Kewajaran itu menjadi sesuatu yang sulit diterima akal sehat ketika harus turut pula memfitnah. Padahal sebagai seseorang yang juga ditokohkan dalam Muhammadiyah, harusnya senantiasa menjaga lisannya. Bukan malah mengikuti arus euforia publik “menyerang” calon lawan. Sehingga harus gelap mata sruduk sana sruduk sini.
Singkat cerita, sebelum hari pencoblosan Pilpres, seorang AR pun bernazar. Karena nazar itu diucapkan dalam suasana persaingan antar kontestan Pilpres dan juga pendukungnya, maka kita sebut saja dengan istilah nazar politik. Apa nazar politik AR ketika itu? Ya, AR bernazar bahwa bila dalam Pilpres (lalu) Jokowi yang memenangkan pertarungan itu, maka ia akan bersedia melakukan “napak tilas” dengan berjalan kaki dari Yogyakarta sampai Jakarta.
Apakah setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan “memenangkan” Jokowi, sampai hari ini nazar politik AR itu sudah ia tunaikan? Wallahu a’lam. Yuk, mari kita tagih ramai-ramai, mengingat AR adalah seorang tokoh agama yang harus menjadi patron bagi umatnya.
Jangan sampai umat menilai seorang pemimpin (agama) harusnya digugu dan ditiru (menjadi role model) tapi malah bersikap culas, mencla mencle, ambigu, dan hipokrit. Antara lisan dan perbuatan tidak sejalan (paralel). Makanya sebelum berucap, ngukur diri dulu apakah dalam usia gaek seperti sekarang masih mampu berjalan kaki dalam ribuan kilometer. Akhirnya menjadi bahan guyonan. Kasihan!
Kedua, masih dalam suasana Pilpres kemarin. Tak mau kalah dengan AR, anak Raja Dangdut, Debby Rhoma Irama, juga melakukan nazar politik bombastis. Ia bernazar akan meninggalkan Jakarta dan kemudian berpindah Negara bila, seorang Jokowi yang pernah difitnah ayahnya tentang ke-Islaman orangtua Jokowi, memenangkan pertarungan melawan sang jenderal kancil di Pilpres (lalu).
Sebuah keberanian untuk bertaruh harga diri dan nama baik, bila kemudian nazar itu kemudian benar-benar terbukti. Meski harus melalui proses sidang perselisihan hasil pemilu umum (PHPU) di MK.
Kalau Debby ini tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Mengingat ia hanya mendompleng nama besarnya ayahnya, Rhoma Irama. Yang katanya musisi sekaligus pendakwah, tapi sayang setiap tausyiahnya cenderung bernada hasutan.
Tanpa memiliki data pendukung yang valid ia cenderung menyerang, dan akhirnya terbukti itu hanya berupa fitnah. Dan boleh ditanyakan kepada mereka yang mengklaim diri sebagai “pendakwah”, pasti sangat tahu seluk beluk hukum mengenai fitnah.
Ketiga, juga karena bawa perasaan (baper) suasana Pilpres, Ahmad Dhani (AD) tak mau kalah bertaruh. Melakukan nazar politik. Apa nazar politik AD? Katanya, ia bersedia melakukan “khittan” kedua bila Jokowi menang dalam Pilpres.
Tapi sayang, sampai kemudian menjelang Pilkada DKI untuk memperebutkan Jakarta 1, AD pun juga turun gelanggang, kembali berkoar-koar dengan membawa-bawa sentiment primordial, mengangkat isu SARA. Karena kepanikan tidak akan diusung oleh partai untuk maju di arena pertarungan Pilkada DKI 2017, maka AD mencoba kembali menarik perhatian public dengan isu primordial itu.
Maka mau tak mau, publikpun kembali disadarkan akan nazar politik yang pernah ia ucapkan. Apakah nazar politik itu telah ia tunaikan, sehingga tanpa malu-malu kucing AD menyerang seseorang warga negara yang secara konstitusional dijamin memiliki persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan dengan isu SARA?