Mohon tunggu...
Endah Ros
Endah Ros Mohon Tunggu... Wiraswasta - Event Planner, Writer, Traveler

An event planner who love to write and travel. Most of the writing considered as non-fiction. Learn new things are the greatest thing to do ever. Always ready to empty the glass.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

FOMO di Kalangan Gen Z: Manfaat atau Mudharat?

10 September 2024   04:39 Diperbarui: 10 September 2024   04:43 110
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) semakin marak di era digital, terutama di kalangan Gen Z. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang sepenuhnya terhubung melalui teknologi. Dalam dunia ini, validasi, popularitas, dan aktualisasi diri seolah menjadi komponen utama dari kehidupan sehari-hari. Namun, apakah FOMO benar-benar perlu? Dan bagaimana kita seharusnya menyikapinya?

Apa Itu FOMO?

FOMO adalah perasaan cemas atau takut bahwa kita ketinggalan sesuatu yang penting—baik itu pengalaman sosial, informasi terbaru, atau tren yang sedang viral. Perasaan ini seringkali diperparah oleh media sosial, di mana kita melihat teman atau kenalan kita tampak selalu terlibat dalam kegiatan yang seru atau mengikuti tren terbaru. Akibatnya, kita merasa perlu untuk ikut serta, agar tidak merasa tertinggal atau dianggap tidak relevan.

Mengapa Gen Z Rentan Terhadap FOMO?

Gen Z tumbuh dalam era digital yang penuh dengan informasi instan dan akses tanpa batas ke kehidupan orang lain. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Twitter menjadi platform di mana mereka tidak hanya berinteraksi, tetapi juga membandingkan diri dengan orang lain. Dalam dunia ini, popularitas sering kali diukur dari jumlah like, komentar, atau pengikut. Tidak heran jika banyak dari mereka merasa bahwa mengikuti tren adalah suatu keharusan, karena itulah yang membentuk identitas sosial mereka.

Namun, perlu dipahami bahwa FOMO tidak selalu membawa dampak positif. Meski mengikuti tren dan isu terkini bisa membuat kita tetap relevan, terlalu larut dalam FOMO bisa mengganggu kesejahteraan mental. Oleh karena itu, penting untuk menyeimbangkan antara keinginan untuk terlibat dengan kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental.

FOMO yang Perlu Dilakukan: Mengikuti Isu-Isu yang Bermanfaat

FOMO tidak selalu buruk. Ada beberapa aspek di mana FOMO justru bisa memberikan manfaat. Misalnya, mengikuti perkembangan informasi terkait pendidikan, teknologi, atau peluang karier bisa membuka pintu bagi perkembangan diri. Dalam konteks ini, FOMO bisa membantu kita tetap update dan kompetitif di era yang terus berkembang.

Selain itu, mengikuti tren yang bersifat sosial dan inklusif juga bisa memperluas wawasan serta memperkuat jaringan sosial. Bergabung dalam gerakan sosial yang positif, misalnya, bisa memberikan kita kesempatan untuk berkontribusi pada perubahan yang lebih besar.

FOMO yang Tidak Perlu Dilakukan: Hindari Tren yang Menimbulkan Mudharat

Di sisi lain, ada aspek-aspek FOMO yang sebaiknya dihindari. Misalnya, tren yang bersifat konsumtif atau kompetitif tanpa tujuan yang jelas. Mengikuti tren fashion atau gadget terbaru hanya karena takut dianggap ketinggalan, bisa menguras energi dan keuangan tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan.

FOMO terhadap kehidupan orang lain di media sosial juga bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Rasa cemas, iri hati, atau minder karena membandingkan diri dengan orang lain bisa mengganggu keseimbangan emosional. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa apa yang kita lihat di media sosial sering kali hanya sebagian kecil dari kenyataan, dan tidak semua yang viral perlu kita ikuti.

Menghadapi FOMO: Bijak dalam Mengelola Media Sosial

Untuk menghadapi FOMO secara sehat, kita perlu bijak dalam mengelola waktu dan interaksi di media sosial. Batasi waktu yang dihabiskan untuk scrolling tanpa tujuan, dan pilihlah konten yang memang bermanfaat atau mendukung perkembangan diri. Selain itu, penting untuk selalu mengevaluasi alasan di balik keinginan untuk mengikuti tren. Apakah benar-benar bermanfaat, atau hanya sekadar untuk mengikuti arus?

Menciptakan jarak dari media sosial juga bisa membantu. Cobalah untuk sesekali melakukan "digital detox"—menghabiskan waktu tanpa gadget atau media sosial untuk mengembalikan fokus pada hal-hal yang lebih bermakna.

Menyikapi Teman yang FOMO Berlebihan

Jika kamu memiliki teman yang terjebak dalam FOMO, penting untuk bersikap empati namun tetap jujur. Bantu mereka melihat bahwa tidak semua tren perlu diikuti, dan ingatkan mereka bahwa tidak ada salahnya untuk sesekali tertinggal. Tawarkan aktivitas lain yang lebih positif dan membangun, yang tidak melibatkan perlombaan untuk tetap up-to-date di dunia maya.

Jadi intinya...

FOMO adalah fenomena yang tidak bisa dihindari di era digital, terutama di kalangan Generasi Z. Namun, penting untuk menyikapinya dengan bijak. Fokuslah pada tren dan isu yang membawa manfaat bagi perkembangan diri, dan hindari terjebak dalam perlombaan yang hanya menguras energi dan kesejahteraan mental. Ingatlah bahwa dalam dunia yang serba cepat ini, kita tetap berhak untuk memilih apa yang benar-benar penting dan bermakna dalam hidup kita.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun