Usai sudah perbincangan senja itu. Awan merah dan kerling mentari menjadi saksi bisu.
***
Langit kian temaram. Sedetik sebelum pergi, kau bergumam," jangan jatuh cinta lagi padaku, ya..."
Wajah garangmu melembut. Selintas mengangguk. Anggun. Hidmat. Bagai ksatria menang berlaga. Gagah. Langkahmu mengayun menembus batas waktu.
***
Laki-laki itu, aku memanggilnya Che. Seorang kembara yang melintas dan tersesat di dimensi waktu. Kini ia harus kembali tanpa bisa kucegah. Bersama senja merah saga ia pergi membawa separuh hati. Tinggalkan aku dalam labirin hening dan halimun sepi.
Geming. Air mata pun luruh.
Duh, Gusti, sulit nian mengurai pikat....
Ah, Che, baiklah, aku mengaku kalah.
Kau telah meluluh lantakkan rasaku. Memporak porandakan tatanan batinku.
Che....