Mohon tunggu...
eko yulipriharyanti
eko yulipriharyanti Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wiraswasta

Membaca, berkebun dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Elang Jawa Riwayatmu Kini

16 Desember 2024   11:32 Diperbarui: 16 Desember 2024   11:32 21
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Birokrasi. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Hari itu aku sedang berlibur di rumah kakekku. Suasana pagi masih agak gelap, ketika kubuka jendela kamar udara perbukitan yang sejuk dan wangi menyeruak masuk memenuhi ruangan. 

Rumah kakekku terletak di sebuah desa termasuk dalam kecamatan Purwantoro kabupaten Wonogiri. Desa terpencil di sekitar perbukitan Cumbri yang terkenal sebagai tempat pendakian karena pemandangannya yang menakjubkan, sepupuku yang pernah mendaki bukit Cumbri mengatakan bila saat cuaca cerah dari puncak bukit pendaki bisa melihat keindahan matahari terbit dan terbenam. Sementara itu, sisi selatan menyajikan pemandangan Pegunungan Seribu yang memanjang dari barat ke timur. Sisi timur menyajikan hamparan perbukitan yang menakjubkan.

Di desa terpencil ini, walaupun tanahnya tidak subur berbatu dan bertanah merah. Namun penduduknya rajin menanami halaman rumah dan kebunnya dengan aneka palawija dan sayur-sayuran, mereka juga menanam pohon pelindung dan buah-buahan.

Matahari mulai menunjukkan senyumnya yang hangat. Hamburan sinarnya merambah ke segala penjuru desa. Alam desa menjadi lebih terang dan hangat. Setelah selesai sarapan, bibiku mengajak aku dan dua sepupuku untuk memanen jambu Mete di kebun milik kakekku yang letaknya agak jauh dari rumah, kami meluncur ke kebun dengan menggunakan sepeda motor. Jalan menuju kebun agak terjal, jadi kami harus berhati-hati. 

Sekitar sepuluh menit kemudian kami tiba di kebun. Nampak pohon-pohon jambu Mete dengan buahnya yang ranum bergelantungan, tercium wangi harum buah Mete yang masak merebak ke seluruh penjuru kebun. Di pojok-pojok kebun terdapat beberapa pohon mahoni yang tinggi dan besar. Secara kebetulan aku melihat seekor burung elang Jawa yang populer disebut burung Garuda, bertubuh sedang dan langsing, dengan panjang tubuhnya kira-kira kurang dari 70 cm, kepala berwarna cokelat kemerahan dengan jambul tinggi menonjol berwarna hitam dengan ujung putih, punggung dan sayap cokelat gelap, warna ekor kecokelatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang. ia sedang bertengger di puncak salah satu pohon mahoni. Aku terkesima sejenak, betapa beruntungnya aku bisa melihat burung langka yang hampir punah.    

Dikutip dari media online, elang Jawa (Nisaetus bartelsi) merupakan spesies dari keluarga Accipitridae dan genus Nisaetus yang merupakan endemik di Pulau Jawa. Burung ini masuk ke dalam daftar merah Badan Konservasi Dunia (IUCN), termasuk dalam status terancam punah. Pemerintah Indonesia juga menetapkan elang Jawa sebagai satwa yang dilindungi oleh undang-undang.

Pada 2018 populasinya tinggal 188 pasang. Persebaran populasi elang Jawa itu mulai dari Taman Nasional Ujung Kulon di Banten hingga Taman Nasional Alas Purwo di Jawa Timur. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia. elang Jawa kini hanya terlihat di wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.

Aku tertegun ketika mendengar elang Jawa bernyanyi menyambut pagi suaranya nyaring dan bernada tinggi, berulang-ulang, terdengar bervariasi hingga tiga suku kata kemudian beralih bunyi bernada tinggi dan cepat. Lalu kuarahkan kamera ponselku ke arah burung legendaris itu.

Bibiku yang juga sebagai guru SMP negeri, ikut mengabadikan burung langka tersebut dengan ponselnya. Saat elang Jawa itu sadar bila dia sedang di kamera maka dia pun terbang meninggalkan kami dengan kepakan sayapnya yang mengagumkan burung langka itu pun terbang melayang ke langit biru dan menghilang di balik awan-awan. 

Aku terheran-heran mengapa burung langka itu bisa ada di kebun kakek, yang aku tahu elang Jawa tidak suka keramaian, dia suka pohon-pohon yang tinggi dalam hutan. Kemudian bibiku menjelaskan elang Jawa mampir ke desa untuk mencari makan karena orang desa suka melepas ayam-ayam mereka di kebun dan halaman rumah, selain itu di kebun buah biasanya banyak terdapat hewan buruannya seperti pelbagai jenis reptil, burung-burung kecil. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, yang lebih mudah diburu daripada hewan mangsanya yang ada di hutan. Selain sebagai pemangsa elang Jawa juga sebagai pengontrol hewan hama seperti tikus di alam liar. 

Dalam artikel Nationalgeographic.co.id Predikat yang disematkan kepada elang Jawa sebagai burung pemangsa, itu menandakan peranannya sebagai bioindikator, artinya menurut ilmuwan elang Jawa juga menjadi petunjuk penting akan kondisi kesehatan suatu ekosistem, karena berkontribusi dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan ketahanan habitat

Bibiku juga bercerita ketika dia masih kecil sekitar tahun 70-an jumlah elang Jawa yang mampir ke desa cukup banyak bahkan mereka juga memakan keripik ketan yang biasa disebut rengginang yang sedang di jemur. Namun kini mereka sangat jarang mampir ke desa karena jumlahnya yang berkurang jauh.

Salah satu penyebab punahnya elang Jawa, mereka hanya bertelur satu butir saja dan bersarang di pohon yang tinggi. Sarang berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat di cabang pohon setinggi 20-30 di atas tanah. Mereka mengerami telurnya selama 47 hari.

Ketika berkurangnya jumlah pohon tinggi di hutan bahkan ada sebagian yang punah, akibat dari pembalakan liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian, sehingga menyebabkan menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa. Maka hal ini menjadi ancaman besar terhadap kelestarian populasi elang Jawa. 

Tidak hanya itu, elang Jawa juga terus diburu orang untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai hewan peliharaan, adikku pernah melihat ada elang Jawa dijual di pasar burung Jakarta. Karena kelangkaannya, memelihara burung ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, dan pada gilirannya menjadikan harga burung ini melambung tinggi.

Dalam pencegahan menurunnya jumlah populasi elang Jawa, dibutuhkan kerjasama antara pemerintah dan berbagai komponen yang terdapat pada masyarakat. Agar dapat melakukan tindakan menghentikan atau mencegah perburuan liar. Selain itu juga melakukan perlindungan habitat hutan primer di Jawa yang kini tidak luas lagi. Hutan primer sangat penting bagi elang Jawa supaya bisa berkembang biak dengan sukses.

Dikutip dari Nationalgeographic.co.id. Penelitian yang dipimpin oleh Syartinilia dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) melaporkan terdapat beberapa bidang hutan primer yang dihuni oleh elang Jawa dan sarangnya. Hal itu menandakan bahwa konservasi elang Jawa masih berlangsung. Ditemukan pula pertumbuhan populasi yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Syartinilia dan tim berpendapat, hutan primer yang luas dan menjadi habitat elang jawa sangat membantu dalam berkembang biak. Elang Jawa pun dapat beradaptasi pada petak lahan hutan berukuran kecil.

note 

Sumber penulis: Pengalaman pribadi, media online, Nation

algeographic.co.id

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun