DALAM beberapa hari terakhir, Negara Amerika Serikat (AS) terus memanas. Negeri Paman Sam ini tengah dihadapkan dengan aksi demo besar-besaran warga masyarakatnya hingga menjurus ke penjarahan dan perusakan.
Hal tersebut di atas dipicu oleh terjadinya peristiwa pembunuhan oleh salah seorang aparat kepolisian Kota Minneapolis terhadap salah seorang warga kulit hitam yang bernama George Floyd.
Floyd menghembuskan nafas terakhirnya setelah mendapatkan penganiayaan denyan cara lehernya ditekan oleh lutut oknum polisi dimaksud.
Terang saja, kematian Floyd di tangan polisi ini pun memicu kemarahan publik, khususnya warga kulit hitam. Mereka turun ke jalan dan bentrok dengan polisi hingga akhirnya meluas ke hampir seluruh AS.
Bahkan tak hanya itu, mereka pun menjarah toko-toko dan membakarnya. Situasi ini membuat AS benar-benar mencekam dan memanas. Karena tidak hanya sebatas meminta keadilan atas meninggalnya Floyd, namun juga mendemo tentang masih adanya isu rasisme. Padahal, AS terkenal sebagai negara dengan tingkat demokrasi tinggi.
Bahkan yang turut turun ke jalan untuk menggelar aksi demo ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat sipil biasa, beberapa publik figur pun tak ketinggalan. Sebut saja diantaranya adalah beberapa atlit bola basket Liga profesional Amerika Serikat (NBA). Seperti, Enes Kanter (Bolton Celtic) dan Lonzo Ball (New Orleans).
Hal ini boleh jadi menandakan bahwa peristiwa pembunuhan George Floyd dan isu rasisme di Negara yang dipimpin oleh Donald Trump ini adalah masalah yang sangat serius sehingga mendapatkan perhatian lebih dari para publik figur dimaksud.
Trump Perintahkan Halau Para Pendemo
Mungkin karena merasa para pendemo yang menuntut keadilan atas terbunuhnya George Floyd berikut demo isu rasisme ini akan membahayakan bagi kondusifitas keamanan negaranya, Presiden Trump pun dengan tegas memerintahkan aparat keamanan, dari pihak tentara dan kepolisian untuk menghalau demonstran.
Namun demikian, keputusan Trump ini kurang disetujui bahkan ditolak oleh para pejabat yang berada di bawahnya. Karena hal tersebut hanya akan lebih memperkeruh suasana dan berpotensi makin masifnya penyebaran virus corona di AS.
Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat sejauh ini adalah negara yang terkena dampak paling parah oleh ganasnya penyebaran pandemi covid-19. Tak kurang dari satu jiwa penduduknya terkomfirmasi positif oleh virus asal Wuhan, China tersebut, dengan kurang lebih 100 ribu diantaranya meninggal dunia.
Seperti halnya terjadi di negara-negara lainnya yang terkena dampak virus corona, negara seadidaya Amerika Serikatpun tak kuasa mempertahankan apalagi meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Sebaliknya, malah terpuruk.
Bahkan, ada anggapan dari Gubernur Illinois, J.B Pritzker, bahwa keputusan Trump untuk memerintahkan aparat keamanannya untuk mengahalau demonstran hanya akal-akalan dirinya untuk mengalihkan isu atas kegagalannya menangani pandemi covid-19.
"Dia ingin mengubah topik pembicaraan dari kegagalannya mengatasi virus corona, kegagalan yang menyedihkan dan sekarang melihat saat kerusuhan karena ketidakadilan yang dilakukan pada George Floyd sehingga ingin membuat topik lain," ujarnya. Dikutip dari CNNIndonesia.
Masih dikutip CNNIndonesia, Pritzker mengatakan Trump harusnya melakukan pendekatan untuk menghadapi demonstran yang menggelar aksi di luar Gedung Putih.
Bagaimana Peluang Trump?
Jika tidak terjadi perubahan jadwal, pemilihan presiden di Amerika Serikat akan dilaksanakan pada di penghujung tahun 2020 mendatang.
Sebagai petahana, sejatinya Trump memiliki peluang cukup besar agar terpilih kembali jadi presiden untuk kedua kalinya. Rencananya pada Pilpres mendatang, pengusaha property ini akan ditantang oleh Joe Biden dari Partai Demokrat.
Hanya saja dengan adanya pandemi covid-19 dan kerusuhan di hampir seluruh kota di Amerika Serikat bukan tidak mungkin akan mengganggu elektabilitas dirinya.
Apalagi, karena masif dan banyaknya kasus positif dan korban meninggal akibat virus corona yang berdampak pada terpuruknya ekonomi, tak sedikit yang menuding diakibatkan oleh sikap Trump yang awalnya menganggap remeh virus tersebut hingga akhirnya tidak bisa diantisifasi dengan baik.
Terus lagi, dengan adanya kerusuhan, menurut hemat penulis setidaknya akan menimbulkan tantangan serius dan sedikit mengganggu persiapan dirinya dalam menyiapkan agenda kampanye menuju AS 1 yang akan dimulai November mendatang.
Bahkan seperti dikutip dari matamatapolitik.com, analis politik, Timothy J Lynch menulis di The Conversation bahwa titik nyala terbaru dalam politik rasial Amerika membuat kampanye presiden ini berpotensi menjadi salah satu yang paling memicu kerusuhan dalam sejarah.
Menurutnya, pandemi covid-19 dan Minneapolis mungkin membentuk perhubungan di mana kampanye 2020 akan terungkap.
Masih dikutip Matamatapolitik, sebagai petahana, Trump tentu saja menghadapi tantangan paling nyata. Belum pernah sejak Franklin Roosevelt dalam Perang Dunia II, seorang Presiden AS memimpin kematian begitu banyak orang Amerika karena satu sebab.
Kekuatan Poros dan covid-19 tidak analog, tetapi setiap kepresidenan dinilai berdasarkan kemampuannya untuk merespons musuh seperti ini.
Salam
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI