Mohon tunggu...
Ema Nur Liana
Ema Nur Liana Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Al Faqir Ilallah

Mahasiswi IAIN Samarinda Program Studi : Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir '19 Instagram : @emanurliana_

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Musibahku Merupakan Pesan Cinta dari Rabb-ku

9 Mei 2020   14:44 Diperbarui: 9 Mei 2020   14:46 174
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sebagai hamba Allah yang beriman marilah kita panjatkan puji dan syukur atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, kesehatan lahir dan batin kepada kita semua.

Salawat dan salam tidak lupa kita kirimkan kepada junjungan kita nabi Allah Muhammad SAW yang telah mengantarkan umat manusia dari peradaaban hidup yang jahiliyah menuju pada peradaban hidup yang penuh dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti yang kita rasakan pada saat ini. Semoga kita semua termasuk ummatnya yang taat, yang berhak mendapatkan syafaatnya di hari akhir kelak. Aamiin

Saya al-faqir  mengajak diri sendiri dan teman-teman sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, mempertajam kesadaran ilahiah, dan mempertebal sikap berserah diri kepada Allah.

Sebagai manusia yang lemah dan tidak mempunyai daya upaya melainkan dengan Allah. Saat menjalani kehidupan di dunia, kerap kali kita mengalami masa-masa yang sulit, musibah serta kondisi dimana kita merasa dalam keadaan terpuruk. Manusia memang hidup dalam serba-dua kemungkinan. Tidak selamanya kita merasakan kebahagiaan dan begitupun sebaliknya, tidak selamanya kita berada pada zona terpuruk.

Saat ini dunia memang tengah mengalami berbagai musibah dan tak luput akan yang terjadi di Indonesia, mulai dari angin besar, banjir, tanah longsor, kecelakaan, dan yang saat ini sangat meresahkan dunia yaitu covid 19. Dari semua musibah ini, yang perlu kita sikapi adalah mengembalikan semuanya kepada Yang Maha Memiliki, yakni Allah subahanhu wata’ala. Jangankan musibah yang ada di bumi, bahkan seandainya seluruh langit dan seluruh alam semesta  diluluhlantakkan oleh Allah SWT, manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa. 

Dan sebagai manusia, kita juga harus bermuhasabah mengintrospeksi diri, apakah musibah yang kita alami saat ini merupakan bentuk ujian, peringatan, atau yang lain. Agar kita lebih berhati-hati dalam menjaga amanah alam ini. Allah berfirman dalam Surah Ar-rum ayat 41 yang artinya berbunyi :

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Pada kenyataannya kerusakan di bumi ataupun di langit terjadi karena ulah manusia itu sendiri,, tepatnya sebab kemaksiatan yang dilakukan. Kemaksiatan nya bukan hanya berbentuk melanggar larangan Allah atas “halal-haram” seperti minuman keras, berjudi, zina, atau sejenisnya. 

Kemaksiatan juga bisa berupa dosa atau kesalahan yang berkaitan dengan masyarakat dan lingkungan. Segala bentuk perbuatan merusak alam adalah kemaksiatan. Karena dengan merusak alam, secara tidak langsung telah mengurangi keseimbangan alam, dan akan menyebabkan masalah pada hari ini dan masa-masa yang akan datang.

Orang yang berilmu dan beriman akan menjadikan musibah sebagai momentum meningkatkan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah akan memberikan musibah/cobaan” (HR Bukhari). 

Segala musibah yang menimpa, menjadi penyebab untuk berdzikir dan mengintrospeksi diri, agar setiap musibah yang kita alami, kita dapat mengambil sisi positifnya serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. 

Bukan sebaliknya, saling menghujat dan saling menyalahkan antar sesama. Agar semua musibah yang menimpa justru menjadi alasan sebagai pembenahan terhadap diri dan lingkungan agar tercipta kehidupan yang lebih baik, aman, dan tenteram.

Hanya orang-orang yang sadar dan sabarlah yang akan meraih kebaikan tersebut. Musibah pun bisa memicu adanya mahabbah (rasa cinta). Kesabaran dan ikhlas dalam menerima musibah adalah cara Allah menghapuskan dosa-dosa.  

Seperti dalam hadits Rasulullah SAW. “Tidak ada yang menimpa seorang mukmin dari kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, hingga duri yang menusuk tubuhnya, kecuali Allah menghapus kesalahan-kesalahannya” (HR. Bukhari). Namun yang difokuskan dalam konteks musibah ini adalah kesabaran dalam menghadapinya. 

Apa pun bentuknya, musibah adalah sebuah cobaan dari Allah untuk makhluk-Nya yang di dalamnya mengandung maksud dan tujuan baik bagi yang menerimanya. Tinggal bagaimana menyikapinya apakah dengan sabar atau justru ingkar.

Jadi, musibah adalah sarana untuk mengingat sang pemberi musibah, upaya untuk meningkatkan kualitas keimanan, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada Allah setelah merasakan kenikmatan di balik musibah yang menimpanya. Mahasuci Allah yang senantiasa memberikan yang terbaik untuk makhluk-Nya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu menyikapi segala musibah sebagai sarana peningkatan iman dan takwa. Aamiin

Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan, yang benar hanya dari Allah Ta’ala dan yang salah hanya dari saya semata yang lemah dan  penuh akan kekurangan. Wallahu a’lam bish shawab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun