Dan kengerian yang disuguhkan inilah yang akhirnya menjadi daya tarik tersendiri bagi penayangan film Child's Play ini.
Bobot Timbang antara Sadisme dan Pesan Moral yang Ingin Disampaikan dalam Film Child's Play 2019
Pada film terbaru Child's Play 2019, yang notabene adalah hasil remake film yang sama di tahun 1988, di awal menikmati tayangannya, saya sempat bertanya-tanya dalam hati. Apa yang bisa saya peroleh usai menonton film horor ini nanti? Apakah film ini sekadar menampilkan kecanggihan efek-efek sinematografi era milenial sebagai hiburan semata?
Ternyata tidak. Di kisaran menit-menit kesekian, ketika tokoh Karen bercakap-cakap dengan anaknya, Andy, saya menemukan nyaris semua jawabannya. Kiranya dari sinilah, dari percakapan antara ibu dan anak itulah sebenarnya pesan moral film tersebut perlahan mulai disampaikan.
Saya narasikan adegan singkatnya di sini, ya.Â
Karen adalah seorang ibu tunggal yang sibuk bekerja sehingga nyaris tidak memiliki waktu untuk menemani anak semata wayangnya yang memiliki keterbatasan pada pendengarannya. Andy pun merasa kesepian dan menghabiskan waktunya di kamar dengan berbicara sendiri atau bermain dengan tokoh-tokoh kartun imajinasinya.
Dalam percakapan hari itu Karen meminta Andy untuk keluar rumah menemui teman-teman sebayanya. Karen juga menjanjikan akan membelikan hadiah mainan untuk Andy pada perayaan ulang tahunnya nanti agar anaknya itu tidak kesepian di rumah.
Sebuah potret kejadian sehari-hari yang sekilas tampak sepele. Seorang ibu yang sibuk dan seorang anak yang kesepian.
Tidak terhitung.
Pesan moral itulah kiranya yang hendak disampaikan oleh para pesohor dunia perfilman di Amerika sana melalui film Child's Play ini.
Terlepas dari adegan sadisme yang mengiringi adegan demi adegan di sepanjang tayangan film ini, ada satu hal yang patut direnungkan. Semoga usai menonton film ini Anda sependapat dengan saya.