RELIGIUS MENDAMBAKAN RAHMATAN LIL ALLAMIN DALAM BERSOSIALITAS DAN SEGALA BENTUK WADAH NYA.BUMI ADALAH TEMPAT BERPIJAK YANG HARUS DI BERSIHAKAN DARI ANGKARA MURKA DAN KESERAKAHAN AKIBAT KEMUNGKARAN.HIDUP DINAMIS BERSAMA ALAM DAN PEMILIK NYA.AMIEN

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Dan Muncullah Segenap dari Apa yang Tidak Pernah akan Kita Suka, Itulah Hidup!

29 Maret 2019   11:41 Diperbarui: 29 Maret 2019   12:47 158
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
picdeer.com/kenfathjonathan

Siapa Tuhan mu, apa agama mu dan siapa saudara mu itu jelas ketika kita telah tinggal nama dan dihadapan malaikat yang mengerikan bersiap dengan hukuman nya. Apakah kita perduli dan siap dengan semua ini, banyak yang tidak.

Bekerja membanting tulang siang dan malam tidak akan pernah cukup untuk merengkuh nafsu duniawi. Pasangan yang rupawan tidak akan pernah membuat kita puas atau bahagia dengan sebenarnya. Uang yang rakus akan tetesan darah membuat kita lupa akan segalanya. 

Hingga yang buruk rupa sekalipun telah kehilangan kalbunya. Tinggalah sekumpulan para binatang yang siap di sembelih jika saat nya tiba, nyawa terbang begitu dahsyat nya sakit melebihi apa yang pernah kita rasakan ketika hidup masih dikandung badan. 

Sedang rasa sakit hati saja tanpa luka yang menganga kita tak sanggup menyembuhkan nya begitu saja. Lalu sakit nya seperti apa Tuhannnnnnn, ampunilah kami hambamu ini ya Rabb, tuntunlah kami dijalan mu jangan biarkan kami lengah sedikitpun.

Tangisan yang tak mampu terlukiskan dengan tetesan air mata, kering kerontang bagai padang pasir nan luas. Sakitnya begitu dahsyat hingga kita tak pernah tersadar bahwa kita pernah berbuat salah dan dosa. 

Beranjak dewasa dan harus memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri begitu sangat menyebalkan, begitu sangat membosankan, begitu menjijikan, begitu melelahkan dan semua kata serta kalimat yang tidak akan pernah kita suka dan membenci diri sendiri mengapa kita harus tumbuh dewasa. 

Apa lacur semua itu harus kita jalani, lebih dengan sifat kesatria dari pada jiwa yang busuk yang mati bergelantungan di bawah seutas tali di rumah rumah, di kamar kamar di pohon pohon yang sunyi sesunyi kisah hidup nya di masa itu. Terkadang sifat pengecut bukan lah sebuah kefatalan jalan yang dipilih, takut akan mati lebih menyakitkan namun memilih membunuh diri sendiri lebih dari kata pengecut nan tiada tempat untuk di maafkan. 

Manusia begitu rapuh dan sunyi, sombong serta tamak sekali. Semua yang memberatkan hidup hingga kita memilih jalan yang biadab adalah rentetan dari sekumpulan kesalahan yang kita pilih sendiri. Selalu ada jalan untuk merubah, selalu ada jalan untuk tersadar akan semua ini.

Kertas putih bersih nan polos tidak akan pernah berubah sampai kita mulai percikan tinta demi tinta di atas nya. Coretan dan garis yang semakin lama akan semakin memenuhi kertas tersebut hanyalah kita sendiri yang mampu dan mempunyai hak atas itu. 

Sebuah kesalahan akan mudah di hapus meski tidak mampu kembalikan sebersih seperti sediakala, namun yang pasti kita telah tau dan tersadar akan kesalahan yang telah kita perbuat dan merubah nya menjadi sebuah huruf demi huruf yang dapat di baca dan mengerti serta bermanfaat bagi seluruh isi alam ini.

Sebuah hal yang selalu jadi pilihan dan pembuktian bahwa kita adalah manusia seutuh nya yang tidak lah setangguh dongeng manusia super dalam komik dan film. Kita rapuh dan membutuhkan sesama serta bertumpu pada satu kemuliaan yaitu Tuhan.

MULIAKAN LAH HIDUP MU.
erick tan
Surabaya

maret 2014

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun