Jane mulai meraba pikiran dan hati suami tercintanya. Ada apa dengan Mei yang tak biasa banyak bicara tapi sangat mudah dideteksi saat dirinya gembira, bahagia, tanpa beban, lega dan senang. Demikian pula sebaliknya warna raut muka sangat kentara jika hatinya sedang sedih, kecewa, marah dan patah semangat.
"Ada apa dengan mas Mei?" demikian lamunan Jane selama di kantornya.
"Apa dia marah padaku?", Jane masih melanjutkan rabaan hatinya.
Beberapa pekan ada warna baru yang ganjil dalam kehidupan mereka yang cukup mengganggu. Keduanya pun seakan menjalaninya dengan kewajaran. Namun ganjalan hati mereka terus menuntut penyelesaian.Â
Makin lama dipendam makin tidak mudah diselesaikan. Lisan mereka masih bertegur sapa secara wajar namun terasa tidak tandas untuk sampai dataran rasa yang diinginkan.
"Ya Allah tolonglah hamba" desah Jane dalam hati.
Jane paling tidak tahan jika menyaksikan orang yang paling dicintainya menderita. Belum lagi menurut rabaannya jika penyebab deritanya adalah dirinya. Jane sulit mengartikan perasaan dirinya hingga bisanya meneteskan air mata.
Ia berjanji akan mencari momen terbaik untuk bicara dari hati ke hati dengan suaminya. Ia ingin sekali bisa berbicara dari lubuk hati yang paling dalam. Harapannya sang suami tercintanya juga bersedia mengutarakan isi hatinya yang terdalam.
Siang itu puasa terakhir bulan Ramadan. Dengan begitu malam nanti adalah takbiran. Tiba-tiba terlintas ide dengan malam lebaran itu. Ia kemudian menetapkan hati untuk menuntaskan semua kekesalan hati suaminya.
Azan magrib berkumandang seperti biasanya Jane telah menyiapkan hidangan buka puasa untuk suami tercintanya. Berdua menikmati nasi lauk gurame bakar bumbu asam manis buatan Jane.
Habis merapalkan doa bakda jamaah shalat Maghrib dengan sigap memeluk suaminya sambil sesenggukan memohon maaf.