[caption id="attachment_366887" align="aligncenter" width="576" caption="Ruang Workshop di hari terakhir"][/caption]
September kemarin cukup ceria buat saya seperti lagunya Panduwinata. Diawali dengan pameran lukisan di kantor imigrasi, dimana, karya sederhana saya juga diikutkan. Setelah itu, pertengahan bulan lalu, saya juga beruntung bisa ikut „summer course“ yang diselenggarakan oleh Fakultas kami, Fakultas Arsitektur.
.
Ceritanya, sehari sebelum dimulai summer course tersebut, secara tidak sengaja saya melihat pengumuman di page nya universitas yang mengundang para staff akademik serta mahasiswa universitas kami yang ingin mendengar seminar terbuka, karena kebetulan ada beberapa seminar yang dibuka untuk umum.
.
Tergerak hati meng-klik link tersebut dikarenakan tema yang ditawarkan cukup menarik yakni tentang “Smart City Concept”. Ya, topic terkait “urban planning” yang dibawakan saat itu memang perpaduan antara teknik sipil dan arsitektur, dimana dua-dua nya adalah bidang yang saya geluti belasan tahun terakhir. Sudah tua saya rupanya, oh...ternyata.
.
Lalu, saya pun mulai patah hati ketika saya meneruskan membaca programnya. Saya menyadari pembicara-pembicara yang didatangkan sangat bagus, mulai dari Jepang sampai UK dan yang pasti, dari dua universitas favorit saya sepanjang masa juga ada disana yaitu Harvard dan MIT. Gak kesampean kuliah di dua universitas dua jajaran teratas itu, setidaknya dengar pembicara dari sana jangan sampai terlewatkan jugalah.
.
Dan karena itulah, saya tak mau putus asa walau jelas-jelas sudah terpilih 19 orang peserta dari seantero yang melamar. Saya tetap nekat mengirimkan e-mail kepada universitas menyatakan bahwa saya ingin ikut program itu. Saya promosi diri semampu yang saya bisa, dan sebenarnya sedikit memaksa juga biar saya dikasi kesempatan. Haha. Berharap tipis memang walau latar belakang pendidikan saya mencakup teknik sipil dan arsitektur memenuhi syarat. Dan benar saja, respon pihak panitia hanya bilang bahwa saya boleh saja ikut seminar umum. Hiks. Kandas harapan saya saat itu. Mau tidak mau, saya harus terima karena itu kesalahan saya, tidak tau informasi dan memang tidak mencari juga.
.
Namun dua hari berlalu, saya dapat email lagi, yang menyatakan kalau Professor koordinator mengijinkan saya ikut summer course karena ada satu orang sudah pulang. Dan saat itu, saya diyakinkan bahwa dua hari sebelumnya baru pembukaan saja. Pengen loncat-loncat karena senang tapi saya keburu gugup lagi karena saya diminta gabung ke workshop Sabtu pagi, sementara saya baru baca emailnya Senin pagi. Oh! Berbalasan email sebentar, dan, YES! Lalu saya diminta datang langsung ke lokasi workshop Senin pagi itu.
.
Wow! Senang.
.
Ruang workshop sibuk dengan diskusi dengan sistim rotasi. Dan jujur, saat itu, saya merasa jauh dengan topik yang dibahas karena kebetulan bagian keseharian saya adalah desain struktur dan gempa (yang sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari konteks “smart city” yang dimaksud). Namun, ketika bergabung dengan para peserta yang terdiri dari 10 kandidat doktor, 5 doktor dan 3 Professor itu, keinginan saya untuk mengetahui tentang „smart city“ semakin meluas. Cukup bagus memang kriteria pemilihan kandidat peserta, dimana panitia tidak hanya memilih
peserta dari teknik sipil dan arsitektur, tapi juga dari latar belakang ekonomi, kimia, infomasi teknologi, phisikologi, dan beberapa jurusan lain.
[caption id="attachment_366888" align="aligncenter" width="576" caption="Salah satu teknologi yang diperkenalkan menuju smart city (kunjungan ke lab)"]
.
[caption id="attachment_366889" align="aligncenter" width="576" caption="Salah satu seminar keren favorit saya"]
.
[caption id="attachment_366890" align="aligncenter" width="576" caption="Topik keren lainnya yang dibawakan oleh MIT, bagaimana upaya New York mengatasi kemacetan (kamera saya grogi)"]
.
Dua minggu saja mengikuti summer course itu, tapi tidak bisa dipungkiri, bahwa setiap akhir hari
adalah saat yang sangat menyenangkan sekaligus melelahkan. Programnya sangat padat, ya, iyalah…mana mau pemerintah Jerman bayar mahal kalau tidak ada gunanya? Setiap hari, jadwal diskusi yang sangat intens, nara sumber yang bagus, seminar umum sekali dua hari, ditambah tugas-tugas kelompok dan pribadi.
.
Yang pasti, apa yang saya dapat selama 2 minggu itu, membuat saya merasa sungguh beruntung diberi kesempatan belajar di summer course tersebut. Dan sejak saat itu juga, keinginan saya menjadi bertambah, saya ingin belajar lebih banyak tentang konsep “smart city”. Dan berangkat dari ujung tombak dan penggerak „smart city“ itu sendiri, membidik dan mendidik manusia “smart people“ adalah modal utama, membangunkan keinginan saya yang lain menuju tujuan tersebut.
.
Oh ya, satu hal yang saya perhatikan saat itu, peserta selalu diminta sumbangan ide juga untuk setiap kasus yang dilontarkan, baik saat seminar, ataupun, ketika kunjugan industri. Jauh terselip di dalam hati saya, kapan pemerintah saya mengadakan program semacam ini? Tidak ada salahnya mendengarkan sumbangan ide dari program seperti ini, bukan? Jerman saja, mau dan terbuka, kenapa kita tidak? Eh. Koq maksa lagi, nama tengah saya ini, sih. Dan, sebenarnya, karena saya juga ingin ikutan lagi....:)
[caption id="attachment_366891" align="aligncenter" width="576" caption="Pertama kali masuk bar... haha. Selain acara yang padat, acara bersenang-senang juga diatur untuk peserta summer course"]
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H