Menggali Makna Kembali: Budaya, Agama, dan Keadilan di Negara Kita
Puisi: Bintar Junaedie DeeÂ
Sungguh miris negeriku....
Budaya tidak lagi beraroma keagunganÂ
Melainkan kepentingan
Agama tidak lagi menyuarakan spiritualitas
tanpa jati diriÂ
dan hanya selebrasi kekuatan semata
Kemanusiaan tinggal di bibir semata
yang kapan saja siap nego masalah harga
Keadilan merana diperkosa
Kepada siapa dia ada ....
Jutaan mata buta menganga
Kaki dan tangan tangan terantai tak berdaya
Saksikan SANG PAHLAWAN tak berdaya
Dikerjain maraknya angkara
Seolah tuan kebenaran , memuakan
Duh pertiwi....
Ampunkan kebodohanku
Dungunya aku melewatkan sang waktu
Dalam gurat kegelisahan dan kekecewaan yang terpancar dari bait-bait puisi di atas, keadaan sosial dan budaya yang memprihatinkan di negara kita tercermin jelas.Â
Semakin terhampar lah pemandangan pahit akan realitas yang tak selalu manis, yang terkadang membuat hati remuk dan jiwa tergoncang.Â
Namun, di tengah-tengah kepahitan itu, ada ruang untuk introspeksi dan perubahan. Mari kita menjelajahi lebih dalam tentang dinamika budaya, agama, kemanusiaan, dan keadilan yang menjadi landasan dari ungkapan lirik di atas.
1. Budaya: Dari Keagungan ke Kepentingan
Budaya adalah warisan keluhuran dan keelokan yang seharusnya menjadi sumber kebanggaan dan identitas bermasyarakat. Namun, mengapa kemudian budaya kita terlihat lebih mencerminkan kepentingan ketimbang keagungan?Â
Fenomena ini mungkin terkait dengan perubahan nilai dan orientasi masyarakat yang semakin materialistis dan individualistik.Â
Globalisasi dan modernisasi membawa arus perubahan yang tidak selalu positif dalam pemahaman dan penghayatan terhadap budaya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memperkuat lagi nilai-nilai luhur dalam budaya kita agar tidak hilang di tengah arus perubahan zaman.
2. Agama: Mencari Kembali Spiritualitas dan Jati Diri
Agama seharusnya menjadi sumber spiritualitas dan pedoman hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Namun, ketika agama hanya dijadikan sebagai alat untuk mendukung kekuasaan dan melupakan esensi spiritualitasnya, maka jati diri agama pun menjadi kabur.
Penting bagi umat beragama untuk kembali pada akar nilai-nilai yang sejati, merangkul kasih, perdamaian, dan kebaikan sebagai landasan dari praktik beragama yang sejati.
3. Kemanusiaan: Mencari Kembali Makna Solidaritas dan Empati
Kemanusiaan seringkali terpinggirkan oleh keserakahan dan ambisi yang membutakan mata dan hati. Solidaritas dan empati, sebagai pilar utama dalam menjaga kemanusiaan, seringkali dilupakan di tengah perjalanan.Â
Manusia menjadi terlalu fokus pada dirinya sendiri tanpa memedulikan sesama. Inilah saatnya untuk meresapi kembali makna sejati dari kemanusiaan, untuk saling menguatkan dan mendukung sebagai satu kesatuan sosial yang utuh.
4. Keadilan: Menegakkan Keadilan demi Kesejahteraan Bersama
Keadilan yang menjadi penjuru harapan bagi setiap individu haruslah ditegakkan dengan adil dan tanpa pandang bulu. Namun, realitas seringkali menunjukkan sebaliknya, di mana keadilan merana diperkosa oleh kepentingan dan kekuasaan yang tidak berpihak pada kebenaran.
Perjuangan menegakkan keadilan harus terus dilakukan, seiring dengan kesadaran kolektif bahwa keadilan adalah pondasi utama bagi terwujudnya masyarakat yang adil dan harmonis.
5. Memperkuat Karakter Bangsa dalam Menghadapi Rintangan
Dalam menghadapi berbagai rintangan dan tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini, penting untuk memperkuat karakter kolektif yang mampu mengatasi segala kesulitan.
Memiliki semangat persatuan dan gotong royong, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan, adalah kunci untuk mengubah dan memperbaiki kondisi yang ada.Â
Duhai pertiwi, ampunilah kebodohan dan kelalaian kita, sehingga kita dapat bersama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih bermartabat dan sejahtera.
Kesimpulan
Melalui refleksi mendalam terhadap budaya, agama, kemanusiaan, keadilan, dan karakter bangsa, kita dihadapkan pada panggilan untuk bangkit dan mengubah arah perjalanan menuju kebaikan dan keadilan.
Duhai negeriku, dalam keraguan dan kegelisahan, mari kita bersatu tangan demi membangun masa depan yang lebih baik, yang menghormati warisan nenek moyang dan mewariskan kebaikan kepada generasi mendatang.Â
Ampuni kekhilafan dan teruslah berjuang untuk meraih keagungan sejati. Semoga cahaya kebenaran senantiasa menyinari jalan kita.
Batu, 1212025
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H